Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Wanita itu bernama Sita


The ROYAL IMPERIUM, Tbk. adalah pusat kerajaan bisnis Erick Mahendrata yang berdiri kokoh menaungi beberapa bidang usaha seperti: Pertambangan & Emas, Perminyakan serta Perhotelan. Jaringannya yang begitu luas tersebar di beberapa negara menjadikan seorang Erick Mahendrata dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di Benua Asia ini. Dengan titik berat usaha di bidang perhotelan membuat sang pemilik mendapat julukan sebagai raja hotel dari Indonesia.


Khusus perhotelan ini, dibawah manajemen induk The Luxury Hotel yang berpusat di Jakarta, telah mempunyai tujuh buah hotel bintang lima menyebar di enam kota besar di Indonesia serta tiga buah hotel eksklusif di tiga negara, Jepang, Korea Selatan dan Thailand.


Farada menutup majalah berisi katalog dan profil perusahaan tempat dia bekerja ini, serta biografi pemiliknya yang baru saja dia baca, Ia meletakannya kembali ke tempat semula di atas meja kecil depan tempat dia duduk. Menggunakan pesawat pribadi milik tuan Erick, saat ini Farada dan Molan, juga tak ketinggalan Tissa sedang dalam perjalanan dari Bali menuju bandara Adi Sucipto - Jogjakarta.


Tissa akhirnya harus ikut karena desakan dari Farada yang menemui langsung Herwanto sebagai pimpinan pagi tadi untuk meminta ijin agar di temani oleh Tissa berangkat ke Jogja mendampingi Molan. Gadis itu tidak mau kalau hanya berdua saja pergi dengan Molan. Tissa awalnya menolak karena waktu yang mendadak untuk pergi. Dia hanya punya waktu cuma beberapa jam untuk mempersiapkan segalanya. Tapi akhirnya memutuskan untuk ikut karena Herwanto pun menyuruh.


"Tiga hari Tissa...masa Aku harus disana cuma berdua dengan Molan aja? Kamu tau kan, konyolnya dia itu gimana?"


Tissa menarik napasnya dengan lemah, "Iya, Aku ikut...barusan Pak Herwanto sudah memerintahkannya."


***


"Ya Tuhan...indahnya pemandangan disini!" teriak Tissa sambil merentangkan tangan dan berputar menghirup udara pegunungan yang begitu kentara di kawasan itu. Gunung Merapi terlihat menjulang di depan mata. "Jadi pengen tinggal disini deh! Tuan Muda, rekomendasikan dong aku supaya pindah kerja disini"


Molan hanya mendengus mendengarnya.


Mereka baru saja menjejakan kaki di Kaliurang setelah menempuh perjalanan hampir 50 menit dari bandara Adi Sucipto.


Rombongan kemudian di sambut langsung oleh General Manager hotel Luxury Resort Jogja, seorang wanita cantik bernama Sitta Angelina.


"Selamat datang Tuan Muda, saya dengan Sitta Angelina atau bisa Tuan panggil Sita, selaku General Manager disini. Saya sudah di beritahu kedatangan Tuan dari pusat dan kami sudah mempersiapkan segalanya, silahkan..." Sambut Sita menjabat erat tangan Molan dan mempersilahkan masuk lobi. Dirinya baru bertemu dengan tuan muda anak sang pemilik. Santer terdengar di telinganya bahwa putra tuan besar itu sangat tampan dan good looking. Ternyata, berita itu benar adanya.


Molan tersenyum tipis menyambut uluran tangan Sita. Ia baru menjejakkan kaki lagi di Luxury cabang Jogja ini setelah terakhir dua tahun yang lalu dia mengunjunginya, dan GM nya saat itu adalah pria paruh baya.


"Sudah lama jadi GM disini?" tanya Molan setelah itu sambil berjalan, dia sempat anggukan kepala pada karyawan lain yang menyambutnya.


"Sekitar enam bulan ini Tuan Muda."


"Oh." Molan bergumam pendek.


"Tuan Muda...ingin langsung ke kamar atau mau lihat - lihat sekeliling dulu?"


"Langsung saja...kamar saya dimana?"


"Kamar Tuan Muda di Presidential Suite di lantai sembilan sedangkan dua lainnya di kamar lantai dua, satu kamar Twin bed, menghadap kolam berenang."


Molan berhenti sejenak, "Pindahkan mereka berdekatan dengan saya di lantai sembilan, agar saya tidak repot kalau ada perlu...masih ada kamar, kan?"


"Sebentar Tuan Muda, saya tanya ke Resepsionisnya," Lalu Sita memanggil salah satu karyawan dan bertanya.


"Oh, masih ada... cuma yang Executive Suite, berhadapan langsung dengan kamar Tuan Muda tempati. Kalau yang biasa tinggal di lantai dua saja, ada beberapa kamar yang kosong." jawab Sita setelah mendapat informasi dari resepsionis.


"Ya sudah, pindahkan mereka berdua ke Executive Suite depan saya itu, nanti Bill nya masukan ke tagihan saya!"


"Baik Tuan Muda."


