Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Molan dan sakitnya tamparan Farada


Dua hari sejak pertemuan di mansion itu, Molan seakan menghilang. Tak ada yang tahu keberadaannya. Restu yang disuruh oleh Pak Erick untuk mencarinya seakan kehilangan jejak. Restu sudah berusaha mencari di beberapa tempat. Bahkan, sampai harus keluar masuk klub malam, kalau - kalau Molan berada disitu, namun tetap saja nihil.


"Coba hubungi Tommy atau Donna, mereka teman dekatnya Molan," kata Farada kepada Restu di suatu saat ketika mereka berdua menemukan sepakat untuk mencari bersama.


Restu tercenung mendengarnya. Bahkan, Farada tahu teman - teman dekat Molan? Yang benar saja. "Kamu tahu banyak tentang Molan ya? Bahkan, dengan siapa dia bergaul?"


Farada agak terkejut dengan nada sindiran Restu. Tapi dia berpikir, tak ada gunanya di situasi seperti ini menjelaskan segala hal yang nantinya akan memicu perdebatan dengan calon suaminya tersebut. Lebih baik dia tidak menanggapinya. Farada meraih ponselnya, lantas menghubungi seseorang.


"Halo?" Suara di seberang sana seperti bangun tidur.


"Kak Tommy, ini aku Farada. Maaf, aku mengganggu."


"Farada? Oh, teman dekatnya Molan itu bukan? Ada apa?"


Farada mengangguk walau dia tahu Tommy tak melihatnya, Ia melirik Restu sebentar yang juga sedang melihat padanya, lalu kembali bersuara, "Tentang Molan, Kak Tommy sedang bersamanya kah?"


"Nggak, saya terakhir bertemu tempo hari waktu menjemputnya di bandara. Ada apa Farada? Tumben."


"Oh, aku mau minta bantuan Kak Tommy untuk menghubungi Molan, dia sudah dua hari ini tidak pulang, dia di tunggu oleh Pak Erick, urgent! Mungkin dia lagi bersama...Donna."


Tommy terkekeh di seberang sana, "Saya pastikan, tidak. Oke, nanti saya coba cari Molan nya ya."


"Terima kasih, Kak." jawab Farada lalu mematikan sambungan telepon.


Di tempat lain.


Erick memijit pelipisnya yang berdenyut sejak tadi. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar bisa membujuk Molan yang belum bisa menerima kenyataan atas rahasia yang baru terkuak ini. Kesalahannya di masa muda yang berakibat pada mentality kedua anak lelakinya. Restu yang tumbuh besar tanpa di damping seorang ayah, sedangkan Molan sedari kecil hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ibu. Tentu, secara psikologis akan mempengaruhi jiwa keduanya.


Erick sudah mempunyai rencana besar untuk kedua anaknya ini. Penyakit yang dia derita semakin menggerogoti tubuhnya. Untuk itu, di akhir usianya tersebut Ia ingin ketika menyerahkan tampuk kepemimpinan usahanya, kedua putera nya itu sudah mempunyai pendamping hidup.


Itulah, mengapa dia harus mencarikan sendiri jodoh untuk anaknya, karena keduanya belum jua berkeinginan untuk menikah.


Restu lebih penurut berkat bantuan dari Soraya dalam memberi pengertian, walau dia belum bisa menerima dirinya sebagai seorang ayah bagi anaknya itu, tetapi Restu masih mengikuti apa yang dia mau. Lain halnya dengan Molan. Jiwa pemberontakannya begitu kentara. Sifat keras kepala yang menurun dari dirinya, membuat anak keduanya itu begitu frontal dalam penolakan. Molan tidak bisa menerima kenyataan, hingga seperti sekarang ini, dia menghilang entah kemana.


Erick pun baru mengetahui, penolakan putera keduanya itu juga menyangkut masalah wanita. Sesuatu yang di luar prediksinya, bahwa kedua anaknya memperebutkan satu orang wanita yang sama. Yaitu, Farada.


Sita Angelina yang di utus untuk mendekati Molan, serta Herwanto telah memberikan informasi yang banyak padanya ketika di Jogja dan Bali. Pun pada akhirnya, Sita seperti menyerah untuk mendekati Molan, karena anaknya itu sangat mencintai Farada dan begitu juga sebaliknya. Informasi yang sama dia terima dari Herwanto.


