Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Menghilang


Molan memacu laju kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata meliuk membelah jalan tol yang cukup padat siang itu. Dia baru saja tiba dari penerbangan luar negeri setelah dapat kabar yang mengejutkan mengenai Farada-Restu.


Tujuannya hanya satu, harus menemui Farada!


Herwanto yang khusus datang menjemputnya di bandara beberapa kali harus memejamkan mata melihat anak asuhnya mengemudi mobil seperti orang kesetanan.


"Hati-hati di depan ada truk gandeng, Tuan Muda!" Sesekali Herwanto harus memberi peringatan. Dia mau tak mau harus menjadi navigator yang mendampingi driver ala-ala pembalap.


Molan hanya bergumam tanda mengerti.


Dan laju kendaraan harus tersendat ketika mulai memasuki keluar tol dalam kota. Molan pun melambat.


"Sekarang ... Farada belum tau dimana, Om?" tanya Molan dengan muka serius.


Herwanto gelengkan kepala sebelum menjawab, "Belum, orang tuanya juga nggak tau dia dimana. Katanya, Farada cuma bilang mau menenangkan diri dulu di suatu tempat, tapi nggak kasih tahu dimananya."


Mendengar itu Molan tiba-tiba menepi dan berhenti. Ia berpikir.


"Tuan Muda terpikir sesuatu?" tanya Herwanto mengernyitkan kening.


Molan diam beberapa saat, jarinya mengetuk setir beberapa kali, lalu mengambil ponsel dan coba hubungi Farada, tapi tidak aktif. Ia pun kembali berpikir.


Tiba-tiba ...


"Saya tau harus kemana mencarinya!"


Herwanto menoleh cepat, "Kemana Tuan Muda?"


Molan tak menjawab, dia menekan nomor seseorang. Setelah beberapa kali me-dial belum terhubung, baru di respon.


"Halo?"


"Tissa, kamu sekarang dimana?" tanya Molan tanpa basa-basi.


"Tu-tuan Muda? Saya di hotel Tuan, sedang kerja. Ada apa Tuan Muda?"


"Kamu jangan kemana-mana setelah ini ya, tunggu saya di situ!" titahnya yang kemudian langsung memutus percakapan.


Di samping, Herwanto tak bertanya lagi ketika Molan men-starter mobil dan tancap gas menuju Luxury Hotel.


Hanya butuh lima belas menit bagi Molan untuk sampai di hotel, dia langsung masuk ke dalam disertai Herwanto setelah menyerahkan kuncinya pada seorang valet.


"Tuan Muda, nggak masalah kalau Om tinggal saja, Om mau bertemu klien dan mungkin sudah menunggu."


"Nggak apa-apa Om!" ujar Molan melambaikan tangannya sambil terus berjalan menuju area marketing. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat, ada yang sekedar menyapa namun ada pula yang berbisik tanpa tahu apa yang mereka bicarakan. "Fokus bekerja!" tegas Molan ketika mendapati karyawan yang sedang bisik-bisik tersebut.


Tiba-tiba Molan melihat Restu tengah berjalan menuju lift didampingi sekretarisnya, "Restu!"


Restu berhenti, dan sedikit kaget ketika melihat keberadaan Molan. Dia memang tetap bekerja seperti biasa, tak terpengaruh dengan kejadian batalnya pernikahannya itu. Dia menatap dingin Molan yang berjalan menghampirinya, hanya memberi kode pada sang sekretaris agar pergi terlebih dahulu.


"Kenapa kejadiannya seperti ini, Res?" tanya Molan ketika mereka sudah berhadapan.


Restu tak segera menjawab, dia memberi isyarat agar Molan mengikutinya berjalan ke tempat sepi di pinggir. "Kamu harusnya bertanya ke Farada, karena dia yang menginginkannya," jawabnya dengan tenang. Tapi tekanan moral terlihat kentara di mata Molan pada wajah kakaknya tersebut.


"Tapi ... kan Lo tau alasannya, apa?"


"Silahkan kamu tanya langsung sama dia! Karena ...," Restu menjeda, dia maju satu langkah menantang mata Molan begitu tajam, "ini berhubungan dengan kamu!"


"Hah!? Kok...gue?" Mata Molan membola, dia kaget mendengar pernyataan Restu. "Dimana Farada sekarang?"


