Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Saatnya


Matahari sudah terbenam sejak satu jam yang lalu. Tanpa terasa obrolan mereka justru semakin menarik. Obrolan yang pada awalnya sempat di warnai airmata, berkat kepintaran Molan mengubah topik pembicaraan dengan tingkah nya yang terkadang konyol, membuat Farada bisa ceria kembali, suasana pun menjadi santai pada akhirnya.


Molan berusaha menghindari topik yang menyangkut masalah perasaan, terutama hubungan mereka.


"Ya sudah, yuk! Kita turun, hari sudah gelap, nanti orang-orang pada bingung mencari kamu." Molan kemudian berdiri, sementara Farada masih enggan untuk bangun. Suasana saung tempat mereka duduki ini membuatnya betah berlama-lama disitu.


"Kapan lagi ya bisa ngobrol di tempat seperti ini?" Farada bergumam pelan, "aku belum pernah ke tempat seperti ini."


"Nanti, kamu bisa ajak Restu kesini setelah menikah."


Farada menoleh cepat, raut wajahnya tidak suka mendengarnya. Mana mungkin Restu mau pergi ke tempat-tempat seperti ini? Batinnya.


Yah ... Salah ngomong gue! Ucap Molan seketika dalam hati. Ia menepuk keningnya.


Farada kemudian tersenyum tipis. "Ya udah, yuk ... Kita pulang!" Farada bangkit berdiri dan mendahului langkah Molan menuju mobil.


Di dalam mobil menuju pulang tak banyak yang dibicarakan. Keduanya sibuk dengan jalan pikiran masing-masing.


Selanjutnya bisa ditebak, Farada pun tertidur.


Untuk mengatasi rasa bosan karena perjalanan agak tersendat menuju arah Ibu Kota, Molan menyetel lagu-lagu instrumen yang sesekali bibirnya pelan mengikuti lagu yang dia kenal liriknya.


Dua jam kemudian,


"Farada ... Bangun, kita sudah sampai." Gadis itu tersentak, Ia mengerjapkan matanya dan menegakkan sandaran kursi dan melihat sekeliling, ternyata sudah di depan pintu pagar rumahnya.


"Nyenyak banget aku tidur!" cetusnya sambil bersiap keluar dari mobil. Begitu pun Molan. Tapi di cegah oleh Farada, karena dia merasa Molan pasti capek. Gadis itu berjalan memutari mobil dan berdiri di samping posisi Molan yang di balik kemudi.


"Kalau begitu, salam sama Pak Handoko dan Ibu Herlina ya, bilang maaf anaknya aku culik hari ini he...he."


Farada tersenyum masam, "Iya, kamu langsung pulang, kan?"


Molan mengangguk. Dia ingin menjawab mau ke rumah om Herwanto, tapi tak jadi dikatakannya.


"Oh iya, Farada ..." Molan yang hendak melaju, menghentikan mobilnya. Pria itu meraih sesuatu berupa kotak sebesar buku tulis dari dashboard mobil.


"Apa ini?" tanya Farada memperhatikan sebuah kotak yang isinya seperti robot, tapi bukan ...


"Itu, Gundam. Seorang pangeran, dia panglima yang gagah perkasa, tapi ... Gagal dalam mendapatkan seorang permaisuri." sambung Molan sambil tersenyum penuh arti.


Farada tertegun, dia memperhatikan gambar di kotak itu. Seorang pangeran yang memegang pedang di tangan kanannya dengan mahkota di kepala sedang menunduk ke bawah.


"Itu hadiah dari aku buat kamu, simpan baik-baik ya. Dan ... kamu harus tetap semangat dan jangan lupa selalu tersenyum!" ujarnya berkata sambil mengerlingkan mata pada gadis itu dan kemudian melajukan kendaraannya perlahan.


Farada termangu menatap kepergian Jeep Rubicon Molan, sampai mobil tersebut menghilang di tikungan depan, Farada baru masuk ke dalam dengan langkah gontai. Terima kasih untuk hari ini, tuan muda! Gumamnya perlahan.


Beberapa meter di belakang, di kegelapan di bawah pohon, sebuah mobil sedan Camry hitam sedang parkir mengamati adegan yang terlihat di depannya semenjak awal Farada datang. Pria yang sedari tadi menunggu dan berkali-kali sudah menghubungi Farada, namun tak pernah ada balasan gadis itu.


"Dek! Kamu dari mana?"


