
"Eh...gimana? Apa kata Tuan Muda?" tanya Tissa masih berbalut handuk baru keluar dari kamar mandi. Dia lihat Farada sedang mengeluarkan bajunya dari koper.
"Ya, nggak gimana - gimana. Dia bilang biar komunikasi jadi gampang, makanya kamar kita pindah. Hhh... alasannya aja tuh! Kan bisa pakai ponsel atau telepon kamar kalau ada perlu, ya kan?" rungutnya sambil terus membenahi pakaian dan menyusunnya di lemari.
Tissa justru heran mendengar tuturan Farada, "Eh...enak tau kita di pindahin kesini. Ini kan kamar ekslusif, mahal! View nya pun bagus, langsung menghadap gunung merapi loh!" Tissa lalu menyibak kain lapis horden di kaca besar yang memperlihatkan gunung legendaris itu menjulang tanpa tertutup awan. Dia kira keluhan Farada hanya main-main, tapi ternyata temannya itu benar - benar melakukan protes pada Molan ketika Ia sedang mandi.
"Iya, tapi..."
Suara ketukan di pintu menghentikan obrolan Farada dan Tissa. Gadis itu menoleh sebentar ke arah Tissa, dia tak mungkin menyuruh gadis berwajah innocent itu membuka pintu, bukan? Sementara handuk masih melilit di badan. Farada pun segera berdiri dengan malas dan menuju pintu. Ck, dia sudah menduga siapa lagi kalau bukan si konyol itu yang datang, julukan baru yang dia sematkan pada Molan mulai saat ini.
"Eits ..tunggu! jangan dibuka dulu, aku mau pakai baju," Tissa langsung berlari ke kamar dengan terburu, untung lilitan handuk putih di badannya tidak terlepas.
Setelah memastikan Tissa sudah memasuki kamar dan menutup pintu, barulah Farada membukanya. Tebakannya benar!
"Ada apa?" tanya Farada tanpa memberi ruang jalan masuk, pintu dia buka hanya sedikit. Niat semula ingin mandi, bersih - bersih badan yang terasa lengket sejak dari Denpasar tadi. Jika membiarkan si-konyol ini masuk, pasti mengobrolnya akan lama, bukan?
Molan perhatikan muka Farada yang masih belum berubah semenjak dari Bali tadi, malah terkesan berantakan dengan rambut di ikat, sebagian nya jatuh di dahi. Ia mendorong bahu Farada bergeser ke samping agar dia bisa lewat, memaksa masuk.
"Ish...aku mau mandi! nanti aja kalau mau ngobrol." Tukas Farada sebal. Keinginan mandi setelah itu istirahat sepertinya batal. Dia mengalah pada akhirnya dan memberi jalan.
"Siapa yang mau ngajak ngobrol?Aku mau ngajak makan. Ya...kamu mandi aja dulu, nggak masalah kan? aku bisa tunggu, lagian ada Tissa juga, mana dia?"
Tissa langsung keluar dari kamar ketika Molan menanyakannya, kebetulan dia baru selesai rapi berpakaian, "Tuan Muda panggil saya?" ujarnya menunjuk diri.
Molan mengangguk, "Iya, siap - siap kita mau makan di bawah, kita sudah di tunggu_."
"Kalau aku dan Tissa nggak ikut bisa nggak? aku masih kenyang rasanya, pengen istirahat dulu, boleh?" sela Farada dengan wajah penuh harap, "lagian jam delapan malam nanti seminar marketing nya di mulai...aku pengen istirahat dulu," sambung Farada selanjutnya.
Perlu di ketahui, Molan dan Farada datang ke Jogja dengan tujuan berbeda sebenarnya. Molan di suruh sang papa untuk mewakili dirinya bertemu dengan kolega dari Australia, sedangkan Farada dan Tissa adalah perwakilan dari Luxury Bali menghadiri pelatihan sekaligus seminar tentang langkah Promosi Perhotelan Dalam Era Digital, kebetulan pembicaranya adalah orang yang sama yang akan di temui Molan keesokan malam. Colin Juliano Ferdinand.
Tissa hanya diam saja menanggapi protes Farada. Hanya temannya ini yang sanggup melakukan protes atau penolakan terhadap sesuatu hal yang tidak disukainya dari tuan muda itu.
Molan berpikir sejenak, dia pikir benar juga apa yang dikatakan Farada lalu kemudian berdiri dari sofa.