Restu tersenyum sinis sambil menaikkan kedua bahunya, "Saya nggak tau! Yang pasti, dia sudah mengajukan resign sejak dua hari yang lalu." ujar Restu yang kemudian meninggalkan Molan yang sedang termangu mendengar jawabannya.


Setelah tersadar bahwa Restu sudah tak ada disitu, Molan meneruskan langkahnya menuju area marketing. Tissa pasti tahu keberadaan Farada! Secara, dia kan sahabatnya.


Molan memasuki ruang marketing, beberapa karyawan langsung menyapanya.


"Tissa Baskoro, ada dimana?" tanya si tuan muda sambil celingak-celinguk mencari keberadaan sosok sahabat Farada itu.


"Ada di ruang meeting, Tuan Muda," jawab salah seorang karyawati.


"Tolong panggilkan dia, saya tunggu di ruangannya itu!" tunjuknya sambil berjalan menuju ruangan Tissa yang sejak di mutasi dari Bali langsung di angkat menjadi Chief Marketing di kantor pusat ini.


Selang tak berapa lama, pintu di ketuk dan sosok wajah Tissa muncul dengan raut sedikit tegang melihat tuan muda sedang duduk di kursinya itu.


"Tuan Muda memanggil saya?"


"Duduk dulu, Sa! rileks aja, jangan tegang begitu," ujar Molan tersenyum memberi ketenangan.


Tissa yang grogi makin kikuk melihat senyuman pria di depannya ini. Dia sudah tahu maksud si tuan muda memanggilnya. Dia pun duduk berhadapan di seberang meja Molan.


Molan sendiri tak segera bertanya, dia hanya melihat wajah gadis di depannya itu lekat-lekat. Tatapannya mengintimidasi lawan.


Udah gue duga, tuan muda pasti menanyakan Farada kan? Batin Tissa. Gadis itu berusaha mengatur napasnya agar terlihat tenang. "Saya nggak tau Tuan Muda, dua hari yang lalu Fara cuma bilang dia mau mengundurkan diri, tapi dia nggak kasih tau alasannya apa. Waktu sa_"


"Cukup!" potong Molan cepat, "saya tanya sekali lagi ... Dimana Farada?" ujar Molan, pria itu memajukan badannya ke depan. Sorot matanya makin mengintimidasi.


Tissa semakin grogi, dia tak bisa berbohong lagi. Walau Farada sudah memintanya untuk tidak memberitahu siapapun tentang keberadaannya tapi tatapan mata si tuan muda di depannya ini begitu mematikan. Maaf Fara, gue nggak bisa bohong lagi, batin Tissa bermonolog.


"Fara ... Ada di suatu tempat, berupa vila di daerah Gunung Putri Bogor, kepunyaan keluarga saya, Tuan Muda," jawab Tissa menunduk sambil jari-jarinya saling memilin di atas paha. Dia merasa bersalah terhadap Farada, tapi dia tak bisa berpura-pura tidak tahu di depan Molan yang sorot matanya begitu tajam mengintimidasi.


Molan manggut-manggut kepala sejenak. Dengan senyum tipis, dia memberikan selembar kertas memo dan pulpen kepada Tissa, "Tolong tuliskan alamat lengkapnya," titahnya kemudian.


***


Molan memberhentikan mobilnya setelah memasuki pekarangan sebuah rumah yang tepatnya berbentuk vila di kawasan Gunung Putri. Vila yang terlihat begitu asri dengan hamparan pemandangan perbukitan di hadapannya. Sebuah mobil sedan putih terlihat parkir di garasi, pertanda ada penghuni disini.


Molan mengetuk pintu beberapa kali, "Farada!" panggilnya tapi tidak ada orang. Dia harus mengintip di balik kaca, tetap tak terlihat seorang pun di dalamnya.


Molan kemudian berjalan memutari rumah, ketika sampai di bagian belakang, ternyata vila itu ada dua tingkat dengan sebuah kamar di bahagian atasnya. Dia sedikit berlari menaiki tangga dan langsung mengetuk pintu serta memanggil Farada. Tapi yang bersangkutan tidak menyahut.


Molan mengintip kembali di balik kaca, ternyata memang sedang tak ada orang di dalamnya. Pria itu berdiri di atas balkon depan kamar, Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari sosok Farada.


