
Tiga bulan berlalu...
"Bang, gimana kabar adikmu, dimana dia sekarang?"
Restu menggeleng sambil meletakkan ponselnya di meja, lalu mengarahkan pandangan pada ibunya, "Belum tau, Bu. Tempo hari Om Herwanto juga aku tanya, tapi Om bilang juga belum dapat kabar dimana dia sekarang."
Soraya diam sambil berpikir. Malam ini, dia sengaja mengajak putranya tersebut berbincang tentang banyak hal, waktu yang jarang sekali di dapat mengingat Restu sekarang yang super sibuk.
"Tapi, aku curiga dengan Om Wanto deh Bu? Dia sepertinya tau keberadaan Molan. Om seperti sengaja menutupinya," sambung Restu kembali.
Soraya mengernyit dahi, "Kok, kamu berpikir seperti itu?"
"Entah, aku berpikirnya seperti itu. Nggak mungkin rasanya Om Wanto bisa tenang-tenang aja sementara orang yang dia rawat sedari kecil itu misterius gini. Ini udah tiga bulan tapi Om seperti nggak ada niat untuk mencarinya."
Ya, sejak penolakan Farada terhadap Molan di kafe itu, Molan seolah menghilang di telan bumi. Tak satu pun ada yang tahu dimana keberadaannya. Hingga Restu agak keteteran mengelola perusahaan yang kini semakin berkembang dan sekaligus makin bertambah kendala. Tapi untungnya Herwanto banyak membantu.
"Coba kamu tanya lagi Om kamu itu, ajak ngobrol baik-baik. Kalau pun benar, pasti ada alasan kenapa dia menutupinya."
Restu mengangguk, "Iya, coba besok abang tanyain lagi deh," ujarnya dan berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain.
Hari beranjak larut malam, obrolan ibu dan anak ini masih berlanjut membahas hal yang lain. Sampai akhirnya Restu melihat ibunya menguap beberapa kali.
"Keliatannya Ibu sudah ngantuk, Ibu duluan istirahat deh ya, sudah pukul sepuluh, Bu."
"Iya, Ibu tidur dulu kalau gitu. Oh ya, besok kamu libur, kan?"
"Nggak Bu, besok ada undangan makan di luar sama klien. Ini calon investor, jadi aku nggak enak nolaknya."
"Oh, ya sudah." Soraya mengangguk, Ia memaklumi keadaan anaknya yang super sibuk akhir-akhir ini.
***
Farada bertolak pinggang sambil menengadah memerhatikan ruko yang dia sewa dalam sebuah mal besar dan baru selesai renovasi di sulap menjadi kafe berkonsep minimalis industrial. Usahanya kini makin berkembang. Dia memutuskan memisahkan antara usaha katering dengan kafe yang sebelumnya masih bercampur di satu tempat. Dan itu perlu tempat yang baru.
Gadis itu tersenyum puas. Tak salah dia harus menyewa seseorang arsitek profesional kenalan dari Dian untuk menyulap kafe nya yang bergaya usang tapi terlihat moderen dan urban pada saat bersamaan. Letaknya pun sangat strategis, di kelilingi area perkantoran dan berada dekat kawasan perumahan elit.
"Farada?"
Farada menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria tampan berpakaian kasual menyapanya dan berdiri kira-kira dua meter di samping kiri.
"Lupa?" ulang pria tersebut tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
Gadis itu tak segera menjawab, dia familiar dengan wajah itu tapi sedikit terlupa. Dia memutar ingatannya kembali, baru setelah itu...
"Ah ya, Pak Bimo?" Farada baru mengulurkan tangannya, "apa kabar, Pak? Nggak kerja?" sambungnya setelah mengingat siapa pria yang menyapanya ini. Pria yang dulu juga ingin mendekati dirinya namun dia abaikan karena reputasinya yang tidak bagus di mata kaum hawa.
"Ah, kamu! Masih panggil 'Pak' aja. Panggil 'Mas' dong! Hari ini kan tanggal merah Farada?" Bimo tersenyum tipis mendengar sebutan yang dari dulu tak pernah diubah Farada.
"Kamu, sudah nggak bekerja? Sejak kapan?"
"Iya, Pak. Udah beberapa bulan yang lalu Sejak...yaa begitulah!" Farada enggan membahasnya.