Untuk itu, dia harus mengambil keputusan! Sebuah keputusan yang nantinya akan membuat konflik tajam di kedua penerusnya tersebut, yang sayangnya tidak di saksikannya.


Setelah berpikir cukup lama, Erick kemudian menghubungi seseorang, "Wanto, suruh Sita ambil cuti beberapa hari, dan segera berangkat ke Jakarta secepatnya!"


Selepas magrib, mobil sport yang di kendarai Molan memasuki halaman rumahnya di Pondok Indah. Dia baru saja kembali dari Gunung Salak selama tiga hari. Cara healing yang tak terpikirkan sama sekali oleh orang lain.


Langkahnya terhenti ketika memasuki teras rumah. Disitu sudah ada dua orang yang sangat di kenalnya, Restu dan Farada sedang menunggu duduk di kursi tamu teras.


Molan lalu berjalan perlahan, fokus melihat Restu yang semakin dia benci belakangan ini. Dia tidak mau mengakui Restu sebagai kakaknya. Tapi, faktanya pria itu memang sudah menjadi bagian dari keluarganya.


"Ada apa?" Molan bertanya dengan nada sarkas. Ia menantang mata Restu. Tinggi mereka hampir sama, cuma otot Molan lebih kelihatan karena sering dilatih.


Farada ikut berdiri, dia merasa aura Molan berbeda kali ini, dia harus berjaga - jaga. Sedangkan Restu mencoba bersikap tenang, tapi dia segera waspada karena rahang Molan terlihat mengeras.


"Tuan Besar memanggil, beliau sudah mencari kamu selama dua hari, segeralah temui di Menteng."


"Wow...dia masih mencari gue? bukannya dia sudah menemukan istri masa lalunya berikut anak kesayangan yang dia tunggu - tunggu?" Molan terkekeh.


Restu terpancing provokasi Molan, dia maju dan menarik kerah leher adiknya itu, "Kamu jangan bawa - bawa Ibuku. Kamu dan aku tidak tahu apa - apa dan tidak berhak ikut campur disini!"


Molan kembali tertawa sinis, "Kau bilang jangan bawa - bawa Ibu? Faktanya Ibumu yang membuat Mama gue menderita dan akhirnya meninggal!"


Plak!


Satu tamparan dari Restu mendarat di pipi kiri Molan.


"Mas!" Farada memekik, air matanya menganak di kelopak matanya.


"Bang**t!" Molan berubah beringas, dia langsung menepis tangan Restu yang mencengkram kerah lehernya, lalu melayangkan tinju kanan ke arah ulu hati Restu, di ikuti dengan pukulan tangan kiri.


Restu yang tidak terlatih langsung terjerembab jatuh mental ke belakang. Molan kembali berniat menyerang Restu yang terjatuh itu, tetapi Farada dengan keberaniannya langsung menampar pipi sebelah kanan Molan. Pria itu langsung terpana dan terdiam. Setelah menerima tamparan yang cukup keras dari Farada, Molan tak berniat lagi untuk menyerang Restu. Lelaki itu seolah terpaku.


"Kamu kelewatan!" Bentak Farada dengan air mata berlinang. Aksi saling tatap pun terjadi di antara keduanya. Farada memutuskan kontak mata terlebih dahulu dan kemudian berjalan menghampiri Restu yang masih terduduk di lantai dan membantunya berdiri.


Melihat itu, Molan tak menghiraukan lagi. Tanpa bersuara dia pun melangkah masuk ke dalam meninggalkan Restu dan Farada yang masih berada di teras. Setelah mengunci pintu, dengan langkah gontai dia terus menaiki lantai dua menuju kamarnya tanpa memedulikan lagi suara ketukan yang berulang kali serta panggilan Farada yang memintanya untuk kembali berbicara. Saat ini, yang dia butuhkan adalah menyiram tubuhnya dengan air dingin, agar aliran darah panas di pori - pori ikut menjadi dingin.


Molan mengambil ponselnya yang dia tinggal selama kepergiannya ke gunung salak dari dalam laci meja. Sengaja memang, hal itu dilakukan karena dia butuh ketenangan tanpa adanya gangguan apapun yang berupa panggilan atau pun berbentuk pesan singkat.


Setelah meng-hidupkan ponselnya, di layar langsung tertera banyak notifikasi. Yang terbanyak adalah panggilan dari Papanya dan...Farada.


Molan hanya tersenyum getir melihat itu.