
Molan memacu kendaraan sport-nya dengan kecepatan tinggi meliuk - liuk membelah padatnya arus lalu lintas Pondok Indah menuju kawasan Menteng Jakarta Pusat. Terlambat hampir dua jam dari seharusnya pukul dua belas siang. Sekarang sudah hampir pukul dua, Molan makin menambah kecepatan, skill nya yang mumpuni karena dulu pernah beberapa kali ikut balapan di luar negeri, sangat membantu dalam memperpendek waktu tempuh ke kediaman Papanya di kawasan Menteng tersebut.
Sekarang dia telah sampai di depan gerbang besar Mansion mewah berwarna putih. Sambil melambaikan tangan, Molan langsung tancap gas ketika pintu gerbang di buka oleh sekuriti jaga menuju deretan deretan parkir mobil milik Papanya. Ya, kalau di hitung - hitung ada sekitar lima mobil mewah dari berbagai merek.
Molan segera turun, tapi berhenti sebentar untuk melihat dua buah mobil terparkir berdampingan. Satu sedan Camry berwarna hitam yang menarik perhatiannya. Dia familiar dengan mobil itu, tapi lupa pernah melihatnya dimana. Dan, satu lagi mobil Pajero Hitam dan Itu bukan milik Papanya, juga bukan kepunyaan Om Herwanto jika dia pun datang jauh - jauh dari Bali ikut di panggil kesini. Berarti ada tamu lain!
Seorang wanita setengah baya, langsung menghampirinya dari arah samping, "Tuan Muda, sudah di tunggu Tuan Besar, tadi beliau berpesan agar langsung ke ruang utama."
Molan anggukan kepala, "Ada siapa aja, Bik?" Katanya sambil menunjuk sebuah mobil.
"Ada dua keluarga sepertinya tapi Bibik tidak kenal, Tuan Muda."
"O ya sudah kalau gitu, saya ke dalam ya, Bik."
Molan masuk melalui pintu samping, terus menuju ruang tengah dan naik tangga besar melingkar yang terhubung langsung dengan ruang utama. Ruangan yang sangat besar khusus untuk pertemuan penting Tuan Besar Erick jika ada tamu besar atau kolega dari luar negeri.
Lamat terdengar ada pembicaraan dari dalam, Molan mengetuk pintu sebelum melangkah masuk.
"Maaf, Pa...ak-"
Kalimat yang akan dikatakannya tercekat di kerongkongan Molan. Ia tertegun berdiri melihat Papa nya yang tengah duduk berdampingan dengan seorang perempuan. Di depan Papanya, duduk sepasang suami istri, yang dia perkirakan sedikit lebih muda dari Papanya. Bukan hanya itu saja, yang membuat dia lebih terkejut lagi ketika fokus melihat dua sosok yang duduk di sisi sebelah kiri sang Papa. Farada dan Restu!
Farada merasakan detak jantungnya seolah berhenti. Wajah pucatnya menggambarkan bahwa dia tidak siap dengan kenyataan yang sedang terjadi ini. Walau, sebelumnya dia sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi babak baru ketika tadi di perkenalkan dengan Tuan S. Erick Mahendrata. Si Tuan Besar. Sedangkan Restu, yang sudah mengetahui semua, dia hanya duduk dengan tenang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Molan berjalan dengan perlahan menghampiri, benaknya penuh dengan tanda tanya. Ini seperti pertemuan keluarga?
"Pa...?" Suara Molan bergetar.
"Duduk dulu!" Perintah Papanya dengan tenang, "ada yang ingin Papa terangkan sama kamu."
Molan mengambil tempat duduk di sofa singel di sebelah kanan yang memang di siapkan untuknya. Ia melirik Restu dan Farada bergantian. Lingkaran merah di kedua mata Farada menandakan bahwa gadis itu sedang menahan tangis, alarm tanda bahaya pun berdengung di kepala Molan.
