
"Kau...melakukan kesalahan besar berurusan dengan saya, Bimo!" tunjuk Restu, wajahnya berubah dingin. Sejenak, dia menoleh ke arah Samantha sebelum berlalu pergi meninggalkan Bimo dan Samantha yang masih syok dengan kejadian itu.
"Apa itu tadi?" tanya Samantha dengan raut kesal, setelah dia dan Bimo meninggalkan tempat kejadian itu. Sekarang mereka berada di area parkir.
Bimo menarik napasnya, tapi ketegangan masih tergambar di wajahnya. "Maaf Tha, aku tersulut emosi tadi. Aku nggak terima Pak Restu itu nuduh seolah aku pria yang brengsek! Oh ya, aku mau tanya satu hal...kamu kenal dimana dengan Pak Restu itu?"
"Jauh sebelum aku kenal sama kamu!" tegas Samantha dengan juteknya, "waktu masih di London! Dan, kamu tau__"
"Tunggu... Dia dulu pacar kamu?" potong Bimo cepat.
"Calon suami! Paham?" ujar Samantha dengan mata mendelik, "dan, aku kecewa sama kamu yang suka main kekerasan!" sambung Samantha lalu meninggalkan Bimo yang terdiam.
"Tatha...Samantha, tunggu!"
Tapi gadis itu tetap pergi tak pedulikan panggilan Bimo.
Bimo mengepalkan tangannya menahan amarah.
Sementara, di tempat lain...
Molan masih berusaha menghubungi Farada. Dia sudah berulang kali menelpon tapi tidak pernah di angkat. Sejak pertemuan terakhir di Gunung Putri tempo hari, mereka tak pernah lagi berkomunikasi. Farada seolah menjauh.
"Farada, respon telpon aku, dong?" Molan mengetik sebuah pesan, berharap Farada membalas chatingannya. Tapi, setelah 5 menit berlalu, harapannya tak terkabul. Farada tetap tidak merespon, hanya centang dua abu tanpa berubah biru.
Molan melemparkan ponselnya ke jok sebelah, otaknya berpikir. Tiba-tiba timbul ide dalam benaknya. Ah ya...gue ke rumahnya aja deh!
Hari sudah beranjak sore ketika Molan tiba di depan rumah Farada. Dia melihat dari luar pagar. Pintu rumah gadis itu sedikit terbuka, menandakan penghuninya ada. Pria itu turun dari mobil dan mencari bel lalu menekannya.
Seorang pria muda berbadan tegap berambut cepak keluar menghampiri. Tingginya hampir sama dengannya. Pria muda itu terlihat mengernyitkan dahi, "Mencari siapa Mas?" tanyanya datar tapi terlihat ramah.
Melihat pria berpostur militer tersebut, Molan langsung bisa menebak, "Maaf, Anda kakaknya Farada?" Ya, Farada dulu pernah cerita bahwa dia punya kakak yang bekerja sebagai abdi negara, sudah berkeluarga dan menetap di Yogyakarta.
"Betul, saya Farhan, kakaknya. Anda siapa? Dan, mencari siapa?" tanyanya pria itu langsung tanpa basa-basi. Gaya militernya begitu kentara. Kemudian dia membuka pagar.
"Saya Molan, temannya Farada. Maaf, Faradanya ada?"
Farhan menelisik wajah Molan sebentar. Dia sudah mendengar cerita tentang siapa pria di depannya ini. Oh ini dia orangnya?
"Masuk dulu kalau begitu Mas!" ujarnya sambil membuka gerbang dan menyuruh Molan memasukan mobilnya parkir di dalam.
Farhan mengajak Molan berbincang di teras, setelah sebelumnya meminta di buatkan minuman pada istrinya. Kebetulan Pak Handoko dan Ibu Herlina sedang tidak ada di rumah.
Kedua pria itu langsung terlibat pembicaraan hangat. Pembawaan Molan yang supel serta umur mereka sebaya membuat keduanya cepat akrab hingga begitu terbuka bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Dari situ Molan baru tahu bahwa Farhan mengambil cuti dan baru kembali dari Libanon dalam rangka tugas perdamaian.
Setelah cukup berbasa-basi, wajah Farhan berubah serius, dia bertanya, "Omong-omong...Farada sudah beberapa hari ini tidak ada disini. Ada apa kamu mencari adik saya?"
"Oh, Faradanya dimana, Mas?"
"Panggil nama saja, sepertinya kita sebaya," Farhan tersenyum tipis, lalu melanjutkan kalimatnya, "maaf, saya tidak bisa beritahu dia dimana, karena...yaa, kamu tau sendiri kan dia lagi ada problem begini? Dia sedang butuh waktu untuk menyendiri."
Terlihat jelas raut kecewa di wajah Molan, dia menarik napas beratnya. "Masalahnya itu, mungkin menyangkut ke diri saya juga."
Molan manarik badannya ke belakang, bersandar di kursi, "Saya mencintai Farada, begitu juga sebaliknya. Saya yang akan menikahinya." ujar Molan dengan penuh keyakinan.
