
Molan memacu kendaraan sport nya dengan kecepatan cukup tinggi membelah jalur Pondok Indah - Menteng. Tapi Ia tetap berusaha fokus dan tenang di tengah pikirannya yang rumit sejak sore tadi. Sita telah diantarkan ke rumahnya. Rencana ingin memberi kejutan dengan mengajak gadis tersebut menemui Restu di kantornya akhirnya urung dilakukan. Ultimatum sang 'Tuan Besar' tak bisa dia tolak kali ini, yaitu foto keluarga. Dan, itu siapa lagi kalau bukan dengan dua orang tambahan anggota 'baru' dalam kehidupannya, Restu dan Ibu Soraya.
Yang benar saja! pikirnya, tak henti - henti Papanya memberi kejutan, mulai dengan kehadiran orang dari masa lalunya yang membuat sang Mama menjadi korban, lalu Farada wanita yang dicintainya harus di renggut dan di jodohkan dengan sang kakak yang baru bertemu, Restu. Belum selesai dia menata perasaan setelah menerima pukulan - pukulan itu, kini dia dipaksa harus melakukan sesi foto bersama dengan orang - orang itu semua?
Ah! Yang benar saja!
Molan tiba di Mansion Papanya sedikit terlambat, lebih kurang lima menit. Walau berkendara dengan kecepatan tinggi tadi, tapi padatnya arus lintas tetap tak bisa dia taklukan. Semua telah hadir, hanya tinggal menunggu dirinya seorang.
Molan kemudian keluar dari mobilnya, dan berjalan masuk mansion lewat pintu samping melewati beberapa orang Art dan pengawal Papanya, sesekali dia membalas sapaan mereka dengan senyum dia paksakan, sedangkan jas hitam merek Prada yang akan dikenakan nanti hanya digantung begitu saja di bahu.
Ketika naik ke lantai dua suasana terlihat sepi saja, lalu dia bertanya pada seorang Art yang sedang berada disitu, dimana Papanya menunggu. Art itu pun kemudian mengarahkan Tuan Muda mereka itu ke lantai tiga di bagian paling belakang, yang masih bagian dari bangunan induk. Molan tersenyum miris, kapan terakhir kali dia memutari bangunan mansion yang besar ini, dia tidak ingat lagi, hingga dia lupa tempat dimana biasanya ruangan tempat keluarganya berkumpul.
Ketika sampai di lantai tiga yang di maksud, sayup terdengar percakapan beberapa orang dari dalam pintu yang tertutup. semua telah hadir, hanya tinggal menunggu dirinya seorang. Molan membuka pintu tanpa dia ketuk, kebiasaan yang sulit dia hilangkan jika berada di mansion ini. Pertama kali yang dia lihat adalah Papanya yang tengah duduk di sofa kebesaran persis mengarah padanya dengan raut muka masam. Mungkin kesal karena menunggunya.
Molan masih berdiri di tengah pintu. Penglihatannya pun beralih ke Ibu Iin atau Soraya yang duduk bersebelahan dengan Papanya. Wajah teduh Ibu Soraya membuatnya cepat memalingkan muka. Walau hatinya masih menolak kenyataan tapi melihat sosok Soraya, Molan tak bisa pungkiri bahwa dia merindukan seorang Ibu.
Restu. Ya, pria yang faktanya kini menjadi kakaknya itu tengah memandangnya dengan tenang. Tak terlihat permusuhan di matanya, tapi juga bukan persahabatan. Dingin dan datar saja.
Setelah mengintimidasi semua yang ada disitu dengan wajah sinis, Molan lalu melangkah perlahan masuk untuk segera bergabung. Si fotografer yang terlihat sedikit nyentrik dengan rambut di kuncir, sedari tadi berada di pojok ruangan sibuk menyiapkan peralatan dengan satu orang asisten pun segera bersiap menunggu perintah Tuan Besar untuk memulai pemotretan.
Tapi...tunggu!
Dada Molan langsung sesak ketika melihat satu sosok yang sangat dikenalnya muncul dari arah toilet keluarga yang berada di bagian belakang sedang berjalan menuju ruang tengah. Langkah Molan terhenti, Ia seolah tak percaya Farada juga ikut berada disitu.
Keterkejutan yang sama pun dirasakan Farada, gadis itu memang sudah diberitahu sebelumnya bahwa Molan akan termasuk dalam sesi pemotretan ini, tapi tetap saja dia merasakan grogi dan kikuk melihat pria di hadapannya itu sedang memandang dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dada Farada pun sesak seketika saat mata mereka beradu pandang.
Molan lebih dahulu memutus kontak mata. Ia berharap perjodohan itu tidak pernah terjadi sampai tahap pernikahan, tapi sepertinya, harapannya itu tak bakal terwujud. Semua sudah sampai di tahap ini.
