
Mobil yang menghantarkan Dian memasuki pelataran parkir apartemen kediamannya. Apartemen yang rata-rata di huni oleh kalangan menengah ke atas ini terkesan sangat rapi dan bersih, menandakan bahwa pihak pengelola gedung tidak sembarangan dalam menerima orang yang menyewa. Buktinya, Dian harus melaporkan diri pada sekuriti ketika dia di antar seorang lelaki, yaitu Molan.
"Tempat tinggal kamu di lantai berapa? Biar saya antar sekalian," tanya Molan sambil mematikan mesin. Dia melirik jam di dashboard mobil sudah menunjukan waktu tengah malam, ralat, dini hari.
"Nggak usah, Mas. Saya di lantai dua kok, deket tangga naik itu," tolak Dian sambil menunjuk tangga yang persis di depan mereka parkir, lalu menunjukan jendela kamar yang terpampang mengarah dimana mereka berada.
Molan melihat-lihat sekeliling serta arah yang di tunjukan Dian. "Oh ya sudah kalau begitu." Molan menekan tombol knop buka pintu mobil dan Dian kemudian bersiap keluar.
"Mas, trima kasih banyak ya, sudah menolong saya, membantu saya di kepolisian dan mengantar pulang sekalian," tutur Dian sambil menangkupkan tangan di dada. Gadis itu merasa tak enak hati sangat tertolong oleh pria tampan baik hati di depannya itu.
"Nggak masalah!" Molan mengibaskan tangan, "Besok-besok hati-hati kalau pulang malam."
"Iya Mas." Dian menjawab sambil lambaikan tangannya, tapi Molan hanya menganggukkan kepala, lalu pergi seolah tak ada kejadian yang terjadi sebelum itu.
Haelah! Kenapa gue lambaikan tangan, bodoh! rutuk Dian sambil mengusap tengkuknya. Dengan langkah sedikit pincang, dia baru beranjak setelah memastikan mobil Molan telah pergi dari situ.
"Mbak Dian? Kamu dari mana jam segini baru pulang?"
"Astaga!" Dian terlonjak ketika membuka pintu dan mengusap dadanya beberapa kali, "Kamu ngagetin Kak!" ujarnya sambil mengatur napas. Suara teman sekamar yang sempat melihat kedatangannya dari balik gorden jendela membuat senyumnya sejak menaiki tadi, hilang. Ia terkesiap kaget.
"Sorry...," Melihat Dian berjalan masuk dengan langkah sedikit pincang, temannya merasa bersalah tapi kemudian mengernyitkan dahi, "Kamu...kenapa, Mbak? Kok jalannya begitu?" tanyanya curiga.
"Kakiku sakit, memar!" Dian menunjukan betisnya yang membiru, "aku tadi kena musibah, hampir di begal! Untung ada yang nolongin," sambung Dian.
"Astagfirullah! Serius, Mbak? Gimana ceritanya?" ujar sang teman menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Lalu, Dian pun menceritakan kronologi kejadian dia hampir di begal orang sampai seseorang datang menolong serta membantunya membuat laporan di kepolisian.
"Tunggu...jadi yang ngantar kamu tadi, dia yang nolongin? Trus, motor kamu mana?" tanya teman Dian setelah menyimak cerita yang membuatnya bergidik ngeri. Dia sempat melihat Dian di antar seseorang yang dia yakini itu seorang pria memakai mobil jeep hitam walau terlihat samar karena lampu jalan di bagian itu redup, tapi dia seperti mengenal mobil tersebut.
"Loh, kamu liat aku diantar, berarti udah bangun dari tadi?" ujar Dian balik bertanya, lalu berjalan ke arah sofa kecil di ruang tengah dengan sedikit pincang, "motor aku di tinggal di kantor polisi, besok katanya ada yang nganterin," terangnya kemudian.
Temannya mengangguk baru mengerti, "Ooh...," dia mengikuti Dian duduk, "Iya, tadi aku kebangun pengen ke toilet, aku liat kamar kamu masih kosong." Apartemen Dian memang memiliki dua buah kamar saling yang berhadapan.
"Omong-omong, siapa nama laki-laki yang nganterin kamu tadi, Mbak?" Akhirnya pertanyaan yang sedari tadi dia tahan tercetus juga.
"Ya ampun!" Dian menepuk jidatnya, "aku lupa nanyainnya!" cetusnya tersentak baru ingat bahwa dia lupa menanyakan nama si pria tadi. Padahal ketika di mobil tadi, sempat terlintas untuk menanyakannya, cuma melihat lelaki itu lebih banyak diam, niatnya dia urungkan. "Soalnya kita di BAP nya terpisah, jadi nggak tau namanya," imbuhnya lagi.
