Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Aku jauhi, kau malah mendekat!


Molan kali ini mengendarai mobil Jeep Sport dengan kecepatan sedang. Di sebelahnya Wayan duduk agak sedikit kaku, maklum baru pertama satu mobil dengan tuan muda, sedangkan Tissa dan Farada mengambil tempat duduk di belakang. Joko dan dua orang karyawan lainnya naik mobil operasional hotel.


Selepas pulang dari meeting dengan pihak PemProv tadi, ada beberapa hal positif yang di dapat. Salah satunya kontrak kerjasama jangka waktu satu tahun. Pihak Pemprov NTB-Bali sesuai dengan program kerja sama mereka yang akan melakukan Raker satu atau dua kali dalam satu bulan, bertempat di hotel resort The Luxury.


Sempat terjadi tarik menarik masalah kesepakatan budget dengan pihak Pemda, tapi akhirnya mereka menemukan kata sepakat berkat diplomasi Molan yang pintar bernegosiasi. Solusi win-win solution. Pihak hotel menurunkan harga dari yang di sampaikan dan pihak Pemda menaik-kan harga dari penawaran mereka.


Farada tak menyangka, pria menyebalkan itu begitu piawai berdiplomasi. Entah s***n dari mana yang merasuki jiwanya, tiba-tiba si tuan muda itu tampil sangat berbeda di waktu rapat. Perawakannya yang tenang dalam berbicara tadi mengisyaratkan bahwa pria itu sangat tegas dan pintar sebenarnya. Ternyata...banyak hal yang belum di ketahui Farada tentang Molan ini.


Astaga?..apakah sekarang dia sudah mulai mengagumi? Ah...tidak!, di luar itu dia tetaplah si tuan muda yang menyebalkan. Buktinya? dia tidak menyetujui opsi Tissa dan dirinya di waktu rapat internal tempo hari, tapi kemudian malah menjadi inisiator pertemuan dengan Pemda bukan? Pria yang labil!


Farada berulang kali menggelengkan kepala menepis penilaiannya tentang Molan.


"Hei...kamu kenapa Fara? Pusing?" tanya Tissa perlahan sambil menyenggol dengan sikutnya.


"He eh..." Farada terkesiap, "nggak apa-apa kok, nahan kantuk aku" jawabnya asal, lalu ambil posisi seolah mau tidur.


"Mungkin lapar kali? kamu mau makan nggak?" tanya Molan dari balik kemudi, matanya melirik Farada dari kaca spion tengah. "Nggak usah, aku masih kenyang," jawab Farada karena pagi tadi sempat sarapan di kantin khusus karyawan hotel.


"Mau!" justru Tissa yang menjawab antusias, pagi ini dia belum menyentuh nasi sama sekali, padahal pihak hotel selalu menyiapkan sarapan khusus buat para karyawan yang tinggal disitu. Tissa hanya makan dua potong roti tawar saja.


Molan tersenyum mendengar jawaban serempak tapi tak kompak dari bangku tengah itu, "Kalau gitu, kita makan dulu aja."


Molan membelokkan stir mobil ke kiri menuju rumah makan yang menyediakan ikan bakar segar di daerah Legian.


Selang beberapa menit, mereka sampai di tempat ikan bakar yang di tuju. Pengunjung terlihat masih ramai, walau jam istirahat kantor sudah lewat. Beberapa di antaranya orang-orang bule, yang memang sangat menyukai hidangan ikan bakar yang jarang di temui di negaranya. Kalau pun ada, itu sudah pasti sangat mahal.


Setelah mendapat tempat duduk, mereka pun langsung pesan ikan bakar yang di inginkan. Kebetulan selera mereka sama. Tissa lebih banyak berceloteh. Mungkin karena menahan lapar sedari tadi, bertemu dengan makanan yang menggugah selera hingga menghasilkan kebawelan. Farada hanya sesekali menimpali. Pikirannya justru tertuju pada Molan yang agak berbeda belakangan ini. Tuan muda itu lebih banyak diam, seperti sekarang ini, Molan memilih jadi pendengar yang baik dan sesekali memainkan gadget nya. Farada merasa ada sesuatu yang hilang, entah apa itu...kejahilannya mungkin?


"Akhirnya kita berhasil juga memenangkan tender dari PemProv itu kan?" Tissa membahas rapat tadi sambil menepuk paha Farada yang duduk di sebelahnya.