"Ya sudah, kalian istirahat aja kalau gitu. Aku aja, kasihan GM nya sudah menunggu di bawah," ujarnya sambil meraih ponsel untuk menghubungi seseorang dan berlalu pergi dari ruangan itu.
"Asyik! kita bisa bersantai dulu, masih ada banyak waktu untuk sekedar leyeh-leyeh." Tissa berteriak senang menghempaskan pantatnya di sofa panjang. Ia harus berterima kasih pada Farada karena memang dari sejak kemarin malam dia kurang tidur. Sudah tiga hari ini bekerja non-stop, selalu lembur.
"Eh...tapi Sa, aku pikir kayaknya kita ikut makan aja deh, benar nggak? Soalnya nanti apa kata Bu Sita kalau kita juga sebagai karyawan Luxury tapi nggak ikut di jamu beliau...masa, karyawan di undang General Manager nggak mau?"
"Yaaahh..." Tissa langsung mencelos, dia langsung tengkurap di sofa menutupi mukanya.
***
Luxury Resort Hotel Yogyakarta merupakan hotel bintang lima yang serba lengkap. Selain memiliki padang golf nan apik serta tempat Spa, hotel ini juga memiliki restoran yang berkelas dengan sajian lengkap selera nusantara. Salah satunya adalah Kemangi Bistro yang mempunyai dua sisi ruang makan, in-door dan out-door.
Molan keluar dari pintu lift. Dengan langkah santai dia berjalan menuju sisi luar restoran. Dari balik kaca - kaca besar pemisah antara sisi dalam dan luar restoran itu dia bisa langsung melihat kearah kolam berenang seorang wanita dengan berpakaian santai seperti sedang mencoret-coret sesuatu diatas kertas, menunggunya.
"Sudah lama menunggu?"
Sita langsung mendongak dan segera meletakkan ponselnya di meja, dia tersenyum kemudian berdiri menyambut Molan dengan sikap lebih santai, walau masih sedikit terlihat formal.
"Belum lama Tuan Muda, saya juga baru sampai. Maaf, saya sudah lepas jam kerja, jadi berpakaian santai menjamu Tuan disini..." ujar Sita sambil melirik sekeliling, "Farada dan Sita tidak ikut bergabung?"
"Mereka minta ijin nggak ikut, karena mau mempersiapkan bahan untuk seminar nanti malam." jawab Molan datar dan menarik kursi lalu duduk dengan posisi berseberangan dengan Sita.
"Oh gitu...saya sudah pesan Lobster dan beberapa menu lainnya, mudah-mudahan Tuan suka. Oh ya, Tuan tidak ada elergi dengan makanan tertentu kan?"
Molan menggeleng.
"Panggil Molan aja, seperti yang saya bilang tadi, nggak usah terlalu formal jika diluar jam kerja_"
"Kamu...suka menggambar?" sambung Molan sambil mengambil lembaran kertas dimeja bekas goresan tangan Sita. Terlihat seperti gambar abstrak. Rupanya sewaktu menunggu dirinya datang, gadis itu menyalurkan hobinya. Dia sedikit mengerti dengan seni dan dia bisa menilai bahwa gambar abstrak ini seperti menggambarkan sebuah misteri.
"Hanya sekedar membunuh waktu aja sih," elak Sita merendah. Padahal kalau Molan datang ke ruang kerjanya, pria itu akan melihat setumpuk kertas berisi gambar - gambar lukisan, belum lagi jika datang ke rumahnya ada lagi sebuah ruangan khusus melukis, dan pajangan di dinding hasil goresan tangannya.
"Tapi, sepertinya kamu sangat berbakat? Apa lagi ka_"
"Maaf Bu Sita, kami terlambat!"
Molan seketika menoleh ke samping kearah sumber suara. Farada dan Tissa telah berdiri di situ sedang membungkuk sambil menangkup tangan di d*d* meminta maaf pada Sita.
"Oh iya, nggak masalah, kami juga belum mulai kok...silahkan kalian duduk, sebentar lagi makanannya datang." ujar Sita sambil menyimpan lukisan kertas yang diberikan Molan ke dalam sebuah map dan memasukannya ke dalam tas besar yang selalu dia bawa.
"Katanya tadi kamu sama Tis..."
"Iya, ternyata berkas-berkas yang kami butuhkan untuk seminar nanti, ada sama Tissa kok!" potong Farada cepat sambil tersenyum palsu ke arah Molan.
Molan pun mengernyitkan dahi jadinya, tak mengerti kemana arah pembicaraan Farada tersebut.
Kebingungan yang sama terjadi dengan Tissa, Farada kenapa?