
Nun di sana di sebuah apartemen, puluhan ribu kilo meter jaraknya dari Jakarta, Molan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dia baru saja tiba dari luar kota dengan Tommy, sahabatnya yang meminta bantuan untuk menyelidiki sebuah urusan pelik di perusahaan yang kini dia tangani. Badannya terasa pegal setelah beberapa hari ini harus berpindah-pindah tempat dari satu kota ke kota lain di negara Thailand.
Tak hanya itu, selama tiga bulan ini pula dia pun berdua dengan sahabatnya itu sering bolak-balik dari Singapura - Thailand karena urusan tersebut tidak sesederhana yang di perkirakan, ini menyangkut sebuah sindikat yang melibatkan kelompok mafia. Molan yang awalnya sudah bertekad tidak ingin bersentuhan lagi dengan gerakan dunia bawah tanah tersebut, harus menunda rencana pensiunnya, karena Tommy tidak akan sanggup sendirian menghadapi tekanan dan ancaman kelompok yang tak hanya menguras keuangan perusahaannya tetapi juga ingin mengambil alih usaha Papa mertuanya itu. Perminyakan.
Molan sendiri merupakan salah satu orang yang sangat di takuti oleh kelompok mafia lintas negara. Dengan memakai sandi nama 'The Lord'. Nama The Lord begitu terpatri sebagai manusia yang tak kenal ampun dalam bertindak. Tentunya dengan keahliannya yang sangat mumpuni. Namun, beberapa tahun belakangan ini nama tersebut menghilang bak ditelan bumi.
Huft...! Molan membuang napasnya lelahnya. Kaki dia selonjorkan ke atas meja melepas penat. Tiba-tiba ponselnya bergetar...
"Kenapa Tom?" tanyanya langsung begitu lihat nama yang terpampang di layar.
"Gue udah email daftar nama yang elo minta, datanya tadi dikirim oleh Jacob, bro!"
"Sebentar!" Molan meletakkan ponselnya yang masih posisi On tersebut di atas sofa dan tak lupa me-loudspeaker nya agar pembicaraan tidak terputus. Dia berjalan menuju sebuah laci untuk meraih ponsel nya yang satu lagi. Ponsel yang jarang dia gunakan selama tiga bulan ini.
Setelah ponsel tersebut dia aktif kan, langsung berturut-turut mendapat notifikasi masuk.
"Halo...halo!" samar terdengar suara Tommy di gawai yang satu lagi.
"Sebentar!" teriak Molan dari jarak berdirinya sekitar tiga meter, "email lo ada di handphone gue yang satu lagi! Gue lagi cek dulu ini!" imbuh Molan setengah berteriak. Matanya menangkap notifikasi panggilan masuk di layar dari sebuah nama...
"Farada? Ada apa tumben nelpon gue?" gumamnya pelan bicara sendiri. Beberapa saat dia terdiam, dan kemudian terbersit dalam hati untuk menelpon kembali, tapi pikiran menahannya untuk melakukan panggilan. Dia berusaha mencari notifikasi chat yang jikalau ada Farada memberitahu maksud dia menelpon kemarin. Tapi, tidak ada.
"Woiii...! Yaelah, lama benar?" kembali lamat terdengar suara teriakan Tommy dari ponsel yang tergeletak di atas sofa.
Ck!...Molan berdecak, lalu menyambung kembali komunikasinya dengan Tommy. "Lo gue jitak juga nih, gue bilang sabar, gue baca daftarnya dulu!" gerutu Molan sambil memerhatikan daftar yang tertera. "Kalau gitu, besok siang kita ke Pattaya dulu, temui Jacob!" sambung Molan setelah melihat nama-nama dalam daftar email itu, "Suruh dia 'ambil' satu orang yang di daftar ini, gue yakin dia masih di Pattaya." titah Molan, lalu menyebut satu nama.
"Oke!" jawab Tommy pendek.
Setelah memutus percakapan, Molan menghampiri sebuah lemari kecil di ruangan apartemen bagian belakang. Ruangan yang telah disulap menjadi mini bar, dan dia meraih sebuah botol wine berikut gelas kecil kemudian membawanya ke ruang tamu. Minuman yang sejak tiga bulan ini kembali menjadi teman penghangatnya, walau tak berlebihan.
"Farada..." Molan terkekeh pelan mengingat nama itu kembali. Bertahun rasanya dia sudah tak bertemu, padahal baru tiga bulanan ini. Dia pikir, selama rentang waktu tiga bulan tersebut dia sudah bisa menghapus memorinya tentang wanita itu. Dengan berganti suasana dan tempat, dia sudah bisa melupakan. Nyatanya, tidak! Hanya dengan sebuah notifikasi saja, ingatan itu bisa kembali berputar secara utuh.
