
Bimo terkejut melihat kedatangan Restu yang meliriknya dengan tersenyum sinis. Bukan hanya itu saja, pria yang dia benci itu datang tidak seorang diri. Dia di ikuti oleh seorang perempuan. Sepertinya mereka memang bersama-sama datang kesitu.
"Mas, bukannya tadi kamu bilang ada meeting dengan klien? Farada kah orangnya?" tanya perempuan itu dingin. Kalimat bermakna sindiran.
Farada melongo, dia cukup mengenal siapa wanita yang berada di samping Restu sekarang ini. Yang membuatnya heran lagi, wanita itu mengenal Bimo. Sepertinya ada cerita yang terlewat sama gue! Farada membatin. "Kak Samantha?" sapanya, lalu pandangannya beralih pada Restu, seolah meminta penjelasan.
"Tha...Aku bisa jelasin. Tu-tunggu dulu Tha-tha!" Bimo langsung beranjak bangun mengejar wanita yang ternyata Samantha tiba-tiba berbalik pergi dari situ tanpa hiraukan sapaan Farada.
Bimo sedikit berlari sambil menabrakkan bahunya ke bahu Restu. Dengan nada intimidasi dia berkata, "Hilang sudah respek gue sama elo!" ujarnya mengubah panggilan terhadap Restu, "dan...gue belum selesai, ya!" sambungnya sambil menunjuk muka lawan bicara.
"Cih!" Restu mencibir.
"Samantha calon korbannya si Bimo! Saya tak akan membiarkannya," terang Restu sarkas seolah menjawab pertanyaan Farada.
Restu tadinya tak ada janji bertemu dengan Samantha. Keberadaannya sendiri di area mal tersebut karena ada janji temu dengan kliennya sendiri di sebuah rumah makan yang letaknya tak berada jauh dari lokasi kafe milik Farada. Ketika hendak turun ke bawah menuju perparkiran, Restu melihat Farada sedang berdiri di depan kafe miliknya. Tadinya pria itu ingin menghampirinya, namun urung. Dia pikir lebih baik tidak usah saja, karena akan terjadi komunikasi lagi yang akan membuka cerita. Dia belum siap bertemu, rasa kecewanya belum sembuh.
Tetapi, ketika ingin berbalik Restu melihat seseorang berjalan menghampiri Farada. Bimo! Dan, entah kenapa dia ada rasa tidak suka. Restu tahu Bimo sedari awal menyukai Farada, dan saat ini mungkin akan kembali mendekatinya. Restu juga tahu track record Bimo. ****! Tanpa pikir panjang Restu kemudian menelpon Samantha, mengatakan apakah saat ini dia sedang bersama Bimo. Tentu saja, gadis itu berkata tidak. Dan, Restu akhirnya memberitahu bahwa dia melihat Bimo sedang bersama wanita lain. Katakanlah dia menjadi pria yang jahat, pria yang ingin menghancurkan hubungan seseorang! Restu tak peduli. Dia hanya tak rela wanita-wanita di sekelilingnya menjadi korban Bimo.
"M-mas...sedang apa disini?" Lidah Farada kelu, pertanyaan yang seharusnya bukan itu yang akan di lontarkannya. Padahal dia bisa menanyakan kabar pria itu bukan?
"Tentu saja, sedang menyelamatkan kamu dari si Bimo itu." jawab Restu datar dan seperti biasa memasang wajah dingin.
"Menyelamatkan? Dari apa?" tanya Farada tak mengerti. Padahal Bimo tidak ada berbuat yang aneh-aneh padanya.
"Ckk...masa kamu nggak ngerti?"
Farada gelengkan kepala. Entah otaknya yang lamban menangkap maksud Restu atau karena komunikasi yang kaku di antara mereka berdua sekarang ini, hingga makna kalimat 'menyelamatkan' itu tak Ia tangkap.
"Si Bimo saat ini sedang menjalin hubungan dengan Samantha, dan kamu tau kan kalo dia dari dulu juga suka sama kamu...," Farada kembali mengangguk sambil menunggu apa yang akan dikatakan Restu selanjutnya.
"...Nah, saya curiga sekarang ini dia sedang berusaha mendekati kamu lagi. Kamu harus hati-hati dengan dia!"
"Ooh, kalo itu aku bisa jaga diri Mas. Aku udah tau siapa dia, Kok. Cuma, aku nggak tau kalo dia pacaran dengan Samantha. Dan...," Farada menjeda kalimatnya, dia sejenak berpikir, "...Mas memang sengaja memanggil Samantha kesini?"