"Iya, padahal sebelumnya ada yang nggak setuju ide kita itu kan?" timpal Farada melirik menyindir Molan. Dia dapat ide untuk memancing pria itu bersuara, "Dan, memangkas biaya pula, nggak perlu lewat organizer segala," lanjut Farada masih melirik Molan.


Namun yang disindir tak menanggapi, Molan hanya tersenyum tipis, senyum yang mampu meluluh-lantakkan hati para wanita. Kecuali, Farada. Molan justru menoleh pada Wayan yang hanya duduk diam di sebelahnya sambil memainkan ponsel, entah apa yang dia tonton. "Wayan, kamu kenapa diam aja bli? lagi ngapain?"


Yang di tanya kaget, "Oh saya tidak ngapa-ngapain Tuan Muda, cuma nonton YT," ujarnya dengan wajah kikuk.


Farada yang merasa di abaikan, tertegun... dengan mata masih menatap tajam ke arah Molan.


"Tissa, kamu coba hubungi sopir hotel yang bawa Joko dan lainnya tadi, suruh kesini..." perintah Molan pada Tissa, "biar Wayan ada teman ngobrolnya juga, sekalian..." Molan menjeda "biar ikut merasakan keberhasilan, kamu!" sambil tersenyum mengejek pada Farada.


"Ih!" Farada langsung menendang tulang kering Molan di bawah meja, "Rese!"


Wayan yang sangat jelas melihat adegan itu terperanjat, baru sekali ini ada yang begitu lancang terhadap tuan mudanya. Tidak juga dengan Donna yang dia sangat tahu bahwa gadis itu bukan anak sembarangan, dan begitu dekat dengan tuan muda, sedangkan Farada adalah seorang karyawan hotel yang notabene kepunyaan Molan. Ia terperangah melihat Farada...Siapa Farada ini sebenarnya? batinnya bertanya-tanya.


"Awas, lalat masuk ke mulutmu, Bli!" ujar Farada acuh, lalu menoleh pada Tissa yang sedang mengulum senyum melihat tingkah Farada.


Mendapat lirikan maut sahabatnya, Tissa langsung mengalihkannya dengan merogoh tas kecil meraih ponsel. Dia harus segera menghubungi yang diperintahkan Molan sebelum si sopir keburu sampai di hotel.


Dua orang wanita bule dan satu teman prianya orang Bali datang menghampiri meja Molan. Mereka bertiga baru saja sampai, dan salah satu bule tersebut melihat teman lamanya tengah duduk menunggu ikan bakar.


"Molan?...how r'u?"


Molan otomatis menoleh ke belakang, "Hi..Kristin, i'm fine!," Molan kemudian berdiri menyalami wanita bule yang langsung cipika-cipiki padanya.


"Long time no see, hmm? kapan kita party-party kembali, Molan?" sahut wanita yang di panggil Kristin tersebut dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar sambil bahunya memperagakan gaya berjoget dan kemudian tertawa.


Molan ikut tertawa jadinya, mengingat hobi yang sudah cukup lama dia tinggalkan, "Bolehlah kapan ada waktu aku kabari kamu ya," ujar Molan sembari memberi kode dengan tangannya.


"Oh ya, aku tidak melihat Donna? kemana dia, kamu masih pacarnya kan?"


"Donna tidak ikut, aku kesini bersama teman-teman yang lain,"


"Ikannya udah datang nih! Ayo kita sekarang makan," ajak Farada pada Tissa dan Wayan menyela obrolan Molan dengan Kristin. Suara Farada yang agak keras membuat wanita bule itu tersadar bahwa dia bukan hanya berdua dengan Molan disitu.


"### Okay, sepertinya kamu sudah mau makan, saya kesana dulu ya...bye Molan, see you," Kristin melambaikan tangan diiringi kedipan mata, Ia segera bergabung dengan dua temannya yang sudah menunggunya di deretan meja bagian belakang.


***


"Fara, kamu bukannya tadi bilang lagi kenyang ya? kok malah seperti orang belum makan dua hari deh," seloroh Tissa melihat Farada makan sangat lahap, seperti tak takut tangannya nanti tergores tulang ikan.


"Tau! tiba-tiba jadi lapar aja!" jawab gadis itu cuek.


"Pelan-pelan makannya, itu tulang ikan... keselek nanti!" ujar Molan mengingatkan.


"Bodo amat!"


"Hah?" Molan kaget, Farada ngomongnya seperti wanita yang mau datang bulan. Sengit!


-


Bersambung...