
Tepat jam dua siang, Molan menjejakkan kakinya di bandara Soetta - Cengkareng. Terlambat memang sekitar dua jam dari waktu yang di tentukan Tuan Erick agar berangkat tepat jam sepuluh pagi menggunakan pesawat pribadi yang sudah standby di bandara Adi Sucipto. Tapi apa yang dilakukannya? Ia menolak menggunakan fasilitas itu dan lebih memilih naik pesawat komersil agar bisa berbaur dengan manusia lain, itu alasannya.
Molan menghirup dalam - dalam udara Jakarta. Kembali ke Ibu Kota yang konon katanya pernah mendapat prediket masuk dalam lima kota besar dengan tingkat polusi tertinggi di dunia. Tapi entah sekarang, udara Jakarta seperti mulai ramah.
Molan segera berbaur dengan kerumunan orang di teras bandara. Ia tengah menunggu Tommy yang telah dihubunginya pagi tadi. Sekali lagi, dia pun menolak anak buah papa nya yang sebelumnya telah di siapkan terlebih dahulu untuk menjemput.
Dari kejauhan, yang di tunggu telah terlihat. Tommy melambaikan tangan memberi tanda jikalau dia sudah sampai, pria itu melepaskan kaca mata hitamnya. Molan merasa ada yang aneh dengan Tommy, penampilannya lebih rapi dan keren dari biasanya.
Tapi lihat! Dia tak pernah memberitahu Donna atas kedatangannya sekarang ini, kenapa gadis itu justru ikut? Dan...terlihat lebih kalem, seperti malu - malu. Tunggu! Ada yang berbeda kali ini, Donna tidak segera mendahului langkah Tommy dan menghambur padanya dengan sikap sok manja dan sapaan seperti biasa...sayang. Molan menyipitkan matanya kearah mereka berdua, Donna justru mengiringi langkah Tommy! Seperti sepasang kekasih?
"Sori bro! Telat dikit, jalanan di tol aga macet," ujarnya sambil mengulurkan tinjunya, salam ala lelaki.
"Halah! Macet lo salahin, kapan Jakarta nggak pernah macet, sih?"
"Hai Kak..." sapa Donna malu - malu. Dia seperti menjaga jarak. Ralat! Sepertinya sedang menjaga hati.
Molan menaikkan alisnya, muka penasarannya terlihat kentara tapi Ia menyambut juga uluran tangan Donna, "Hai, Donna..." sambil melirik Tommy, minta jawaban. Ia ingin bertanya tapi di urungkan. Temannya itu malah mengangkat kedua bahunya.
"Kalian berdua berhutang cerita sama gue!" Kata Molan mengulum senyum, "sepertinya, ada cerita yang terjadi setelah kalian kembali dari Bali tempo hari?." Sambung Molan, dan tanpa menunggu jawaban pria itu langsung berjalan meninggalkan Tommy dan Donna yang saling berpandangan.
Beberapa menit setelahnya, mereka bertiga telah berada di dalam mobil Tommy dan perlahan kendaraan tersebut meninggalkan area parkir bandara untuk segera menuju pintu tol menembus jalanan Ibu Kota yang padat di siang itu.
"Nggak perlu merasa canggung, kalau kalian memang sudah relationship, ya sudah, ngomong aja dari pada kalian menutupinya? Toh, bagi gue nggak ada masalah!" Kata Molan mencairkan suasana canggung. Sejak keluar dari area parkir tadi belum ada yang bersuara.
"..."
"Donna, kamu ada yang mau dikatakan?" Molan kembali bersuara, dia memalingkan wajahnya menoleh pada Donna yang duduk di bagian tengah.
Donna mengangkat wajahnya, "Kamu yang ngomong." Donna justru mencolek lengan Tommy yang sedang menyetir.
"Udah, itu udah sebuah jawaban," Molan pun terkekeh.
Plak !
Molan melayangkan tamparan tipis ke bahu Tommy, "Gaya lo! sok - sok cool berpura nggak ada kejadian apa - apa di depan gue...beuh! lo tidur ngiler aja gue tau, apalagi urusan beginian haha."
"Teman lucknut begini nih!...Jangan buka kartu gue dong, malu gue!" Gerutu Tommy karena kebiasaan jeleknya di sebut - sebut. Jangan sampai gue tidur mangap juga di omongin!
"Ish..emang iya Kak?" tanya Donna antusias sambil condongkan badannya.
