Cinta Harus Memilih

Cinta Harus Memilih
Berbesar hati


Selesai membahas persiapan pernikahannya tersebut, Restu kemudian kembali ke ruangannya di lantai 15. Tempat yang dulunya di tempati oleh ayahnya semasa hidup. Sebelum masuk, dia melihat satu sosok wanita yang sangat dikenalnya tengah duduk membelakanginya diruang tunggu yang bersebelahan dengan ruangannya.


Restu kemudian dihampiri oleh sekretarisnya.


"Maaf Pak, ada Ibu Sylvia sedang menunggu di ruang tamu."


"Sudah lama?" tanya Restu dengan suara pelan.


"Lebih kurang tiga puluh menit yang lalu, Pak. Ibu Sylvia ingin mengambil berkas yang perlu tanda tangan Bapak, yang rencananya kemarin mau diambil." terang sang sekretaris sambil memberitahu bahwa berkas tersebut sudah ada di atas mejanya.


"Ya sudah kalau begitu." Restu berjalan menghampiri Sylvia yang sedang memainkan ponsel. Ruangan yang kedap suara hingga kedatangan Restu tak diketahuinya.


"Maaf lama menunggu," ujar Restu dengan intonasi datar.


Sylvia menoleh kearah pintu yang terbuka, lalu menaruh ponselnya ke dalam tas. Dengan raut tenang dia berkata, "Aku datang mau ambil surat yang perlu ditanda tangani. Kemarin_"


"Kita bicara di ruangan aku aja!" potong Restu, dia tak hiraukan perkataan Sylvia.


"Aku tunggu disini aja!"


"Berkasnya di meja aku, nggak ada disini!" ujar Restu tetap melangkah masuk ke ruang kerjanya.


Beuh!


Sylvia memukul sandaran kursi, dia kesal tapi akhirnya mengalah juga. Ia pun berdiri mengikuti Restu.


"Kamu pindah kemana?" tanya Restu setelah sampai dimeja kerjanya, sambil mencari berkas Sylvia diantara file-file yang tergeletak dekat komputer. Setelah bertemu kemudian mengambil pulpen di meja.


"Jadi ... dari kemarin kamu belum menandatanganinya?" Sylvia memprotes, dia juga tak hiraukan pertanyaan Restu. Berkas yang sudah beberapa hari yang lalu dia berikan tapi ternyata hanya tertumpuk begitu saja? Ya, Tuhan!


"Aku sibuk belakangan ini! Jadi nggak sempat mengurus hal-hal yang nggak penting."


"Surat itu nggak berarti bagi kamu, tapi sangat penting untukku!" Sylvia meradang. Dia merasa disepelekan oleh pria yang sekarang terlihat angkuh di matanya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku!"


"Dan, kamu nggak perlu tau aku pindah kemana!" jawab Sylvia dengan cepat.


"Ya sudah, kalau nggak mau kasih tau. Mudah bagiku sebenarnya mencari tau kamu kerja dimana, bahkan lebih dari itu ... Aku bisa!" Restu tersenyum mengejek.


"Maksud kamu? Lebih dari itu ... apa?"


"Lupakan! nggak penting juga pertanyaan itu. Aku tadi hanya ingin bicara baik-baik aja, tapi sepertinya kamu tak bisa."


"Kita tak perlu berbasa basi lagi, cukup kamu tanda tangani surat itu, karena aku tak ada waktu lagi, sore ini berkasku harus masuk di tempat kerjaku yang baru!" tegas Sylvia sambil berjalan mendekat ke depan meja Restu.


Restu memperhatikan gerakan gadis yang dulu sangat dicintainya sejenak sebelum membubuhkan tanda tangannya di atas surat pengunduran diri tersebut.


"Uang pengabdian selama kamu bekerja, hari ini sudah ditransfer ke rekening kamu." ujar Restu sambil menyerahkan surat lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Terima kasih." jawab Sylvia setelah menerima amplop dari tangan Restu, Ia memilih untuk mengabaikan jabat tangan pria yang sekarang bukan atasannya lagi.


Di sisi lain, Farada setelah memberikan berkas surat kepada bagian personalia bermaksud ingin menemui Restu. Dia baru mulai bekerja pada esok harinya, jadi masih ada waktu luang satu hari ini. Ingin langsung pulang rasanya malas.


"Sa, aku mau ke tempat Mas Restu dulu ya, kamu masih ingin disini?"


"Cieehhh ... yang mau ketemu pangerannya, udah kangen yaa ... Aku langsung pulang aja, nanti mamaku minta ditemani pergi. Aku pulang yaa...."


Farada tersipu di ledek Tissa, Ia lambaikan tangannya, kemudian langsung menuju lift. Sampai di lantai 15 dia langsung menuju ruang sekretaris, tapi tak ada. Farada mengedarkan pandangannya sejenak, akhirnya dia mengambil keputusan untuk langsung saja mengetuk pintu Restu.


"Selamat siang Bu Sylvi, apa kabar Bu?" Farada menangkupkan tangannya di dada, Ia membungkuk sedikit gugup.


