Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Asal Mula


"Kenapa kamu diam?," tanya Restu sambil menyetir mobil ketika dalam perjalanan menuju pulang dari pesta pernikahan Daniel tadi. Ada banyak pertanyaan dibenaknya cuma sedikit gengsi untuk menelusuri pertanyaannya itu. Ia ingin Farada membuka cerita lebih dahulu.


"Mas Restu mau menanyakan yang mana?."


"Ya, masa aku harus tanya satu persatu sih?, kamu terangkan saja tentang kejadian tadi," lalu Restu menjeda kalimatnya sebentar karena harus mengatur nafasnya agar tetap tenang "tentang bagaimana kamu bisa bertemu dengan pak Erick, bisa kenal dengan anaknya...si..siapa namanya tadi?..."


"Molan!" jawab Farada cepat. "Nah, itu!" sambung Restu.


Farada lalu memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak, dan mulai menceritakan awal bertemu dengan Molan sewaktu liburan ke Jepang. Tak lupa bagaimana kesalnya gadis itu dengan tingkah konyol seorang Molan, walau hanya sebagian yang diceritakannya karena ada hal yang harus ditutupi. Ya, tentang first kiss nya di ambil secara paksa. Toh, tidak etis bukan kalau diceritakan pada pria disampingnya ini?.


"Menarik juga cerita kamu disana ya?" ujar Restu kemudian sambil menarik nafasnya perlahan "walau kamu menceritakan konyolnya seorang Molan, tapi ada hal yang mengesankan yang terjadi antara kamu dan dia disana."


"Nggak ada yang mengesankan kok!," sanggah Farada dengan alis bertaut, ada nada sinis yang Ia tangkap dari kalimat yang dilontarkan Restu tadi.


"Hati-hati, biasanya tingkah konyol seorang pria itu mudah membuat seorang wanita jatuh cinta loh!," sambung Restu sambil melirik ke samping.


Farada memilih untuk diam, dia tak menjawab dan juga tak berniat melanjutkan ceritanya lagi. Restu ini sepertinya bertipe seorang pria pencemburu. Farada mencoba membaca karakter Restu dan dia juga tak ingin kebersamaan di awal yang mereka bangun ini menimbulkan kesan yang tidak baik.


Suasana menjadi hening di antara mereka berdua, tidak ada yang berusaha kembali membuka percakapan, larut dalam pikiran masing-masing.


***


Ibu Iin memasuki kafe, matanya melirik sebentar ke arah tempat kosong pojok yang ada kaca besar mengarah ke parkiran. Suasana sore itu sedikit ramai pengunjung. Tujuannya sendiri ingin bertemu dengan Farada, tapi sepertinya gadis itu belum datang. Ibu Iin mengangkat tangan ke arah pelayan.


"Sore bu, silahkan mau pesan apa?," tanya seorang pelayan laki - laki yang menghampirinya dengan ramah sambil menyodorkan daftar menu makanan pada Ibu Iin yang kemudian meraih daftar menu tersebut dan lalu memesan minuman dan makanan yang di inginkan.


Setelah mencatat pesanan, sang pelayan bertanya,"Tunggu sebentar ya bu, pesanan Ibu segera kami siapkan, ada lagi, bu?."


Ibu Iin gelengkan kepala, "sementara cukup mas, oh ya, mbak Farada hari ini datangkah?," lanjut ibu Iin bertanya sambil menengok kearah dalam.


"Mungkin sebentar lagi bu, biasanya sudah datang jam segini, tapi sampai saat ini belum ada kabar mbak Fara nya dari tadi," ujar pelayan tersebut ramah sambil bersiap-siap untuk pergi.


"Ya sudah, nggak apa-apa mas, trima kasih ya."


Sambil menunggu pesanannya datang, ibu Iin kemudian mengambil ponselnya dari dalam tas dan menelpon seseorang.


***


Flashback...