Farada terperanjat mendengar suara papa nya yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu. Gadis itu reflek mengusap dadanya karena kaget. "Astagfirullah, Papa ngagetin aja!"


Astaga! Farada menepuk keningnya pelan. Dia lupa, ponselnya tidak aktif sejak siang tadi. "Handphone aku lowbatt dari siang tadi Pa, aku lupa bawa charger nya." jawabnya dengan grogi.


Pak Handoko mengernyitkan dahi sambil menyambut uluran tangan anaknya dan bergeser memberi ruang untuk anak gadisnya itu masuk. "Tumben? Trus, tadi siapa yang nganterin kamu?"


"Ooh...ng, tadi di anterin tuan muda Molan, Pah."


Kedua alis pak Handoko terangkat, "Hmm...kamu nggak ngasih tau Restu?" Farada menggeleng, "Tadi pergi nya mendadak, jadi nggak sempat ngomong sama Mas Restu."


Pak Handoko menatap anaknya dalam-dalam, "Kamu udah mau menikah, Dek! jadi segala sesuatunya di bicarakan, biar nggak ada salah paham, apalagi kalau sudah resmi jadi istrinya, wajib itu!"


"Iya, Pah..." jawab Farada lirih. Lalu melangkah masuk menuju kamarnya.


Handoko memperhatikan punggung anaknya tak berkedip, lalu gelengkan kepala beberapa kali sebelum menutup pintu.


***


"Seharusnya kamu tidak perlu lagi pergi-pergi dengan pria lain berduaan seperti kemarin, disaat kamu sudah terikat janji akan menikah dengan saya, dan perginya tanpa seijin saya. itu sungguh nggak etis!" cetus seorang pria dengan tajam pada gadis yang duduk di sebelahnya.


"Itu adikmu Mas, bukan pria lain yang seperti ada dalam gambaran pikiran kamu." Gadis itu menjeda, "lagi pula, kami nggak ngapa-ngapain, selain ngobrol dan makan aja kok!" sanggah gadis tersebut yang merasa tertuduh sebagai seorang yang selingkuh.


Sang pria mendesis, Ia tersenyum sinis. "Tetap aja, dia pria yang menyukai kamu awalnya, bukan?"


Gadis itu terdiam, dia membenarkannya dalam hati. Ia merasa bersalah. Seharusnya dia tak menuruti ajakan lelaki itu kemarin , Ia merutuk dirinya yang tak pernah bisa menolaknya.


"Tapi, aku nggak tega menolak ajakannya, Mas ... Maaf." ujar gadis itu menunduk.


Hening beberapa saat. Sang pria akhirnya menghirup udara dalam-dalam, "Farada ... Kita minggu depan sudah menikah. Mulai sekarang, kamu harus menetapkan hati kamu. Kalau kamu seperti ini, masih memberi ruang pada hatimu untuk Molan, kamu akan tertekan. Hubungan kita akan rumit, hubungan saya dengan Molan pun akan semakin meruncing..." Ia menjedanya, lalu melepaskan pandangannya lurus ke depan, "Kamu harus memilih!"


Farada termangu mendengarnya. Ya, dia seharusnya menetapkan dan memilih. Ia menoleh pada calon suaminya yang tengah berdiri, bersiap pergi dari situ.


"Kita pulang, yuk!"


Farada mengangguk lalu mengikuti langkah Restu.


Setelah sampai di rumah, Farada langsung menuju kamar dan duduk menatap jendela. Kebetulan cuaca cerah. Sinar rembulan begitu indah malam ini, walau purnama mungkin sudah lewat satu atau dua hari.


Dia termenung mengingat kata-kata Restu tadi. Kamu harus memilih. Ya, dia harus!


Restu, pria yang tak banyak bicara. Kurang memiliki selera humor. Kapan terakhir kali dia lihat senyum di bibir calon suaminya itu? Entahlah dia lupa. Hidupnya sepetinya menoton, dan semua harus serba teratur.


Tapi, di balik itu semua, Restu adalah pria yang punya daya pikat yang tinggi. Mampu menarik lawan jenis dengan kepribadiannya yang kaku tersebut.


Juga, jangan lupakan dia bisa membuat Farada tak berkutik jika di dekatnya.


Cukup lama Farada berdiam diri bermain dengan pikirannya sendiri. Kemudian dia teringat sesuatu, lalu bangun membuka laci mejanya dan meraih sebuah kotak lalu membukanya.


Gadis itu menatap gundam di tangannya. Sedih sekaligus membuatnya tersenyum.