
Suasana malam di sebuah pusat perbelanjaan bilangan Senayan sangat ramai. Mungkin karena cuaca begitu cerah setelah sebelumnya beberapa hari ini udara Jakarta selalu di selimuti mendung, dan curah hujan yang cukup tinggi, jadi orang - orang pun memanfaatkan waktu untuk pergi keluar mencari hiburan.
Begitu pun halnya dengan Restu. Setelah acara sesi pemotretan keluarga selesai, dia yang tadinya ingin mengantarkan Farada pulang, lalu mengajak gadisnya itu mampir dulu di Senayan City, hanya sekedar melonggarkan pikiran yang tadinya sempat ada ketegangan di waktu pemotretan.
"Mas, apa kita nggak langsung pulang aja?" Usul Farada saat Restu mengajaknya ke Mal yang sangat di gandrungi anak - anak muda tersebut. Momen pembicaraan antara Molan dan Tuan Erick tadi masih terngiang dan entah mengapa perkataan Molan membuat hati Farada bergetar. Rasa bimbang kian menyelimuti pikirannya. Bimbang dengan keputusannya sendiri tapi faktanya dia sebentar lagi akan menikah. Sekarang yang dibutuhkan adalah menenangkan otaknya, pulang dan tidur. Berharap esok hari pikiran kembali menjadi jernih. Sesuai dengan perintah Tuan Besar Erick, Mulai hari esok adalah hari - hari yang menguras energi bagi Farada. Mereka harus segera melakukan persiapan pernikahan, mulai dari fitting baju serta harus berurusan dengan Wedding Organizer yang telah di tunjuk, kalau urusan gedung mereka tak perlu pusing memikirkan. Bukankah Tuan Besar sudah memerintahkan semua perangkat untuk mempersiapkan ballroom mereka sendiri?
Tapi,
"Sebentar aja, ada sesuatu yang mau saya beli." Farada akhirnya manut saja mendengar jawaban Restu yang kemudian membelokkan setir mobil memasuki pintu parkir mal tersebut.
Setelah memarkirkan kendaraannya, mereka berdua naik ke lantai atas melewati area jejeran restoran - restoran yang sebagian pengunjung yang datang, itu merupakan tempat utama yang di tuju. Tempatnya yang sangat bagus berada di lantai dasar mal hingga malam ini sangat ramai terlihat.
Farada berusaha mengimbangi langkah kaki Restu yang lebar - lebar, beberapa kali dia sedikit tertinggal hingga dia tak tahan, dan menggerutu, "Mas, pelan - pelan dong jalannya, pegal kaki aku ngikutin kamu."
Restu menoleh, gadisnya sedikit terlihat tertinggal, "Ah! Kamu ini jalannya." Cuma itu yang dikatakannya menanggapi gerutuan calon istrinya tersebut. Farada berhenti melangkah, dia sedikit gusar dengan jawaban Restu yang tak ada kata - kata romantisnya itu. Walau pria yang akan menjadi suaminya itu memelankan langkah menunggunya.
"Mas, kamu...sebenarnya cinta nggak sih sama aku?" tanya Farada melepaskan sesak di dada. Hal yang belakangan ini sering menjadi pertanyaan dalam hati, karena pria itu tak pernah sekalipun mengungkapkan perasaan terhadapnya. Apa itu? menyebut dirinya aja kalo ngomong masih pake, saya?
Restu terhenti mendengar Farada bicara dengan intonasi sedikit naik. Ini bukan saat yang tepat untuk bertanya hal yang berbau romantis seperti itu ditengah keramaian seperti ini, "Kita sudah terlambat, sebentar lagi mungkin tokonya akan tutup," jawab Restu datar mengalihkan pembicaraan dan kemudian meneruskan langkahnya kembali.
Farada berdecak sebal tapi akhirnya mengikuti juga langkah Restu yang sudah sedikit melambat. Sekarang dalam pikirannya, mereka ini mau kemana?
Mereka sampai di sebuah gerai toko permata, yang menjual berlian dengan harga yang sangat fantastis. Restu kemudian mengajak Farada masuk dan mereka pun di sambut oleh SPG toko dengan ramah.
"Silahkan Pak, kami sedang ada promo diskon khusus untuk beberapa model tertentu sampai dengan 5 persen."
"Yang model - model cincin, dimana?"
"Di bagian sana, Pak." SPG tersebut lalu beringsut ke etalase tempat berlian yang khusus model untuk cincin, "ini...ada model Round Shape, model bundar yang merupakan andalan kami, karena modelnya oke punya, bahkan bentuk ini 75 persennya mendominasi penjualan berlian di seluruh dunia lho!" ujar sang pelayan toko menerangkan, lalu dia melanjutkan promosi ke model lain, "dan ini, lebih digandrungi oleh para wanita, cocok untuk hadiah perkawinan atau untk pertunangan, Fancy Shape Diamond. Model persegi ini disebut juga model Princess."
Restu berbisik ke Farada menanyakan mana yang dia mau. Gadis itu semula terperanjat atas surprise yang dilakukan Restu, ternyata dia mengajaknya ke toko berlian dan membelikan barang mewah itu untuk dirinya. Farada ingin menolak tetapi dia harus menjaga perasaan calon suami nya itu di depan pelayan toko. Dia cuma menyesali mengapa Restu tidak membicarakannya terlebih dahulu sebelum kesini.