Nun jauh di sebuah pulau terpencil di ujung timur Indonesia, sepasang anak muda terlihat sedang memadu kasih. Duduk berdua di pinggir pantai yang sore itu terlihat sepi, memandang kearah lautan lepas. Mereka terlihat begitu intim. Sang pria merangkul pundak wanita itu sambil menatap lembut wajah dan sesekali tangannya menjawil hidung kekasihnya itu. Mereka menantikan dan ingin melihat matahari terbenam atau disebut sunset.


Mereka begitu menikmati moment kebersamaan, terutama sang pria yang harus berjuang untuk dapat membawa sang pacar ke tempat ini. Ya, dia harus berjuang melawan tentangan kedua orang tuanya yang tidak merestui hubungan mereka berdua.


Orang tua si pria telah menjodohkannya dengan gadis pilihan mereka. Gadis dari kalangan sepadan dan terhormat dalam pandangan mereka. Tetapi, sang pria ini menolak perjodohan tersebut, hingga konflik pun terjadi.


"Mama tidak akan pernah merestui hubunganmu dengan gadis itu!, tinggalkan dia atau kamu ingin melihat mama mati?."


"Mama, jangan begitu dong? aku mau tanya kenapa mama tidak suka dengan Iin? dia gadis yang baik kok, cuma karena ibunya kerja di klub bukan berarti dia dari keturunan yang tidak baik, ma..." sang anak mencoba memberi pengertian.


"Nah, itu kamu tahu jawabannya, kerja klub, pulang larut malam!," sang mama mengaturnya nafasnya sebentar, "berapa banyak tangan lelaki yang pernah menjamah tubuhnya?, belum lagi alkohol, narkoba atau apalah itu namanya."


"Astagfirullah mama???, jangan menuduh orang yang kita tidak tahu kenyataan sebenarnya Ma, ibunya itu kerja disana bukan waiters tapi kasir, dan tidak bersentuhan dengan pengunjung kok!, aku su..."


"Tinggalkan atau kamu lihat Mama mati!, paham?," sang mama langsung memotong omongan anaknya, lalu berlalu pergi ke kamar.


Tinggallah si anak hanya menarik nafas kasar, dia melirik kearah papanya yang sedang duduk di sofa, seolah minta pembelaan.


Sang papa hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali melanjutkan baca koran terbit sore.


"Bang, kamu melamun?."


"Eh...nggak kok dek!," si pria tersentak dari lamunannya, "abang tadi cuma kepikiran, pengen ngajak kamu jalan-jalan ke Sapporo Jepang," elak sang kekasih mengalihkan jawaban.


Wanitanya itu menatap tajam kekasihnya, Ia tak percaya dengan omongan pacarnya tersebut, "Kok aku nggak percaya yah?, kamu lagi mikirin apa sih?," tanya gadis itu dengan sorot mata menyipit, "kalau ada masalah, ceritalah bang, apalagi kalau itu menyangkut aku." Bukannya apa, gadis tersebut mengetahui persis bagaimana kedua orang tua kekasihnya ini sangat menentang hubungan mereka. Untuk kesekian kalinya beberapa waktu lalu, sebelum mereka secara diam-diam pergi ke pulau ini, mamanya pria disampingnya tersebut melabrak dirinya.


"Kamu itu sudah berapa kali saya kasih tahu ya, putuskan hubungan kamu dengan anak saya!...saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian!...anak saya akan saya nikahkan!, paham kamu!, kalau kamu masih berhubungan juga, jangan salahkan akan ambil tindakan kekerasan!."


Itu ucapan terakhir yang paling menyakitkan dia terima. Dan, bukannya dia tidak mau mengikuti omongan mamanya pacarnya ini, sudah berulangkali dia memutuskan dan ingin pergi dari kehidupan prianya tersebut, karena baginya, restu orang tua itu nomor satu. Tetapi apa? kekasihnya tidak pernah mau mengakhiri. Dan, pernah bilang kalau dirinya pergi secara diam-diam dari hidupnya, pasti dia akan menemukannya. Dirinya dilema, pergi sulit, bertahan pun tidak mungkin.