
Mereka berdua berjalan di sepanjang jalan setapak, masih dalam lingkungan hotel. Farada agak menundukan kepalanya. Belum ada yang coba buka suara sejak keluar dari kamar Farada tadi. Entah kenapa, di depan pria tampan nan cool ini, Farada seolah mati gaya. Mungkin karena rasa bersalah sedikit memenuhi pikiran. Huh! ini gara-gara tuan muda yang konyol itu, yang seenaknya main tarik memaksa melihat senja di pinggir pantai. Tapi...aku menikmatinya, gimana dong? maksudnya...menikmati sunset itu!
"Kenapa muka kamu begitu? kadang menunduk seolah sedih, tapi kadang senyum-senyum, seperti orang bahagia," tanya Restu dengan nada sarkas.
Ya ampun...si bapak!.
Farada menoleh lirik mata pria yang tingginya sekitar 175cm disampingnya itu, "Tadi tuh, aku dan tim baru menyelesaikan persiapan jelang acara besok, trus teman aku itu ngajak lihat matahari terbenam. Ya...itung-itung refresh otak, ya aku ikut aja." jawab Farada sambil senyum walau sedikit canggung.
"Ckk!...kamu ini, lain yang ditanya...lain pula jawabnya. Saya kan tanya, kenapa muka kamu itu kadang senyum kadang kayak sedih, gitu lho!"
Farada makin grogi...dia pikir Restu ini cocoknya jadi reserse deh... meng-intimidasi pertanyaannya.
"Ohh..eh..iya itu tadi, ada perasaan nggak enak sama mas Restu, nanti aku dikira ada hubungan apa gitu sama si Molan. Tapi di satu sisi, aku memang suka lihat sunset, kayaknya pikiran aku jadi tenang."
Restu menghentikan langkahnya, dan merubah posisi berhadapan dengan Farada, "Memangnya, nggak enak kenapa? kalau pun kamu memang ada hubungan sama si Molan itu, ya..nggak apa-apa juga," jawab Restu sambil memasukan kedua tangan ke kantong celana, "lagi pula saya tahu kok siapa dia...anaknya yang punya hotel tempat kamu bekerja ini, kan? Dia punya segalanya untuk mendapatkan kamu."
Farada merasakan sesak di dada mendengar narasi yang terlontar dari mulut pria yang disukainya itu.
"Kok, mas Restu kayak gitu? maksudnya tadi aku cerita, untuk menjaga perasaan mas, biar nggak salah tanggap..." lirihnya menunduk sambil meremas kedua jari tangan.
Farada merasa, Restu ada sedikit perubahan dalam sikap. Kata-katanya lebih tajam. Apa karena dia cemburu? bolehkah dia mengambil kesimpulan seperti itu? Pria aneh...
"Maaf kalau kamu tersinggung, saya hanya tidak suka dengan perempuan yang plin-plan!" cetus Restu kembali lanjutkan langkahnya yang kemudian di iringi oleh Farada.
Dan, tanpa di sadari juga...Molan sedang berdiri terdiam di belakang, berjarak sekitar lima meter sambil memegang dua buah minuman kaleng, yang rencananya satu akan di berikan ke Farada. Karena terakhir dia lihat di kulkas kecil Farada, minuman kaleng sudah habis.
Molan berbalik arah dengan raut muka kecewa, dijalan dia berpapasan dengan seorang staf House-Keeping sambil anggukan kepala padanya, yang kemudian satu minuman kaleng tersebut dia berikan pada staf HK tersebut.
***
Molan menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Wajahnya kelihatan gusar dengan pikiran menerawang, sambil menyeruput minuman kaleng yang tersisa satu di tangan. Sesekali mengusap kasar muka dengan jarinya.
Farada...wajah natural, gambaran wanita cantik Indonesia, yang mampu memporak-porandakan pikiran. Membuatnya terobsesi untuk menjadikan teman hidupnya kelak. Walau gadis itu sudah punya pilihan hati, tapi apa salahnya dong...dia mencoba untuk merebut perhatiannya? Toh...tak ada pasal dalam KUHP yang tertulis "Dilarang merebut hati seseorang, selagi perhatian seseorang itu diberikan pada yang lain!" benarkan?. Mungkin yang ada, "Dilarang merebut istri orang", karena ancamannya pidana.
Molan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pikiran makin kacau setelah melihat kejadian baru saja terjadi. Huh! apa sih kelebihan pria kaku itu? karena dinginkah?
