
Suara ketukan membuat Molan terbangun dari tidur nyenyaknya, sinar mentari pagi menyeruak masuk di sela ventilasi kamar, menandakan posisi matahari sudah beranjak naik. Molan bangun dengan malas, hari ini rencananya dia ingin istirahat saja seharian setelah tiga hari lamanya pergi. Badannya terasa pegal - pegal. Suara ketukan itu terdengar lagi, kali ini di iringi suara Bik Minah yang lamat terdengar entah menyuruhnya bangun atau sarapan, suaranya tak begitu jelas.
"Iya, iya Bik Minah, nanti saya sarapan!" teriaknya dari dalam sambil berlari ke kamar mandi, memenuhi panggilan alam.
Tak butuh waktu lama. Molan pun sudah selesai dari ritualnya. Dia segera keluar kamar dengan pakaian santai, kaos oblong lengan pendek memperlihatkan otot bisep lengan nya yang atletis dan celana training kemudian menuruni anak tangga yang rencananya akan langsung menuju dapur aja. Seperti kebiasaannya kalau makan lebih sering di meja makan dapur, bukan di ruang makan keluarga.
Melewati ruang tamu, terlihat dari kaca besar yang membatasi ruangan tengah, Bik Minah sedang berbicara dengan seseorang. Sepertinya seorang perempuan, terdengar dari suaranya. Tapi siapa? Apa mungkin Farada? Pikir Molan sambil perlahan menghampiri.
"Loh!...Sita? Tumben pagi - pagi kesini?" sapa Molan terheran. Ada urusan apa Sita kesini?
"Eh...Tuan Muda, maaf saya nggak kasih kabar dulu mau kesini. Kebetulan saya sedang berada di sekitar sini, jadi...ya sekalian aja saya mampir."
"Kalau begitu, Bibik tinggal dulu ya, Non." Sela Bik Minah pamit ke belakang, "maaf Tuan Muda," sambungnya dengan membungkuk melewati Molan.
Sori, saya belum mandi, baru bangun," ujar Molan santai sembari mengambil posisi duduk di kursi sofa depan Sita.
"Oh iya, Nggak apa - apa Tuan Muda, saya juga lagi santai, hehe." jawab Sita dengan perasaan tak karuan melihat penampilan santai Molan yang menurutnya terkesan macho di matanya. Lakik benar!
"Seperti yang pernah saya bilang, nggak usah formal dengan saya, panggil Molan aja atau apa gitu yang enak di dengar. Ini bukan di kantor. Sepertinya umur kita juga nggak jauh beda, bukan?"
"Boleh aku panggil...Kakak?" Sita merubah sebutannya menjadi 'aku'.
"Itu lebih baik, dari pada Tuan Muda...sebenarnya saya tidak suka panggilan itu, terlalu berjarak. Sebentar..." Molan kemudian berdiri dan memanggil Bik Minah untuk membuatkan minum. "Omong - omong, kamu berada di sekitaran sini, ada perlu apa? Tentu, bukan urusan kantor dong, pakaian kamu terlihat santai soalnya."
"Aku tinggal di daerah sini, Kak...rumah orang tuaku di jalan Gedung Hijau," kata Sita, "Aku ambil cuti beberapa hari ke Jakarta."
"Oh!"
"..."
"Gimana kabar Farada, Kak?" celetuk Sita tiba - tiba. Gadis itu ingin menyudahi basa - basi dan rasa canggung yang tetap belum bisa dia atasi di kali kedua pertemuannya ini. Sesuai dengan misi yang di emban, dia akan berusaha mendekati dan merebut perhatian si Tuan Muda ini.
Molan berusaha menyembunyikan rasa kaget ketika nama itu di sebut, dia berdehem mengatasi grogi dan menegakkan punggungnya di sandaran sofa. "Kenapa kamu tiba - tiba bertanya Farada? Ah ya, saya lupa...kamu juga bisa sewaktu - waktu menjadi wartawan, disamping punya bakat melukis," Molan kemudian terkekeh.
Sita tersenyum simpul, pancingannya mulai mengena. "Penasaran aja, bagaimana bisa seorang Farada bisa menarik perhatian seorang Tuan Muda yang terkenal dulunya adalah seorang yang sulit untuk di dekati oleh kaum hawa yang ingin merebut perhatiannya dan juga di kenal sedikit, maaf...nakal." Sita mengangkat tangannya membentuk tanda kutip.
