Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Kencan Pertama?


Malam ini, Farada sedang merias dirinya duduk di depan kaca kamar. Bu Herlina, mamanya ikut membantu karena dia ingin anaknya ini terlihat cantik nanti di mata orang - orang. Ya, sebentar lagi Restu akan menjemput untuk menghadiri pernikahan salah satu koleganya, yang juga akan di hadiri oleh orang - orang penting dalam dunia bisnis. Sore tadi pun, Farada harus menghadapi cerewetnya sang mama yang memaksanya pergi ke salon. Jiwa Farada yang sedikit tomboy ini harus di poles dan di rubah penampilannya menjadi gadis yang anggun.


Inilah dia sekarang, dengan memakai gaun malam warna lavender muda, sedikit bulat dan lancip di bagian belakang serta bagian depan panjang dibawah lutut dan berkerah bulat memperlihatkan lehernya yang jenjang, sedikit taburan swarovski, berhasil merubah kesan tomboy nya tersebut menjadi gadis muda nan anggun. Tampil beda!.


"Ma, adek grogi dan kikuk deh model begini, ini bukan adek banget".


"Ih kamu ini, kamu itu terlihat sangat cantik loh, bak bintang film...nggak malu - maluin kalo disandingkan dengan Restu", support mama meyakinkannya,


Farada hanya mematut dirinya di depan kaca itu dengan tanpa ekspresi, dan lalu melirik sepatu bertali se-betisnya. Sepatu warna senada dengan bajunya itu adalah salah satu hal yang tabu untuk di pakainya, tapi malam ini dia harus!.


Tak berapa lama kemudian, sang papa mengetuk pintu dan melongok ke dalam, "itu calon pangeranmu udah jemput dek".


Farada hanya mengangguk kepala, seketika senyumnya mengembang, sang pujaannya sudah jemput, "iya pa, adek sebentar lagi keluar".


Di ruang tamu, muka wibawa Restu tertegun menatap tak berkedip ketika Farada perlahan menghampirinya, di dampingi sang mama.


Cantiknya ..!


Gelagat Restu tersebut di perhatikan oleh pak Handoko yang menemaninya di ruang tamu. "Ehem...mau berangkat sekarang nak Restu?", suara papa Farada berhasil membuyarkan. Sedangkan Farada sendiri, tersipu malu karena tatapan mereka sempat bertemu sebentar.


"Eh..iya Om, ayo..kita berangkat", ajak Restu pada Farada, dan "om, tante saya ajak Farada dulu ya", sambungnya kemudian.


"Hati - hati di jalan ya", sambut pak Handoko tersenyum wibawa.


Dalam mobil, keduanya masih membisu. Farada masih grogi sedangkan Restu tak tahu apa yang akan dibicarakannya.


"Pak..ehh mas, yang nikah itu rekan bisnis atau anaknya dari rekan bisnisnya mas?", akhirnya Farada buka suara memecah kebuntuan komunikasi.


Ini orang pendiam banget deh!...


Restu melirik Farada sekilas, "rekan bisnis aku, dia anakVice President grup Barito", jawab Restu pendek, lalu kembali menatap jalanan.


"Berarti rekan bisnis mas ini udah tua dong?", ujar Farada sambil nyengir, sebuah tanya basa basi sebenarnya yang di lontarkan Farada, tapi gimana lagi? nggak ada topik pembicaraan, pikirnya.


"Iyalah, tapi anaknya ini teman baik aku juga, seumuran dan juga terlibat di perusahaan itu sebagai direktur pemasaran", tutur Restu tetap mengemudi menatap lurus ke depan.


"Ooh...", jawab Farada dengan mulut membulat.


Kemudian, kembali keheningan terjadi diantara mereka, tak ada lagi percakapan sesudahnya. Farada pun tak berniat lagi bertanya. Ia pikir lebih baik mendengarkan musik dari siaran radio mobil saja.


Mereka sampai di lobi hotel kawasan Darmawangsa langsung di sambut valet yang kemudian membawa mobil Restu ke tempat parkir yang sudah di sediakan.


Tamu undangan sudah ada beberapa yang datang. Berbasa basi sebentar dengan tamu undangan yang lainnya setelah mengisi buku tamu, Restu lalu mengajak Farada langsung menghampiri kedua pengantin yang juga merupakan kolega bisnis.


"Eits..ada pak General Manager datang, bersama siapa ini?", sambut Daniel sang pengantin pria sambil menyambut uluran tangan Restu, "selamat menempuh hidup baru pak Daniel, kenalkan ini teman saya, Farada Anastha".


"Teman apa teman nih?", ujar Daniel sambil mengulum senyum tipis ke arah Farada. Ia dan Restu kenal sudah cukup lama walaupun tak begitu akrab


Restu tertawa kecil sambil bergeser untuk memberi ruang pada Farada bersalaman, dan berpindah pada pengantin wanita.