Nada dering panggilan Boulevard of Broken Dreams dari ponsel sukses menghentikan pikirannya yang melantur. Terpampang di layar nama Tommy S....
"Hoi...brader, kemana aja lo! gue dapat info, katanya elo lagi di pekerjakan di Bali ya?"
Molan menjauhkan layar ponsel dari telinganya, suara bising di seberang sana menghentak anak kuping, "Elo lagi dimana sih? berisik amat? ajep-ajep lo yah?"
"Ha..ha..ha...lagi di Dynast*!"
"Ya salam!...insyaf lo, ingat umur, kesini lo besok ya...gue tunggu!"
"Tiket bayarin ya?...oh iya, gue lupa...Donna tanyain elo terus nih! dua hari yang lalu katanya ke rumah elo, nggak ada...dia baru datang dari Singapura. Elo nggak ngomong kalau kerja di Bali?"
Molan berdecak kesal mendengar nama Donna, "Biarin aja, elo jangan kasih tahu gue di Bali, awas lo!"
"Ah..percaya sama elo, musyrik!" jawab Molan sambil membuang kaleng minuman ke tong sampah. "Jangan lupa besok elo kesini ya...gue mau tidur!"
Klik!
Percakapan terputus.
***
"Ya ampun ini orang, gue belum selesai ngomong, main putus aja!" Tommy ingin rasanya menjitak kepala sahabatnya itu, tapi kemudian...
"Kamu habis telponan sama Molan yah?" tepukan di bahu dan suara wanita yang sangat dikenal Tommy, mengagetkannya. Suara itu melebihi dentuman musik diskotik di gendang telinga.
"Astaga!...kalau ngomong ada basa-basi dulu kenapa sih? kaget gue!" jawab Tommy mengelus dada.
"Ah...lebay!, itu tadi Molan, bukan?" Wanita yang ternyata Donna bertanya kembali, sambil menghadang langkah Tommy.
"Bukan!" ketus Tommy berusaha menghindar.
Donna menyipitkan mata tak percaya, "Bohong!"
"Memangnya teman gue Molan doang? minggir dong, gue mau pulang iniii...dari kemarin nanyain Molan terus!"
"Kok kamu kasar banget sih, Tom? aku salah apa sih sama kamu?" tangan Donna menahan dada Tommy, "Please...Molan dimana?" Donna mengulang pertanyaannya dengan wajah memelas.
Tommy menarik nafasnya dalam-dalam, dan perhatikan wajah nelangsa itu, lalu, "gue nggak tahu Molan dimana? ngerti? mungkin dia lagi di Bali...eh!"
Tommy merutuki kebodohannya. Dengan mendorong pelan bahu Donna, dia segera berlalu buru-buru untuk pulang.
Donna sumringah, tuhkan?...gampang mengorek keterangan dari si Tommy..hihi!
***
Restu segera merapikan kertas file yang berserakan di meja ruang tamu kamar. File yang diperlukan di acara seminar besok yang dimulai pada jam 7 malam, yang mana dirinya di tunjuk sebagai salah satu pembicaranya nanti dalam acara yang bertajuk Tantangan Pengusaha Menghadapi Arus Globalisasi.
Acara ini merupakan tolak ukur Restu yang baru saja terpilih sebagai salah satu Manager Muda Yang Menginspirasi versi salah satu majalah Ekonomi. Untuk itu dia harus memberikan kemampuan terbaiknya, bukan? Membagikan pengalaman dihadapan lebih kurang 50 orang peserta yang rata-rata para CEO, Eksekutif dan para Manager terbaik dari berbagai daerah, merupakan tantangan tersendiri baginya, agar dapat meningkatkan nilai jual-nya di kemudian hari.
Setelah semua di rasa cukup, Restu bersiap untuk istirahat. Tapi harus terganggu oleh sebuah ketukan di pintu...
"Samantha?"
"Hai...aku mengganggu, nggak?" Seorang wanita karir yang cantik berdiri dengan pakaian santai di depan pintu.
Restu terlihat ragu-ragu, untuk menolak pun merasa tak enak hati. "Oh...silahkan masuk. Kamu ikut sebagai peserta besokkah?" tanya Restu sedikit kaku.
Samantha mengangguk, "Iya...aku diutus pak Donny Rukmana sebagai perwakilannya, beliau harus berangkat ke Italia kemarin, jadi nggak bisa hadir," timpal gadis anggun tersebut sambil masuk lebih dahulu menuju sofa kamar, yang kemudian di ikuti Restu.
-