Alis Molan tertaut mendengarnya. Dia mencondongkan badannya sedikit ke depan. Wanita yang bisa dikatakan mirip dengan pemain voli putri asal Turki, siapa itu namanya? Zehra Gunes kalau tidak salah, tapi versi Indonesia-nya ini sepertinya banyak menggali informasi tentang dirinya. Menandakan bahwa wanita ini sama dengan yang lainnya, atau hanya sebagai suruhan untuk mendekati?
"Jadi...kebenarannya seperti apa, Hm?" tanya Sita semakin berani, "aku setuju dengan Kakak, info yang kita dengar dari orang lain itu terkadang berlebihan. Semua tergantung dari sudut pandang personal yang menyampaikannya."
"Kata 'nakal' yang kamu sebut, itu bermakna ganda. Bisa bajingan atau brengsek. Kalau maksud kamu di dua kata itu...jelas saya menolaknya," Molan menggelengkan sebagai bentuk penegasan, "tapi, saya tak akan menjelaskan bagaimana nakal versi saya ini karena seperti yang kamu bilang, semua tergantung sudut pandang yang melihat atau yang mendengarnya,"
Molan menjeda, "...Tentang Farada, dia adalah wanita yang sanggup menggetarkan hati saya, tanpa saya tahu alasan mengapa saya jatuh hati padanya, dia gadis yang unik menurut versi saya. Walau_"
"Walau dia harus dilepaskan karena dia telah di jodohkan dengan yang lain?"
"..."
Molan tersentak, kalimatnya terputus. Dugaannya benar, wanita di hadapannya ini sama dengan yang lain. Mendekatinya karena di suruh oleh siapa lagi kalau bukan, Papanya. Baiklah, sekarang akan gue ikuti permainan ini!
Ting tong! Bel pagar rumah berbunyi.
Sejenak pembicaraan terhenti, Molan kemudian memanggil Mang Ujang, suami Bik Minah untuk membuka pintu pagar.
Molan mengernyitkan dahi ketika mengintip dari horden melihat siapa yang datang dan tengah berjalan menuju teras. Farada! Pria itu kemudian berdiri dan membuka pintu. Ada rindu yang harus dia tahan. Dia mencoba bersikap biasa, walau dada nya sesak.
Farada terlihat agak kikuk melangkah menaiki teras ketika Molan sudah berdiri di pintu masuk.
"A...aku kesini... cuma mau meminta maaf karena telah menampar kamu tempo hari. Aku nggak sengaja, aku spontan..." ujar Farada dengan terbata, Ia mencoba mengatur detak jantungnya yang tak karuan, lalu membuang napas yang sedikit sesak, "tapi kamu memang kelewatan sih! Main pukul seolah Mas Restu itu musuh kamu," sambung Farada setelah berhasil mengusai dirinya.
Molan bergeming berdiri. Dia menatap lekat manik mata Farada ketika gadis itu sedang bicara. Begitu imut di matanya dengan mulut yang di majukan lancip itu rasa - rasanya ingin dia cubit saja. Laki - laki itu kemudian mencoba tersenyum.
"Nggak usah senyum - senyum deh!"
"Haishh!...kamu ini, minta maaf tapi nggak ada ikhlasnya."
"Udah ah, aku cuma mau minta maaf aja, taksinya sedang menunggu di depan," ujarnya ingin berbalik badan bersiap pergi, tapi kemudian dia urungkan. Gadis itu berdiri mematung, Sekilas dia melihat ada seseorang muncul dari dalam dan berdiri di samping agak di belakang Molan.
Ish! Dia lagi...jangan - jangan? Farada mencoba menepis pikirannya yang tiba - tiba melebar kemana - mana.
"Ohh...kamu pagi - pagi sudah ada tamu, pantas!" Serunya dengan nada sindiran, "Eh, ternyata Ibu Sita...maaf Bu, kirain siapa. Saya pamit ya Bu!"
Sita menganggukkan, Ia tersenyum penuh makna melihat tingkah Farada yang serba salah.