Molan kembali tertawa. Miris!
Dia telah berusaha membuang ingatannya terhadap Farada. Sempat berhasil memang, buktinya ketika dia memutuskan pergi, bayangan gadis itu seakan tertinggal di tanah air. Dia tak pernah mengingatnya lagi. Mungkin karena langsung terlibat dengan kesibukan, walau akhirnya tanpa menyadari bahwa dia telah mengulang kembali jalan yang telah lama dia tinggalkan. Jalan yang tanpa seorang pun yang tahu sisi gelapnya bahwa si Tuan Muda dulunya adalah seorang Master dalam dunia hitam. Kecuali, sang sahabat, seorang tandem...Tommy Samsonov dan Jacob, tangan kanan Molan dahulunya.
Tok...tok...tok!
Sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunan Molan, memaksanya untuk bangun untuk membuka pintu.
Molan mendengkus kesal, "Kenapa kau kesini, Jane?"
Wanita berambut pirang yang di sapa Jane itu membalikkan badannya, "Kau merasa terganggu? Bukankah aku biasa datang kesini, hm?" Kedua alis gadis itu tertaut.
"Ck!...aku mau istirahat Jane, sebaiknya kamu segera pergi, besok mau ke Pattaya bertemu Jacob, kakakmu."
"Justru itu, aku mau tidur disini saja biar besok kita sama-sama berangkat. Jacob tadi menelponku agar menemani kamu dan Tommy kesana," ujar Jane dengan tanpa merasa risih kemudian membuka jubah hitam panjangnya dan meletakkannya di gantungan, menyisakan baju tank top warna hitam di tubuh. "Kenapa? Kau kan tidak akan tergoda dengan tubuhku, bukan?" tanya wanita tersebut sambil memainkan kedua alisnya melihat Molan menatapnya tajam. Wanita sexy itu lalu duduk begitu saja di dekat Molan.
"Aisshh! Perempuan ini, pakai baju kamu Jane!" hardik Molan dengan mata melotot serta menjauhkan wine di meja ketika wanita itu ingin meraihnya.
"Ah!" rungut Jane kembali berdiri menuruti perintah Molan.
Beberapa menit kemudian, wanita itu sudah mengganti bajunya dengan kaos warna abu, lebih terlihat sopan. "Besok rencananya, bagaimana?" tanya Jane. Wanita itu menuangkan wine ke gelas kecil lalu meminumnya dengan sekali teguk.
"Kita mengintrogasi satu orang yang akan di 'ambil' oleh Jacob malam ini. Dia kemungkinan salah satu kunci yang mengetahui siapa otak dari sindikat mereka itu. Aku dengar juga, ada beberapa orang dari Indonesia sebagai pemainnya," terang Molan sambil menepis tangan Jane ketika hendak meraih wine kembali. "Cukup Jane, jangan banyak-banyak!"
"Ah..Kakak! Segelas lagi, please? " Molan gelengkan kepala. Dia mengambil wine di meja berikut gelas untuk kemudian dia simpan.
"Ck!" Jane berdecak.
Ya, Jane merupakan salah satu anak buah Molan. Wanita cantik berambut pendek sebahu itu adik dari Jacob, tangan kanan Molan. Banyak orang yang tertipu dengan penampilannya yang feminim. Padahal, wanita cantik ini sangatlah ahli dalam menembak dan bela diri. Dia juga sangat pintar berkamuflase. Di satu waktu dia bisa menjadi seorang wanita lugu, bisa menjadi wanita penggoda tapi tak bisa di sentuh. Dan, di suatu saat Jane akan berpenampilan sebagai wanita tangguh. Seperti sekarang ini dia datang dengan jubah hitam berpadu celana hitam panjang.
"Kak, kenapa kamu kembali? Apa karena...patah hati?"
"Huh! Memangnya, ada dalam kamus Molan kata...patah hati?" Molan tertawa mengejek mendengar kalimat Jane. "Tommy saat ini membutuhkan bantuan," sambungnya kemudian.
"Kalau hanya itu, kamu bisa meminta Jacob dan aku mengurusnya, bukan?"
Molan hanya diam.
"Kamu dulu telah berjanji untuk menutup sisi gelapmu, dan hampir berhasil, hingga orang-orang sudah tak lagi mengingat nama The Lord. Dan, aku juga dengar selentingan kabar, kamu terlibat perasaan dengan seseorang disana..." Jane menjeda, "...apa karena itu?"
Tiba-tiba, pintu apartemen ada yang mengetuk. Molan merasa tertolong.
"Kak Tommy!" seru Jane ketika membuka pintu.