Farhan justru tersenyum tipis mendengarnya, pria itu mencondongkan badan ke depan. "Kamu tahu? Ketika itu orang tua saya sudah berulang kali memintanya untuk berpikir mengenai keputusan yang dia ambil, dengan segala resiko yang besar nantinya yang akan terjadi. Tapi, dia bergeming! Hanya tak ingin kalian bersaudara pecah dan perasaannya terhadap kamu harus dia putus. Dan, kamu tahu? Papa saya harus bekerja keras untuk menutup akses wartawan jangan sampai berita ini menjadi besar yang beresiko terhadap reputasi keluarga Anda? Dan...," Farhan menjeda kalimatnya, memperhatikan iris mata Molan beberapa detik, lalu, "... sekarang, di saat adik saya sedang berjuang untuk menenangkan dirinya, tak ingin terlibat lagi dengan kamu dan keluargamu, tiba-tiba...kamu ingin menikahinya?"
Farhan gelengkan kepala sambil tertawa sinis, dan meneruskan kalimatnya, "Kamu egois!" ujarnya kemudian.
Molan terdiam beberapa saat meresapi kata-kata. "Tapi, saya hanya ingin bertemu. Tolong di bantu, Farhan!" pinta Molan dengan nada bermohon.
"Anda berusaha terlalu keras, Tuan Muda!" ujar Farhan menutup pembicaraan.
***
Molan berbaring di ranjang dengan gelisah. Sudah hampir pukul sepuluh malam dia belum bisa memejamkan mata. Ya, masih terlalu dini memang untuk tidur tapi Ia lelah, dan seharusnya itu mudah untuk membuatnya tertidur, tapi nyatanya malah Ia tak bisa memicingkan mata sedikit pun karena otaknya terus berandai-andai sejak siang tadi.
Memang bukan Restu yang telah masuk menjadi bagian dari keluarganya yang membuat Molan frustasi, melainkan sosok Farada yang seandainya dia nikahi kalau dia lebih dahulu mengenal gadis itu dari pada Restu. Tapi sekali lagi, itu hanyalah khayalan.
Nyatanya, Farada sekarang menjauhinya ketika gadis tersebut mulai jatuh cinta dengannya.
Karena tak bisa tidur dan hanya memikirkan Farada, Molan kemudian bangkit dari ranjangnya dan memutuskan untuk keluar. Siapa tahu udara malam yang dingin dapat menyegarkan otaknya. Mungkin sekedar jalan-jalan atau nongkrong sendirian di kawasan Blok M sambil menikmati gulai tikungan kesukaan yang sering kali dia lakukan ketika sedang merasa bosan.
Molan meraih kunci mobilnya dan langsung melarikan kendaraannya menuju Mahakam.
Dia mencoba mengalihkan pikirannya dengan mendengarkan musik dan sesekali jarinya bermain di setir mengikuti hentakan musik yang berirama keras yang dia stel. Tiba-tiba mendekati perempatan lampu merah Molan terkejut ketika motor yang persis di depannya seperti dikendarai seorang wanita di pepet oleh dua orang lelaki berboncengan mengendarai motor dua tak.
Naluri Molan langsung mengatakan, begal! Dan benar, dengan kecepatan yang di milikinya, salah satu pemuda yang berboncengan berusaha menarik tas si wanita sambil mengacungkan sebuah benda yang diyakini Molan itu senjata tajam. Kebetulan suasana memang terlihat sepi kala itu.
Molan bereaksi cepat, dia menekan pedal gas mobil sportnya dan langsung menghantam begal tersebut hingga terpental, begitu juga halnya dengan si wanita langsung oleng ke pinggir.
Salah satu begal terkapar tapi yang satunya lagi mencoba bangun dan berusaha untuk lari, tapi Molan yang segera turun langsung menerjangnya menghantam rusuk hingga kembali begal itu terjerembab. Terjadi perkelahian yang tak seimbang. Walau begal itu memakai senjata, tetapi Molan berhasil meringkusnya. Hingga kemudian orang-orang yang setelah itu lewat ikut membantu dan menghubungi pihak kepolisian.
Malam yang seharusnya bisa membuat Molan tenang justru menambah ruwet otaknya. Bagaimana tidak, dia harus menemani wanita korban begal tadi membuat laporan di kepolisian. Dan, motor si wanita harus masuk bengkel karena onderdilnya ada yang rusak.
Setelah selesai buat laporan dan motor harus di titip dulu di kepolisian, Molan bertanya, "Jadi, gimana nih mbak? Siapa namamu tadi?"
"Dian," jawab si wanita masih dengan raut syok, "trima kasih Mas, saya langsung pulang naik online aja."
"Ah ya, mbak Dian kalau gitu saya antar aja. Hari jelang tengah malam soalnya, takutnya ada begal lagi. Rumahnya dimana?"
"Masih jauh Mas, saya tinggal di sebuah apartemen kecil di daerah Petamburan," jawab Dian. Trauma masih membayanginya.
Dian sempat beberapa kali menolak tapi Molan keukeuh ingin mengantar, karena dia kasihan wanita ini harus pulang sendirian, dan masih syok.
"Kamu...tinggalnya bersama orang tua di apartemen?" tanya Molan ketika sudah dalam perjalanan pulang ke tempat wanita tersebut.
"Nggak Mas, orang tua saya di Yogya. Saya tinggal sendirian, tapi sekarang ada teman saya yang nemanin sementara."
"Ooh..." jawab Molan pendek.