
Flash back...
Farada mencoba menelpon Mamanya untuk yang kesekian kalinya sambil melihat kiri dan kanan di tengah kerumunan orang - orang yang bersileweran di teras bandara. Pesawatnya baru saja landing dengan mulus dari Bali menuju Jakarta ini tepat pukul 11.00.
Setelah beberapa menit, ponsel yang di genggamnya bergetar. Mamanya menelpon balik. Gadis itu segera mencari tempat yang agak lengang.
"Assalamu'alaikum, Ma...Mama di mana?"
"Waalaikumsalam, Dek. Maaf Mama tadi ke salon dulu, handphone Mama tertinggal di rumah...kamu sudah landing ya?"
Farada mengangkat dagu mendengarnya, ke salon?
"Oh ya, yang menjemput kamu itu, Nak Restu, sudah sampai belum? Nanti dari bandara kamu ke rumah dulu, ganti baju...nah, setelah itu kita berangkat bersama ke_"
"Mas Restu?" potong Farada cepat, "kenapa Mas Restu yang jemput? Dia nggak omong apa - apa sama aku tadi waktu di telpon, dan...juga belum datang."
"Kok nada suara kamu kedengaran nggak suka di jemput Restu? Ibu yang suruh dia menjemput kamu, Dek."
"Ck, bukan nggak suka. Cuma aku bingung, ini ada apa sih ma? Mama pakai acara ke salon dulu terus nanti langsung berangkat bersama. Mau kemana?" tanya Farada heran.
Okelah, Mamanya nggak jadi jemput dan di gantikan Restu, tapi mengapa nanti langsung pergi lagi? Dan perginya...kemana? Sepertinya ada yang aneh, pikir Farada dengan penuh pertanyaan di benaknya.
"He ehm!"
Farada langsung berbalik badan, di belakangnya sudah berdiri Restu dengan ekspresi datar saja.
"Eh...Mas Restu, apa kabar Mas? Sudah lama?" ujar Farada sambil mengulurkan tangannya. Mungkin nggak sih, dia mendengar omongan aku sama mama?
Restu menyambut uluran tangan Farada, "Baik, saya udah disini dari awal kamu terima telpon," jawabnya tenang, "ayo berangkat, kita tidak punya banyak waktu."
Setelah mereka berdua di mobil, Farada kemudian menanyakan sesuatu yang menjadi pertanyaan di benaknya. "Mas, sebenarnya ini ada apa ya? Maksudku...kenapa semua serba dadakan?" Tanya gadis itu sedikit rasa gugup. Entah kenapa, berada dekat - dekat dengan pria bermimik datar ini selalu membuatnya kehilangan kosa kata.
"Dadakan?" Restu mengernyitkan dahi. Pandangannya tetap lurus ke depan memperhatikan jalan raya.
"Hm...tentang semua ini, gimana yah ngomongnya." Masa dia nggak ngerti sih?
"Maksud kamu, tentang rencana pernikahan kita yang di percepat?"
"Iya...Mas udah yakin kalau pernikahan ini di percepat?" tanya Farada, walau sebenarnya bukan hal itu yang akan dia tanyakan.
Restu menolehkan kepala sebentar melirik Farada, lantas menyunggingkan senyum sinis, "Kok, saya merasa kamu yang tidak yakin?"
Farada menelan ludah. Dia mencoba mengatur emosi agar suaranya tidak bergetar, "Bukan gitu maksudku Mas. Semuanya terkesan mendadak dan aneh bagi aku. Mama kemarin malam menelpon aku menyuruh datang ke Jakarta, karena Mas dan Ibu ingin melamar. Tapi, yang membuat aku bertanya - tanya, Mas datang dengan seorang...Ayah?" Farada akhirnya bernapas lega, pertanyaan itu akhirnya meluncur dari mulutnya. Kedua jari tangannya yang saling bertaut waktu dia bicara, terlepas. Semoga dia mengerti.
Restu tak langsung menjawab, telunjuknya dia hentak - hentakkan di setir mobil. Pertanda dia sedang berpikir.
"Nanti aja, sekarang kita temui dulu Papa dan Mama kamu, lalu kita pergi bersama - sama untuk menemukan pertanyaan kamu itu," jawab Restu datar saja.
"..."
Beberapa lama kemudian, mereka sampai di halaman rumah Farada yang asri. Wajah Farada langsung berbinar cerah. Dia sangat merindukan suasana rumah ini.