Molan justru kembali terbahak, "Tanya aja sendiri nanti kebiasaan jelek lainnya."
"Makanya, jangan membenci berlebihan, dan juga jangan berharap berlebihan. Cinta dan benci itu bedanya sangat tipis. Kalian kan berdua pada awalnya saling membenci, ya kan?"
Gotcha! Perkataan Molan sukses membuat Tommy dan Donna terbungkam. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Bukankah Donna sangat mengharapkan cinta Molan pada awalnya?
Donna membenarkan kata bijak dari Molan. Walau dia sendiri sampai detik ini belum bisa menghapus rasanya pada Molan sepenuhnya, tapi dia bertekad untuk memberikan cintanya pada Tommy. Karena hatinya telah memilih.
Molan menghembus napas kasarnya, "Belum, tapi gue nggak ngerti sekarang, sepertinya gue terjebak cinta segitiga!"
"Hah? Kok bisa, Kak?" Donna menukas, "jadi...Farada itu sudah punya pacar?"
"Tepatnya, baru calon...tapi, naluri aku mengatakan laki - laki itu sepertinya nggak mencintai Farada," jawab Molan sambil mengalihkan pandangannya ke jalan raya.
"Yaah...naluri buaya! sama aja dong, lo sama gue dan Donna haha" Tommy pun berganti menertawakan.
"Iya juga ya? Hahaha," Molan baru menyadari dan ikut menertawakan dirinya, sedangkan Donna lebih memilih untuk diam.
"Omong - omong, kita langsung ke rumah elo di Pondok Indah atau ke mansion papa Erick di Menteng, bro?"
"Langsung ke Pondok Indah, besok aja gue ke Menteng."
Donna yang sedari tadi menyimak, membuka suaranya, "Memangnya Kakak ke Jakarta dalam rangka apa?" tanyanya dengan suara lembut.
Molan agak terpana dengan perubahan Donna yang terlihat berbeda sekarang. Dan, biasanya dia pun akan langsung melontarkan kata - kata ketus jika Donna berbicara dengannya, tapi kini gadis itu telah berubah menjadi teman yang enak untuk diajak bicara.
"Aku juga nggak tau! Semalam ketika sedang di Luxury cabang Jogja, aku langsung di suruh terbang ke Jakarta, di panggil Papa, katanya ada hal yang penting yang akan di sampaikan secara langsung."
"Lo di Jogja, bro? Sama siapa?" Kali ini, Tommy yang bertanya.
Molan menoleh ke arah Tommy dengan wajah geram, "Harus gitu, pertanyaannya 'sama siapa?' bukannya...Lo ada urusan apa di Jogja?"
"Oke, oke...gue salah nanya," Tommy terkekeh, "iya itu, elo ada urusan apa di Jogja?" ulangnya kembali.
"Tadinya ada jamuan makan malam dengan Mr. Ferdinand dan istrinya dari Australia tapi batal karena sesuatu hal, trus gue dapat berita langsung ke Jakarta."
"Nah...elo datang sama siapa? Nggak mungkin dong, jamuan makan malam dengan sepasang suami istri, dan elo nya sebatang kara?"
"Sialan lo ya? lama - lama makin rese!"
"Loh, benar dong gue bertanya begitu?" jawab Tommy sengit.
"Siapa lagi...kalau bukan dengan Farada, ya kan, Kak?" Donna langsung menjawab. Dia sudah menduga karena Molan mengelak pertanyaan itu.
Dan, Molan hanya bungkam tak mau menjawab. Dia pikir tanpa di beritahu pun mereka sudah menebaknya.
"Kalau iya, semoga perjuangan Kakak membuahkan hasil, dan segera berjodoh dengan Farada. Tapi saran aku, kalau dia masih mencintai orang lain, sebaiknya Kakak mundur. Karena...berjuang sendiri itu menyakitkan, Kak!"
Tommy langsung menoleh sebentar ke arah pacar barunya itu, Ia terkejut dan tak menyangka Donna akan melontarkan isi hatinya. Dia tidak marah, justru menggenggam tangan Donna, memberi kekuatan, karena dia tahu kemana arah kekasihnya itu berbicara. Tommy merupakan saksi hidup, bagaimana perjuangan Donna untuk mendapatkan cinta Molan, tapi gayung tak bersambut.
Sedangkan Molan hanya terdiam tak mampu berkata - kata. Mungkin sekarang karma sedang berjalan menghampiri. Dalam hatinya dia berkata...Maafkan aku, Donna!