Tiba-tiba ....


Dari arah bawah Farada muncul. Pandangan mereka bertemu. Alis mata Farada terpaut. Ia terpana melihat Molan sedang berdiri di hadapannya. Lelaki itu menemukannya. Tapi, dia sudah menduga siapa yang memberitahu lelaki tersebut tentang keberadaannya disini.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Farada. Gadis itu berjalan perlahan menghampiri Molan yang masih terpaku melihat ke arahnya.


Molan merasakan sorot mata dan wajah Farada seperti menahan beban. Gadis itu seperti habis menangis.


"Heh! Malah bengong!" tegas Farada menyentak, "ngapain kesini?" ulangnya kemudian.


Molan terkesiap, Ia garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Oh...eh, yaa mencari kamulah! Masa nyari asinan, nggak mungkin, kan?" jawab Molan garing dengan muka konyolnya.


"Nggak lucu!"


"Ya Tuhan!" jawab Molan pura-pura kaget sambil mengusap dada.


***


Hari sudah merangkak malam. Kawasan yang tinggi serta lingkungan perbukitan membuat udara semakin dingin terasa.


Molan dan Farada duduk berdampingan di depan nyala api unggun. Suasana sudah mencair setelah sebelumnya sempat terjadi aksi saling diam. Beberapa jam yang lalu, mereka sempat turun ke pemukiman penduduk mencari ikan untuk di bakar.


Sambil menikmati beberapa ikan yang sudah matang, Molan bertanya, "Sudah berapa hari kamu disini?"


"Dua hari yang lalu," jawab Farada sambil mencuil ikan yang masih panas ke dalam bumbu pecak.


"Kamu, nggak takut sama sekali disini sendirian?" Pertanyaan yang sedari tadi ingin dia lontarkan. Dia heran Farada begitu berani di vila yang suasana sunyi di sekelilingnya ini.


Farada gelengkan kepala, "Nggak!" jawabnya cuek, kemudian mengambil dua ekor ikan yang sudah di celup bumbu lalu di jepit di pembakaran.


"Farada ... Kenapa kamu membatalkan pernikahan kamu?"


Farada langsung terhenti mengemas ikan di jepitan. Dia menoleh kearah Molan yang sedang menatapnya tajam. Kemudian membersihkan tangan dan duduk dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut.


"Aku balik tanya kamu ... Kenapa kamu pergi ke Karibia?" Farada balik bertanya dengan sorot mata menuntut.


"Hah? Kok kamu tahu?"


"Aku dengar pembicaraan kamu dengan Pak Herwanto di telepon. Setelah bermohon-mohon minta jawaban, baru aku tahu kamu ada dimana ...," Farada menjeda kalimatnya, dia mengalihkan pandangannya ke depan, wajahnya berubah murung, " kamu ingin menghilang, iya kan? Sampai luka hati kamu terobati, entah sampai kapan, dan ... Itu karena aku, kan?"


Molan terdiam, semua yang dikatakan Farada itu benar.


"Kamu ingin tau alasan aku membatalkannya?" Molan mengangguk.


"Karena ... aku mulai menyukai kamu!" sambung Farada menunduk, air matanya menganak.


Mulut Molan membulat sempurna, dalam hatinya begitu bahagia mendengar pernyataan pertama kali ini keluar dari mulut Farada. "Sejak kapan kamu mulai menyukaiku?"


Farada menarik napasnya dalam-dalam, "Sejak perdebatan kamu dengan Tuan Besar setelah sesi foto bersama dulu. Aku berpikir, apakah kamu akan sanggup melihat aku dengan Restu, sementara kamu mencintai dan harus menahan sakit seumur hidup?" Farada gelengkan kepala berapa kali.


Molan masih diam menunggu kalimat Farada selanjutnya.


"Aku ambil keputusan ... Walau aku mencintai kamu tapi aku akan pergi dari kehidupan kalian berdua! Aku nggak milih siapa-siapa. Aku nggak ingin kalian bermusuhan seumur hidup gara-gara aku...," Farada kembali menjeda, air mata gadis itu makin deras mengalir, "Maafkan aku."


"Hah!?" Perasaan Molan langsung mencelos.


Tangis Farada pun tak terbendung lagi, kedua bahunya terguncang.