"Orangnya ganteng banget! Eh...tapi Kak, tampangnya familiar deh, ngg..kayak mirip seseorang! Siapa yah?" Dian menerawang mencoba menghubungkan wajah yang ada di benaknya. "Mi-rip ... Pak Restu! Yaa, Pak Restu."
Degg!
Muka teman Dian langsung berubah, tapi Dian tidak memperhatikannya.
"Tapi, nggak terlalu sama sih. Dia lebih tegap bodi-nya, matanya lebih tajam, kayak elang! Kalo Pak Restu kan lebih sendu-sendu gimanaa gitu!" sambung Dian kembali. "Kak! Kamu dengerin nggak sih cerita aku?"
"Ehh...iya aku denger kok!" ujar teman Dian gelagapan tersentak dari lamunannya. "Yaudah, yuk! Kita tidur, besok sambung lagi ceritanya, udah mau pagi soalnya." ujar sang teman selanjutnya sambil berdiri siap-siap ke kamar.
Setelah beberapa menit...
"Astagfirullah!" dengan muka panik, kembali Dian menepuk jidatnya di dalam kamar. Dia yang tengah bersiap tidur buru-buru bangun dan tergesa menuju kamar temannya, "mudah-mudahan belum tidur!"
Dian mengetuk kamar temannya,
"Kak, udah tidur belum?"
Teman Dian yang masih terjaga, tersentak dan menghapus air matanya. Gadis itu mengatur napasnya agar tidak ketahuan oleh Dian bahwa dia sedang bersedih, "Iya, sebentar!" lalu membuka pintu, "ada apa, Mbak?"
"I-tu, handphone aku ketinggalan di mobil cowok ta..." kalimat Dian tiba-tiba terhenti, dia menjeda dan alisnya segera bertaut, "kamu habis nangis, Kak?" tanyanya sambil memajukan mukanya memastikan.
"Eh..ng-nggak, aku habis gosok gigi mau tidur," ujar temannya berbohong, dia mengusap mukanya beberapa kali, "Hape kamu ketinggalan?"
"..."
Dian tak segera menjawab, dia masih tak percaya, tapi kemudian mengangguk. "Iya, lupa aku tadi masukin ke dalam tas, sepertinya jatoh di jok mobilnya dia deh. Tolong teleponin dong, mudah-mudahan dia masih di jalan."
Temannya mengambil gawainya lalu mencoba menghubungi beberapa kali, tapi tak di angkat. "Kayaknya dia udah tidur deh, besok pagi aja kita telpon lagi."
"Kirim pesan aja kalau gitu."
"Kamu aja yang ngetiknya!" ujar sang teman sambil menyerahkan ponsel ke Dian yang lalu mengetik sesuatu.
***
"Loh? Ini handphone siapa?," Molan bergumam lalu merunduk mengambil sebuah gawai yang tergeletak di bawah jok samping mobil. Pagi ini dia hendak bersiap ke kantor pusat. Bukan untuk bekerja sebenarnya tapi dia ingin menemui Restu. "Wahh...jangan-jangan ini Hape-nya cewek semalam?" Dia mencoba cek, ternyata ada banyak notifikasi beberapa panggilan masuk dan pesan-pesan.
"Nggak di kunci? Wah, sembrono juga ini perempuan." Sejenak Molan ragu, apakah harus membuka ponsel tersebut yang berarti akan membuka privasi orang atau mengabaikannya dan otomatis dia mengembalikan ke apartemen wanita itu, sebuah PR lagi, bukan?
Beberapa menit lamanya Molan diam menimbang siapa yang harus dia hubungi, dan dia menjatuhkan pilihan pada sebuah nomor yang terakhir menghubungi ponsel yang di pegangnya tersebut. Tertera di layar...Kakak Owner.
Sementara di tempat lain, seorang wanita tengah bersiap untuk pergi. Tiba-tiba ponselnya berbunyi sebuah panggilan masuk. Di layar tertulis nama Dian! Gadis itu gegas langsung mengangkat gawai nya dari meja rias.
"Halo?" sapa gadis itu sambil mengambil tas dan berjalan menuju kamar Dian.
"..."
"Halo?" ulang gadis itu kembali, "Ini saya temannya yang punya handphone, yang tertinggal di mobil Anda semalam, Mas."
Belum ada sahutan.
Di seberang sana, Molan tertegun, dia merasa familiar dengan suara ini.