***
Hari sudah beranjak malam. Di sebuah area pemakaman terlihat seorang lelaki sedang duduk berselonjor kaki dengan kepalanya di sandarkan di batu nisan yang bertuliskan nama dengan tinta kuning, Luciana Hamilton.
Ma, aku merasakan apa yang Mama alami. Aku sudah tahu arti sebuah kekecewaan. Tapi, aku tidak akan melakukan hal yang seperti Mama lakukan dulu, membiarkan diri Mama terbunuh karena cinta. Tidak Ma...Molan orang kuat! Aku akan terima semua rasa perih ini.
Asyik berbicara sendiri di atas batu nisan, Molan tiba - tiba tersentak dan langsung duduk ketika sebuah tangan mengusap bahunya. Om Herwanto.
"Om?"
"Om sengaja datang dari Bali, khusus untuk menemuimu, Tuan Muda."
"Om, sudah tahu semua yang terjadi dari awal?" Tanya Molan memastikan sambil bergeser memberi ruang pada Herwanto untuk duduk.
Herwanto duduk di samping Molan kemudian menarik napas dalam - dalam, lalu mengangguk, "Sifat Papa mu, persis seperti kamu. Seorang pemberontak!" ujarnya sambil tersenyum tipis, "itulah, kenapa kamu dengan Tuan Besar tidak pernah akur...kalian berkarakter nekat yang sama," Herwanto menjeda kalimatnya, "Om sudah mengetahui cerita ini dari awal, cuma...."
Molan masih diam mendengarkan menunggu kelanjutan kalimat Herwanto.
"Cuma, Om tidak menyangka bahwa perkataan Tuan Besar itu terbukti. Dulu Papa mu selalu bersikeras mengatakan bahwa dia punya feeling kalau Soraya pergi, suatu saat pasti akan kembali. Om marah pada waktu itu, berusaha menasehatinya agar jangan memikirkan Soraya yang sudah pergi, dan fokus untuk belajar mencintai Lusi yang telah di nikahinya. Papamu stress, yang berakibat tidak memperdulikan Mamamu. Mereka terjebak oleh perjodohan yang tidak bisa di tolak."
Herwanto kemudian menoleh, "Om berharap kamu bisa tegar dan menerima kenyataan ini, karena-"
"Karena apa, Om?"
"Karena Papamu sedang sakit yang sulit di sembuhkan. Umurnya di perkirakan hanya sanggup bertahan untuk beberapa bulan lagi, dan mungkin lebih cepat dari yang di perkirakan, sewaktu - waktu bisa kolaps!" ujarnya masih memperhatikan wajah Molan yang sedikit berubah menjadi kaget.
Molan tercenung mendengarnya. Pantas Papa akhir - akhir ini sering mengeluh lalu memegang dada dan juga dokter pribadinya minta di pindahkan tinggal di Mansion. Juga, sekarang lebih sering mem-push dirinya agar bisa menangani permasalah perusahaan - perusahaan serta jika ada pertemuan dengan orang penting, dirinya lah yang di minta untuk mewakili.
"Itulah...kenapa waktu itu kamu di jodohkan dengan Donna, agar kamu ada yang mendampingi serta ada yang merawat kamu jika Tuan Besar sudah tiada. Tetapi, Tuan Muda menolaknya,"
Molan membuang napas dengan kasar, "Dijodohkan? Lagi?...bukankah kehidupan rumah tangga Papa hancur gara - gara di jodohkan?" timpal Molan sinis, "aku tidak mau mengulang terjebak di lobang yang sama!"
"Setuju!...Om ingin kamu mendapatkan pendamping yang kamu cintai, cari lah itu!" tukas Herwanto sambil menepuk bahu Molan, "ayo, Tuan Muda, hari menjelang larut, kita harus pulang."
Mereka pun kemudian berjalan beriringan menuju area parkir.
Molan kemudian melajukan kendaraan dengan perlahan, dia bergumam pelan, "Kasihan kamu Farada!"