Sita pun langsung memanggil salah satu karyawan untuk mengurusnya, dan kemudian menyusul Molan ke atas karena masih ada yang perlu dia bicarakan.


***


Molan telah berada di kamarnya di antar Sita dan seorang karyawan House Keeping yang membawa troli barang dan kemudian meletakannya di depan lemari pakaian.


"Jadi, apa jadwal saya besok?" tanya Molan pada Sita setelah menutup pintu kamar mengantarkan karyawan HK yang pamit pergi.


Molan melihat jadwal yang diberikan Sita dengan kening berkerut, " Ini...jadwal siapa yang susun? Kenapa saya tiga hari disini diatur?" Matanya menatap tajam Sita.


"Oh, itu pesanan dari Tuan Besar dari Jakarta melalui Pak Direktur Herwanto, Tuan Muda. Kami hanya membuatnya sesuai perintah saja." Gadis itu menundukkan pandangannya. Sekilas dia terpesona dengan tatapan Molan yang sangat tajam.


Molan mendesis, dia langsung mengambil ponsel dan menghubungi Herwanto menanyakan mengapa semua kegiatannya selama di Jogja ini harus di atur.


Sita yang masih berdiri berjalan menuju sofa untuk duduk. Matanya tak lepas memperhatikan Molan yang tengah berbicara di ponsel dengan Direktur Herwanto, nada bicaranya terdengar meninggi memprotes masalah jadwal tadi.


Sitta Angelina, adalah wanita yang sangat cantik. Postur tubuhnya proporsional. Di usianya yang telah 28 tahun ini, dia masih belum menikah. Ibunya sering mengeluh seolah dia adalah Ibu yang paling malang di dunia karena anaknya tak laku-laku.


Padahal, dia sering bertanya, apa yang kurang dari dirinya? Wajahnya cukup cantik, otaknya lumayan encer, tamatan Strata-Dua pula. Tapi bagaimana lagi? Laki - laki di luar sana lebih memilih wanita tamatan SMA dari pada wanita berumur seperti dirinya.


"Hei...!"


Sita tersentak kaget. Molan melambaikan tangan di depan wajahnya dan duduk berseberangan. "Maaf, Tuan Muda." Aish...kesan pertama yang nggak banget! batinnya.


"Kamu...melamun?" tanya Molan heran. Sekilas dia melihat wajah gadis itu sendu seperti ada yang di pikirkan.


"Ti...tidak Tuan Muda, saya hanya menunggu Tuan Muda selesai bicara di telpon."


"Nggak usah terlalu formal, saya nggak begitu suka. Jika di luar urusan kantor, kita teman. Umur kita kayaknya nggak beda jauh, bukan?"


Sita mengangguk malu, "Baik, Tuan Muda..."


Tiba - tiba bel kamar berbunyi. Molan bangun dan segera membuka pintu.


"Kamu kenapa pindahin kamar aku jadi di depan sih? Bukannya tadi harusnya di lantai dua?" Farada langsung protes bersuara ketika pintu terbuka.


"Sstt...!" Molan meletakkan telunjuknya di mulut. Matanya memberi kode bahwa ada orang lain di dalam.


Farada kaget, Ia mengatup mulutnya dan melihat ke dalam, ternyata ada seseorang yang tengah menatapnya, sedang duduk di sofa, "Ehh...maaf! Ada Ibu Sita," Farada lalu menautkan kedua tangannya di dada.


Sita pun kemudian mengangguk dan tersenyum.


"Makanya, liat - liat situasi dulu, baru ngomel!"


Farada mendelik pada Molan, "Nanti aja ngomongnya!...Permisi Bu Sita," ujarnya kemudian pada Sita.


"Masuk aja, saya juga sudah selesai kok!" jawab Sita sambil berjalan menuju pintu. "Maaf Tuan Muda, saya permisi dulu...jika nanti Tuan Muda perlu sesuatu, kabari saya saja ya," pamitnya pada Molan. Ia terpikir omongan Molan tadi, jika diluar urusan kerja mereka adalah teman. Tapi, sekilas Ia bisa menilai, Molan dengan gadis itu ada kedekatan emosional. Bukannya dia karyawan Luxury juga yah? Sita membatin.


"Yaah...jadi terganggu dong 'meeting' nya?" ledek Farada sambil jarinya terangkat membentuk tanda kutip.


Molan berdecak, Ia mengabaikan godaan Farada lalu masuk ke dalam, "Kamar kamu dan Tissa aku pindahin ke atas, biar kalau ada apa - apa bisa cepat komunikasinya."


"O ya?" Kedua alis Farada naik-turun.


"Aku serius!"


"Loh, kan bisa pakai handphone atau pakai telepon hotel...tinggal pencet nomor kamar kalau mau panggil atau ada perlu, ya kan?..." Farada menjeda sebentar, "Ngomong-ngomong...Ibu GM tadi cantik banget, yah? Wajahnya angg...Aduh!" Farada meringis, dahinya di sentil oleh Molan.


"Tuh! Dia kesini ngasih jadwal aku selama di Jogja," Molan meletakan sebuah kertas di paha Farada.


"Ooh..."