Restu kemudian membuka bagasi belakang mobil Camry yang berisi koper lalu membawanya ke dalam menyusul Farada yang sudah terlebih mendahului masuk rumah.
Pak Handoko yang terlebih dahulu keluar dari kamar langsung di tubruk oleh Farada. "Papaa..." teriaknya memeluk yang kemudian dibalas sang papa dengan mencium kening anak gadisnya itu.
"Adek...malu ada calon suami kamu itu!" tegur Ibu Herlina menepuk pelan bahu Farada yang sedang bergelayut manja seperti balita.
"Mamaa..." Farada tak hiraukan teguran, dia langsung berpindah bergelayut pada Mamanya.
"Ih...itu Restu ngeliatin kamu, Farada!" Tegur Mamanya kembali, "silahkan duduk Nak Restu, koper Farada letakkan disitu aja, nanti si mamang yang angkat," sambung Ibu Herlina sambil memberi kode pada Art nya yang berada di dapur.
Setelah acara temu kangen Farada dengan kedua orang tuanya, mereka pun berempat berangkat menuju kawasan Menteng dengan dua kendaraan. Farada memilih ikut dengan Papa dan Mamanya naik Pajero dan Restu mengalah, dia hanya seorang diri dalam satu mobil.
"Ma...ini sebenarnya ada apa sih? Adek jadi bingung, kenapa kita harus ke Menteng dulu sih? Adek kan baru sampai, ada jeda dulu kek! Setidaknya, nanti malam gitu atau besok." tanya Farada bercampur gerutuan setelah mobil mereka bergerak membelah jalan raya.
Ibu Herlina menengok ke arah Pak Handoko. Yang di pandang hanya mengangkat kedua bahunya.
"Nanti aja, kamu akan tahu sendiri." jawab Ibu Herlina kemudian.
"Aisssh...kenapa harus ada rahasia - rahasia-an sih? Mas Restu aku tanya tadi, juga begitu jawabnya. Udahlah...terserah!"
Pak Handoko menarik napasnya dalam - dalam dan membuangnya perlahan, lalu melirik anak bungsu nya itu dari kaca spion tengah. Farada segera membuang pandangannya keluar, tangan kanannya menopang dagu.
Farada dalam diamnya mencoba meraba hatinya yang kini meragu. Dia sendiri juga tak tahu penyebabnya apa. Keinginan nya yang dulu agar dapat bersanding dengan Restu seolah menguap begitu saja. Tapi, pernikahannya mungkin sebentar lagi akan terjadi, tak ada lagi kata mundur. Dia harus siap menerima kenyataan dan mencoba mengumpulkan kembali pecahan hatinya yang tercecer. Dia akan berusaha fokus untuk mencintai calon suaminya, Restu. Ya, dia harus bisa!
Kendaraan Pak Handoko sampai terlebih dahulu di depan gerbang mansion putih nan megah di kawasan Menteng tersebut. Pak Handoko kemudian menurunkan kaca mobil ketika sekuriti menghampirinya dan menanyakan ada perlu apa. "Siang pak, saya dengan Handoko, sudah ada janji dengan Bapak Erick untuk bertemu hari ini."
"Oh, baik Pak Handoko, tadi kami sudah mendapat pesan dari dalam, silahkan." Sekuriti itu langsung memberi kode pada temannya yang berada dalam pos untuk membuka gerbang.
Deg!
Farada yang sedang duduk diam melamun segera tersentak mendengar Papanya menyebut nama Pak Erick. Lalu dia melongok melihat dia sekarang berada dimana. Bukankah ini tempat kediaman Tuan Besar? Mengapa mereka harus kesini? Atau?
Mata Farada membola, dia mencoba menghubungkan kalimat Mama nya waktu di telpon kemarin malam ketika menyuruhnya pulang. Wajahnya langsung memucat pasi. Ini nggak mungkin!
"Pa, ini rumahnya Tuan Besar S.Erick Mahendrata, bukan?" Farada menanyakan pada Papa nya ketika mobil perlahan memasuki halaman mansion yang luas.
Pak Handoko mengangguk, "Iya, ini rumah bos besar kamu."
Ya Tuhan! Berarti kata Mama nya 'seseorang yang ternyata Ayahnya Restu?' itu Tuan Besar?
Farada mencoba berkali - kali menepis kemungkinan kenyataan yang akan terjadi. Faktanya, ini kediaman Tuan Besar, Papanya...Molan!
Pak Handoko melirik tingkah laku anaknya dari kaca spion, sepertinya beliau tahu sesuatu.
Flash back Off