Erick kemudian meminta fotografer untuk segera melakukan tugasnya. Asisten Fotografer kemudian mengatur letak sofa dan meja serta karpet permadani warna merah yang akan dijadikan tempat pemotretan. Hanya dua sofa yang dipakai, selain itu di pinggirkan ke tepi.
Erick dan Soraya berpose duduk di sofa sedangkan Molan, Restu dan Farada berdiri dibelakang mereka.
Tapi, kegiatan sempat tertunda, karena terjadi perdebatan ketika sang fotografer mengatur posisi Molan yang berdiri tidak mau berdekatan dengan Restu yang berdiri di tengah. Molan memilih terpisah dan berjarak sendiri dibelakang. Restu sempat melirik Molan agar segera mendekat padanya agar pemotretan ini segera dimulai dan selesai. Dia pun sebenarnya tak ingin berlama - lama dalam situasi itu. Ia ingin secepatnya pergi. Tapi, Molan justru membalas lirikan Restu dengan tatapan tajam, genderang permusuhan dia kibarkan lewat kilatan matanya.
Sedangkan Farada hanya terdiam, dia berada dalam posisi terjepit, tak bisa berbuat apa - apa, dan dia hanya menunduk saja.
Akhirnya Soraya pun mengurai situasi yang mulai memanas, Ia menyuruh fotografer tetap melanjutkan kerjaannya dan memberi isyarat pada Erick untuk tidak memaksa Molan.
Namun,
Kembali terjadi kendala ketika akan dilakukan pemotretan. Molan beberapa kali di suruh untuk tersenyum karena ini foto keluarga bukan?. Akan aneh rasanya jika tiga orang yang berdiri di belakang saling memasang wajah cemberut.
Erick yang sudah merasa kesal dengan putera keduanya itu, kembali menegur, "Molan, Papa berharap kamu bekerja sama, biar ini cepat selesai. Kalau kamu tidak bisa diatur, ini tak akan mulai!"
Molan tetap bergeming, dia tak mengindahkan teguran Papanya. Kembali, Soraya pun ambil alih situasi, dia menyuruh sang fotografer itu tetap melanjutkan tugasnya memotret dengan keadaan apa adanya.
Pemotretan foto keluarga itu pun akhirnya tetap dilakukan.
Setelah selesai pemotretan, Molan pun tak ingin berlama - lama, Ia berniat segera pergi dari ruang keluarga. Tapi di cegah oleh Erick.
"Tunggu! kamu jangan pergi dulu. Ada satu sesi lagi," Erick menjeda, lalu berdiri, "sekarang, kalian bertiga berfoto bersama," ujarnya sambil menyuruh Restu dan Farada untuk tetap disitu.
Molan langsung terhenyak, seketika dia melongo. Dia tak terima dengan rencana Papa nya itu. "Pa! Apa lagi rencana yang ada di benak Papa? Kenapa harus begini?" protes nya sambil berjalan tetap ingin berlalu dari situ. Rencana Papanya itu sangat tidak masuk akal.
"Molan!" Erick membentak dan menyusul putera nya itu sampai di depan lift. "Molan!...Tunggu!"
Molan berhenti dan berbalik badan, amarah terlihat jelas di wajahnya, tapi dia mencoba mengatur napasnya untuk meredam kemarahannya itu. "Pa, apa yang tadi itu belum cukup? Apa Papa nggak pikirkan gimana luka disini?" Molan memegang dadanya dengan telapak tangan, "perih, Pa!" ujarnya lirih sambil menerawang.
Erick terdiam, dia menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan puteranya tersebut.
"Kenapa Papa harus mengulang kesalahan Oma yang dulu memaksakan kehendaknya dengan menikahkan Papa dengan Mamaku? Yang akhirnya Mama harus menderita sampai akhir hayat, karena kesalahan Papa yang terikat dengan masa lalu!" Molan menjeda, dia membuang napasnya dengan kasar, dan mengatur emosinya agar tidak meledak, lalu, "Papa harus memendam perasaan selama 30 tahun untuk menunggu perempuan yang Papa cintai, tapi aku...mungkin harus menyimpan perasaan ini terhadap Farada seumur hidup!" Molan menjeda kembali, Ia menatap mata Papanya lekat - lekat, "Karena aku sangat mencintai Farada, Pa!"
Erick tak mampu berkata - kata, dia tak ingin mendebatnya, ucapan Molan ada benarnya. Walau sebenarnya ada hal lain yang ingin disampaikan terhadap putera keduanya itu mengapa dia melakukan itu tapi mengingat kondisi anaknya dalam keadaan emosional, lebih baik nanti saja dia ungkapkan.
Karena Papanya tak jua mengeluarkan suara, Molan kemudian pergi berlalu dari situ.
Tanpa disadari, Farada sedari awal sudah mendengarkan pembicaraan mereka berdua dari balik pintu dengan air mata yang tergenang, Ia menahan tangis.