Melihat gestur tubuh dari lawan bicara tak nyaman, Bimo langsung teringat kejadian yang sempat heboh karena batalnya pernikahan gadis itu, "Ehh..maaf! Waah...ini kafe kepunyaan kamu? Bagus banget konsepnya, boleh dong nanti saya coba?" ujar Bimo tak enak hati, Ia mencoba mengalihkan pembicaraan kemudian mendekat memerhatikan dekorasi kafe di hadapannya ini.
Farada terkekeh pelan. Baguslah! Nggak usah bahas-bahas pekerjaan, ujung-ujungnya nanti membuka cerita lama, batin Farada.
"Konsepnya minimalis industrial, Pak. Kita baru buka lusa, karena training karyawan baru selesai besok. Tapi, kalo Pak Bimo mau coba rasanya sekarang bisa, ayok! gratis untuk hari ini he...he," Farada tertawa kembali, lalu mengajak Bimo masuk dan memberi kode pada karyawan senior yang baru beberapa orang ada disitu untuk menyuguhkan minuman terbaik dan beberapa cemilan.
"Mmh...gimana rasanya, Pak?" tanya Farada setelah minuman classic milk tea terhidang yang langsung disesap Bimo.
"Wow! Enak banget, Rasa teh dan susunya seimbang."
"Ini memang salah satu teh campur susu andalan kafe ini Pak Bimo," terang Farada bangga. "Ada beberapa jenis minuman andalan lainnya, mau coba?"
Bimo menggeleng, dia memang tak begitu menyukai minuman ala-ala kafe. Dia pencinta alkohol!
"Saya coba kopi biasa aja, ada?"
"Ada!" Farada kemudian meminta bartendernya untuk menyediakan kopi.
Selanjutnya mereka pun terlibat pembicaraan ringan. Pembawaan Bimo yang supel membuatnya percakapan menjadi akrab. Bimo sedikit heran dengan keterbukaan Farada yang sekarang ini. Dulu, gadis itu selalu menghindarinya. Dia masih ingat ketika mendatangi Farada di katering nya, gadis itu memilih pergi. Mungkin karena ada hati yang dia jaga, Bimo membatin.
Sekarang Bimo merasa pembawaan Farada lebih hangat. Gadis itu lebih terbuka meladeni guyonan-guyonan receh darinya.
"Sekarang Pak Bimo udah nikah dong? gadis yang mana akhirnya Bapak pilih?" tanya Farada tersenyum meledek. Track record pria di depannya ini sudah tak di ragukan lagi dalam percintaan, menurut Farada.
"Ah, kamu! Saya seolah terdengar seperti laki-laki brengsek aja deh!" sanggah Bimo tapi lelaki itu tertawa juga. "Saya belum menikah, Farada. Belum ketemu yang cocok. Menikah itu nggak sembarangan, harus ada kecocokan, harus nyambung, satu visi satu misi, ya kan?"
"Iya juga sih," Farada mengangguk, kecocokan, harus nyambung! Nah, dua arti kata tersebut yang tidak ditemukan nya dengan Restu, yang menjadi alasan utamanya memilih mundur. Apa kabarnya Mas Restu sekarang yah?
"Hei, dia bengong? Mikirin siapa, hayoo!" tegur Bimo melihat Farada tiba-tiba terdiam.
"Ehh..." Gadis itu tersentak, "nggak mikirin siapa-siapa, Pak. Cuma kepikir aja tadi masalah kata nyambung dan cocok itu. Aku sependapat. Sebab itu penting dalam sebuah hubungan. Apa lagi untuk ibadah terpanjang tadi," tutur Farada. Aihh...sok bijak gue!
"Karena itu ya? penyebab pernikahan kamu batal dengan Pak Restu, hm?" Bimo menebaknya. Farada tertawa miris, dia menjawab dengan anggukan kepala. Bukan hanya itu sih, ada alasan lain Farada membatin.
"Tapi...bagus sih kamu nggak jadi nikah dengan Pak Restu itu. Aku tahu siapa dia sebenarnya. Sebelum dengan kamu, dia juga pernah ga_"
"Pernah apa! Siapa saya sebenarnya?" Seseorang tiba-tiba memotong kalimat Bimo, dia berjalan perlahan menghampiri mereka berdua. "Sok tahu kamu!" tudingnya kemudian dengan sorot mata membunuh.
"Mas...?" Mata Farada membola.