"Baik, Farada. Kamu ... juga dipindahkan kesini?" tanya Sylvia sambil tersenyum.


"Oh, Ibu belum tau? Tempo hari saya mau pamit dengan Ibu di Bali, staf bilang, Ibu juga rolling ke Jakarta. Akhirnya, kita ketemu disini deh."


Sylvia diam sejenak, "Saya sudah tidak bergabung lagi dengan Luxury ini."


"Hah? Maksudnya ... Ibu resign? sejak kapan, Bu?" Mata Farada membulat sempurna. Ibu Sylvia adalah salah satu pimpinan yang diseganinya karena pembawaannya yang tenang serta ramah dan juga baik terhadap semua orang.


"Sejak hari ini ..." Sylvia lalu menoleh ke arah pintu yang kembali terbuka, Restu baru keluar dari ruangannya. "oh ya, kamu mau menikah kan? Selamat ya, semoga langgeng!" sambungnya dan mengulurkan tangan.


"Eh? ..." muka Farada bersemu merah, "iya Bu, trima kasih." Gadis itu pun menyambut uluran tangan bekas pimpinannya itu.


Sylvia pamit dari hadapan Farada tanpa mengindahkan kehadiran Restu disitu. Hal ini menjadi tanda tanya baginya. Gesture tubuh Sylvia tidak menunjukan sebagai bawahan atau tepatnya bekas bawahan terhadap Restu. Ingatannya kembali mengingat momen sewaktu Restu menerima telepon di dalam mobil ketika keluar dari bandara tempo hari. Ibu Sylvia kah yang dimaksud staf yang resign tersebut?


Dia menghubungkannya dengan kejadian yang baru saja terjadi. Siapa sebenarnya Ibu Sylvia ini? Karena gerak gerik mereka, walau sekilas dia lihat tidak mencerminkan hubungan atasan dan bawahan.


"Kamu sudah lama?" Suara bariton Restu membuyarkan lamunan Farada.


...Sebenarnya, ada hubungan apa kamu sama Ibu Sylvia, Mas?


"Oh, I...iya Mas, aku baru dari personalia, menyerahkan surat rotasi aku. Mmh ... karena mulai kerjanya besok, aku pikir baiknya kesini aja," jawab Farada ragu, karena bukan itu sebenarnya yang akan terlontar dari mulutnya. "Kalau Mas lagi sibuk, aku pulang aja."


"Nggak apa-apa, di dalam aja ngobrolnya kalau gitu." Restu berbalik badan, "saya tadi habis rapat internal, trus dilanjutin ngobrol bertiga dengan Om Herwanto dan Molan, membahas persiapan pernikahan kita." terang Restu sambil menghubungi office boy untuk menyiapkan minuman buat Farada.


"Ooh." jawab Farada pendek. Tentang Ibu Sylvia?


Restu kemudian menerangkan tentang rundown acara persiapan pernikahan mereka. Farada menanggapinya dengan ekspresi yang berubah-ubah. Terutama ketika mendengar nama Molan yang menjadi pimpro nya. Dia terkejut sekaligus sedih!


***


Farada berjalan perlahan keluar dari pintu lobi, menunggu taksi online yang sudah di pesan tadi sewaktu di lift. Hari masih dalam kategori siang, baru pukul 14.30. Pertemuannya dengan Restu hanya berlangsung sebentar saja, cuma satu jam. Karena Restu mendapat telepon dari rekanan untuk pertemuan di luar kantor.


Gadis itu celingak-celinguk mencari keberadaan taksi online yang katanya sudah berada di area lobi. Tapi tiba-tiba sebuah mobil Jeep Rubicon hitam berhenti di depannya.


Perasaan, bukan ini mobilnya deh? batin Farada. Ia melihat ke arah dalam tapi kaca hitam menghalangi pandangannya. Ketika kaca samping diturunkan, baru Ia tahu siapa pengemudi mobil Jeep Sport tersebut.


"Ayo!" Molan melambaikan tangannya menyuruh Farada masuk mobil. Gadis itu kaget. Ada kerinduan yang harus Ia tahan.


"Aku udah pesan taksi!" ujarnya dengan sedikit berteriak. Dia masih berdiri di depan lobi.


Sebuah mobil pun berhenti persis dibelakang Jeep milik Molan dan memberi klakson pada Farada pertanda taksi sudah sampai.


Tapi, Molan segera turun dan menghampiri mobil online itu. Entah apa yang dia bicarakan sambil sesekali menunjuk kearahnya, Farada melihat Molan lalu mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang pada pengemudi. Kemudian taksi itu pun pergi.


Dengan wajah sumringah, Molan membuka pintu samping kemudi tanpa peduli dengan beberapa pasang mata yang diantaranya ada yang mengenalnya.


"Ayo, tuan puteri ... masuk!"


"Ish!" Farada berdecak melihat tingkah Molan, tapi dia menurutinya.


"Mau kemana?" tanyanya setelah mobil perlahan meninggalkan area lobi.


"Ke bulan!" jawab Molan dengan wajah konyolnya.


"Aishh!"