"Aku terserah kamu aja, Mas." Farada menjawab pasrah walau bukan itu yang akan dikatakannya.
Selang tak berapa lama, Restu pun memilih berlian berbentuk bundar kemudian menyelesaikan pembayaran berlian tersebut dan mengajak selanjutnya untuk makan di lantai bawah, sebab di mansion acara makan malam jadi batal oleh percekcokan kecil di waktu pemotretan tadi. Kali ini Farada langsung menolaknya, "Nggak usah Mas, kita langsung pulang aja ya. Aku ngantuk banget," imbuhnya dengan tatapan memohon bercampur kikuk karena melakukan penolakan, hal yang seingatnya belum pernah dia lakukan terhadap Restu.
"Ya sudah kalau gitu, kita pulang aja." Restu mengangguk dan segera berjalan keluar.
Tiba - tiba...
"Res?" Restu langsung menoleh ke belakang, dia terkejut.
***
Di tempat lain...
Molan memilih caranya sendiri untuk menata hatinya yang remuk atas kejadian di mansion. Molan pergi ke sebuah tempat pedagang kaki lima yang menjual makanan di bilangan Mahakam di daerah Blok M, Jakarta Selatan. Dimana, disana terdapat berbagai macam kafe serta tongkrongan anak - anak muda di belakang sebuah mal, Molan memilih untuk duduk lesehan memakan gulai, pedagang gulai yang mendapat julukan sebagai penjual gulai tikungan atau gultik.
Dia makan sambil otaknya tak berhenti berpikir.
Dia tak menduga sama sekali bahwa Farada akan ikut serta dalam rencana Papanya tersebut. Dia bukan lelaki cengeng sebenarnya, dia akan dan sedang berjuang untuk menerima takdir bahwa sekarang dirinya mempunyai seorang Ibu dan Kakak. Kakak? Menyebut kata itu dia tersenyum miris, seseorang yang akan menjadi bagian dari keluarga sekaligus pesaing seumur hidup baginya.
Baiklah! Ibu Soraya dan Restu mungkin dia masih bisa terima suatu hari nanti, karena memang faktanya seperti itu.
Tapi, Farada? Dia tak yakin akan bisa.
Molan gelengkan kepala beberapa kali untuk menepis pikirannya yang makin melebar. Mungkin jika ada yang melihatnya, orang akan berpikir dia orang gila yang berpakaian necis, atau...tepatnya orang stres! Yang terkadang menganggukan kepala dan gelengkan kepala. Tapi apa pedulinya? Toh mereka tak merasakan apa yang dia rasakan, bukan?
Dia mencoba untuk fokus dengan mengedarkan pandangan ke segala arah, menyadari bahwa dia tidak berada sendirian disitu. Tiba - tiba ponselnya bergetar, dia meraih handphone yang berada dalam kantung celana.
Sitta Angelina.
Aishh...perempuan itu! Gerutu Molan sambil meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja lesehan. Tapi, ponselnya kembali berdering. Dari pada berisik, akhirnya dia terima juga dan memberitahu posisinya ada dimana. Dan, ternyata pun Sita sedang tak jauh berada dari lokasi itu. Cuma beberapa menit, katanya. Sekali lagi, Apa pedulinya?
Setelah itu, pandangannya kembali fokus ke depan, kali ini tertuju pada seorang pengamen jalanan yang ternyata sudah ada di hadapannya dengan yang berpakaian rapi dan langsung memainkan perannya membawakan sebuah lagu yang dia baru ketahui judulnya, setelah lagu itu selesai di nyanyikan.
Awalnya dia cuma ingin mendengarkannya saja sambil menunggu pengamen itu selesai bernyanyi lalu memberi sejumlah uang yang Ia siapkan. Tapi, ketika lirik lagu yang dia dengarkan sampai di kata - kata...
Mungkin suatu saat nanti, kau pun akan mengerti. Bahwa, cinta memang tak mesti harus bersama.
Lupakan... aku, jangan pernah kau harapkan cinta yang indah dariku. Lupakan...aku, kupunya cinta lain yang tak bisa untuk ku tinggalkan.
Kerongkongan Molan seperti tercekat. Ya Tuhan! Pengamen itu merangkap peramalkah? Hingga tahu apa yang sedang sedang terjadi itu mirip lirik lagu itu? Atau karena mukanya yang terkesan kusut, terlihat galau jadi mudah terbaca?
"Mas, itu...judul lagunya apa ya?" tanya Molan tertarik dengan lagu itu sambil menyerahkan dua lembar uang nominal seratus ribu. Pengamen dengan wajah sumringah menjawab, "Judulnya...Cinta Yang Lain, dari grup band terkenal, U*gu!"
Molan manggut - manggut dengar tuturan pengamen itu, setelah ini dia berniat akan mendownload lagu yang menurutnya bisa dijadikan inspirasi untuk move on.
"Kak! Kok disini sendirian, ngapain?" Molan mendongak melihat ke samping.
"Eh, Sita...cuma iseng!" Molan mengusap tengkuknya yang tidak gatal, Ia menggerutu dalam hati.