***


Restu memberi kode pada Farada untuk berjalan menuju tempat makanan yang sudah disediakan, tiba - tiba...


"Pak Restu!...sini"


Restu menoleh kearah sumber suara terlihat beberapa meter di posisi sampingnya ada dua orang sedang berdiri menatapnya, yang salah satunya mengangkat tangan memanggil.


Ah..ya, pak Robert! Restu melemparkan senyum.


"Ehh..pak Restu dengan siapa ini?", tanya pak Robert sambil mengulurkan tangannya.


"Kenalkan teman saya pak Robert, Farada Anastha", jawab Restu menyambut uluran tangan pak Robert diikuti Farada sambil tersenyum manis dan berpindah ke orang yang menatap tajam disampingnya pak Robert itu.


Farada tergugu!


"Ini loh pak Erick, General Manager nya DomTrav yang terkenal itu", ucap pak Robert memperkenalkan Restu pada pak Erick atau yang dikenal dengan nama Erick Mahendra.


Namun pak Erick raja hotel terkenal itu terdiam menatap Restu, seperti ada yang terlintas dibenaknya. "Halo..", ucapnya seperti tersadar. Lalu tatapan beralih kearah Farada, dan Ia ingat sesuatu.


"Sepertinya kita pernah bertemu?", tanyanya berpindah pada Farada. Gadis itu sedikit gugup, bagaimana tidak Ia masih ingat ketika Ia melaporkan kelakuan anaknya raja hotel tersebut waktu di Jepang. "Iya tuan, kita pernah bertemu di Sapporo", jawab Farada sedikit menundukkan tubuhnya.


"Ah iya...", pak Erick manggutkan kepala dan tersenyum.


Restu sendiri melemparkan pandangannya menatap Farada seolah meminta penjelasan nantinya dari gadis tersebut. Farada seolah mengerti, "nanti aku ceritain mas", sambil berbisik ke telinga Restu.


Kemudian mereka berempat terlibat pembicaraan ringan, sesekali diiringi candaan ringan dari mereka ketika pak Robert menanyakan tentang hubungan Restu dengan Farada.


"Pak Restu kapan menyusul Daniel hm?, sudah waktunya kan?".


"Iya pak Robert, ini masih dalam tahap penjajaan dulu. Juga, masih banyak yang harus saya persiapkan, karena perusahaan sedang dalam pembenahan juga setelah beberapa waktu yang lalu sempat mengalami penurunan indeks", jawab Restu diplomatis.


Pak Erick hanya diam mengamati sambil sesekali melirik kearah Farada secara bergantian pada Restu. Seolah ada sesuatu yang terlintas dalam pikirannya tentang anak muda tersebut.


"Pak Restu, orang tua kamu masih ada?", tanya Erick Mahendra secara tiba - tiba.


Restu sedikit kaget mendapat pertanyaan pak Erick. "Oh, saya cuma tinggal berdua dengan Ibu saya pak Erick".


"Oh ya?...", pak Robert menjadi tertarik dengan kehidupan Restu. Walau mereka sudah cukup lama saling kenal tapi dia belum tahu tentang orang tua teman anaknya ini.


"Iya pak Robert", Restu menjeda kalimatnya sambil tatapan berpindah pada pak Robert. "Ayah saya sudah lama meninggal, dari waktu saya masih bayi. Saya diasuh sendiri oleh Ibu saya tanpa pembantu", sambung Restu dengan bangga membayangkan bagaimana tangguhnya seorang Ibunya.


"Boleh tahu siapa nama Ibu Anda pak Restu?", selisik tanya pak Erick penasaran.


"Nama beliau, Iin Herini...", jawab Restu sedikit bangga menyebutkan nama Ibunya tanpa memperhatikan perubahan wajah dari Erick Mahendra yang tertegun dengan tatapan yang sulit di artikan.


Tiba - tiba pembicaraan mereka terputus dengan datangnya seseorang anak muda yang menghampiri mereka.


"Pa, masih lama nggak kira - kira?, kalau masih lama, aku pulang duluan ya soalnya ada janji dengan teman", tanya pemuda tersebut sambil melirik jam tangannya.


"Kamu ini...", pak Erick mendelik menatap pemuda itu. "Oh ya, kenalkan ini anak saya, Molan Pangestu", sambung pak Erick pada yang lainnya.


Entah mengapa, Farada kembali tergugu berdiri menatap pemuda yang cukup dikenalnya itu, yang mengulurkan tangannya sambil tersenyum smirk padanya.


"Kalian sudah saling mengenalkan yah?", tanya pak Erick pada Farada.


Restu melirik kesamping mengarah ke Farada dengan berbagai pertanyaan di benaknya, lalu mengulurkan tangan.


"Restu"


"Molan"


---


Next...