Restu tak menjawab, pria itu justru berpaling berbalik badan untuk segera berlalu pergi dari situ. Dia sebenarnya tak ingin berlama-lama bicara dengan wanita yang pernah mengecewakannya tersebut.
Farada heran, Ia menatap punggung Restu yang pergi tanpa berkata-kata, dan tak sempat pula Ia tawarkan minum.
Farada terdiam. Menghilang?
***
Suasana kebetulan sepi di area parkir mobil paling atas sebuah mal yang merupakan salah satu tempat pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta Selatan itu. Restu membuka pintu mobilnya, tapi terhenti ketika punggungnya ada yang menepuk. Dia kaget dan berbalik.
Tiba-tiba...Buggh!
Sebuah pukulan keras tak bisa Ia elakkan mendarat mulus di perutnya, tanpa sempat melihat wajah siapa yang memukulnya. Restu langsung tertunduk, perutnya langsung terasa mual! Tapi nalurinya segera bereaksi, dia membuang badannya ke samping, menjauh untuk menghindari pukulan lanjutan.
"Bimo!?" Restu reflek bangun, dia mengatur napasnya, dan segera bersiap ketika dia melihat Bimo sepertinya tak akan berhenti.
Pria yang ternyata Bimo itu sengaja mengikuti Restu. Setelah dia tadi tak berhasil membujuk Samantha, dia kembali ke area mal dan menunggu Restu keluar dari tempat Farada.
"Dasar banci kau!" Bimo melompat ke samping memburu pergerakan Restu. Dia melepaskan sepakan ke ulu hati lawan.
Restu menepis tendangan Bimo. Walau dulunya dia termasuk si kutu buku tapi dia juga sempat belajar bela diri asal Korea. Meleset! Restu langsung bereaksi melayangkan tendangan lurus ke perut Bimo dan berhasil! Kemudian langsung memberi pukulan keras ke dagu, telak!
Bimo terjajar ke belakang.
Beruntung, sekuriti dan beberapa orang sopir segera datang melerai dan perkelahian itu dapat dihentikan. Pihak keamanan membujuk kedua seteru tersebut untuk diselesaikan di pos sekuriti.
Sementara di dalam Mal...
Farada tidak mengetahui adanya keributan antara Restu dan Bimo tadi. Gadis itu masih belum beranjak dari tempat duduknya. Dia masih merenungi perkataan Restu tentang Molan. Menghilang? Sekali lagi dia bergumam. Ingatan tentang pria yang telah putus komunikasi dengannya sejak tiga bulan yang lalu, tiba-tiba muncul kembali. Senyumnya yang mampu meluluhkan hati kaum hawa serta cengiran lelaki yang selalu menghiasi wajah ketika bersedih sekalipun dan sering membuatnya kesal, kembali membayang. Ah ya...jangan lupakan, si tuan muda yang menyebalkan itu selalu punya ide untuk menghiburnya kala dirinya sedih!
Farada berulang kali gelengkan kepala untuk menghentikan memorinya agar tidak terjebak tentang Molan, tapi tak berhasil. Justru sekarang, dia berusaha untuk menahan air mata karena sudah mengembun di kelopak matanya. Ia merutuk dirinya yang teringat akan Molan tetapi pikirannya tak bisa di ajak kompromi. Ia pun buru-buru pergi ke toilet kafe.
Menghilang? Dimana kau tuan muda? lirihnya sambil memandang cermin toilet. Ia meraih dan memerhatikan ponselnya. Sekarang, apa sebaiknya dia hubungi saja pria menyebalkan itu? Dia ragu, tapi akhirnya dia dial juga nomor kontak itu.
"Tuh kan, gue udah di block!" tanpa sadar Farada sedikit berteriak. Dia langsung berasumsi bahwa Molan sudah tak ingin berkomunikasi lagi dengannya. Gue pulang ajalah! Gumamnya sambil berjalan keluar dan tanpa pamit pada karyawannya, dia pun pergi.
Hari sudah malam, Farada justru memandang sebuah bola dunia di hadapannya. Globe yang mengggambarkan peta dunia itu dia putar-putar. Sapporo-Bali-Jogya-Jakarta kenangan itu keluar tanpa bisa dia hentikan.
Dimana kau, tuan muda?