
Molan baru saja akan menyemprotkan parfum ke tubuhnya, tiba-tiba ketukan kamar berbunyi, "Ada apa Bik?" Botol parfum masih menggantung ditangan.
"Maaf Tuan Muda, dibawah ada Tuan Restu, katanya ada perlu dengan Tuan Muda."
Molan mengernyit dahi, ada perlu apa Restu malam-malam begini datang. "Ya sudah, sebentar lagi saya keluar." Molan berbalik kembali ke depan kaca besarnya, memastikan semuanya beres, lalu segera turun menemui kakaknya tersebut. Rencana malam ini dia mau bertemu Sylvia di sebuah kafe di bilangan Kasablanka.
"Ada apa?" tanya Molan dengan wajah datar.
Restu yang duduk di sofa tamu sedang memainkan ponsel, menoleh kearah datangnya suara,"Oh, kamu mau pergi? Kalau gitu ... besok aja kita bicarakan, sekalian dengan Om Herwanto."
"Kita?" Molan menatap heran, "mengenai apa?"
"Saya ingin mempercepat pernikahan dengan Farada. Saya ingin bicarakan dulu dengan kamu, sebab kamu sekarang keluarga saya. Tapi kalau kamu mau pergi, besok aja kita bicarakan." Restu memperhatikan ekspresi Molan yang berubah.
Deg!
Molan terdiam sejenak. Ia menghela napas dalam-dalam.
"Lo yakin? Sementara masalah lo sama Sita, Sylvia dan Samantha belum selesai?" Molan berjalan mendekat sambil gelengkan kepala berapa kali.
Restu agak kaget mendengar ucapan yang terlontar dari mulut adiknya itu. Tapi, dia tidak heran.
"Saya tahu kamu menyelidiki saya, tapi ini tak ada hubungannya dengan mereka!" tegas Restu dengan wajah dingin.
"Kapan rencana lo?"
"Dua minggu lagi!"
"Saran gue ... selesain dulu masalah lo dengan tiga bersaudara itu! Terutama Sylvia! karna gue tau, lo masih cinta sama dia." Molan tersenyum mengejek.
Rahang Restu mengeras. Dia yang tengah duduk kemudian berdiri mensejajarkannya dengan Molan, tinggi mereka hampir sama. "Kamu... nggak usah sok tau!"
Rahang Molan mengeras, "Seperti yang tadi lo bilang, gue memang menyelidiki lo! Dan ..." dia menjeda kalimatnya sambil menunjuk dada Restu pelan, "apa lo nggak mikirin perasaan Farada nanti kalau hati suaminya justru ke orang lain? orang yang baru kembali datang dari masa lalunya?" Molan senyum mengejek kemudian mundur beberapa langkah setelahnya, "atau ... Lo emang sengaja untuk nge-move gue?"
"Masa lalu saya sudah selesai. Sudah nggak ada hubungannya lagi. Farada yang akan jadi masa depannya. Alasannya, karena memang saya ingin menikahinya, paham kamu!" tegas Restu dengan menatap tajam. Dia pun perlahan berbalik badan untuk segera pergi. Dia pikir tak ada gunanya berlama-lama ngobrol dengan adiknya ini.
"Silahkan! Tapi jika nanti Farada terluka, lo berurusan sama gue!"
Restu tak menanggapi perkataan Molan itu, dia hanya menatap sejenak sebelum menghilang dari balik pintu.
Molan memukul sandaran kursi sofa, berdiri cukup lama menunduk sambil memainkan kunci mobil. Akhirnya! ... gumamnya perlahan.
"Loh, Tuan Restu sudah pergi, Tuan Muda?" tanya bibik yang membawa nampan berisi air minum buat Restu.
Molan mengangguk, "Ya sudah, buat saya aja," ujar Molan kemudian menenggak minuman tersebut.
Selang beberapa menit, Molan terlihat memacu kendaraannya membelah jalanan yang cukup ramai menuju kawasan kasablanka. Terlambat beberapa menit memang. Tapi dia sudah menghubungi Sylvia yang sudah menunggunya disana.
"Maaf, terlambat. Kamu sudah lama?" tanya Molan sambil menjejakan pantatnya di kursi, Ia mengambil tempat berhadapan.
Sylvia melirik jam ditangannya. "Belum terlalu lama Tuan Muda, tadi saya terkena macet juga, baru sepuluh menit."
"Nggak usah terlalu formal dengan saya, santai aja!" Molan tersenyum tipis memberikan ketenangan pada Sylvia yang terlihat kikuk. "Kamu mau makan apa?" sambungnya kemudian menjentikan jari memanggil pelayan.
Sylvia berdehem untuk mengatasi grogi. Siapa yang bisa menampik pesona tuan muda di depannya ini? Walau terkesan santai, tapi auranya sangat kuat untuk menarik lawan jenis. Dia rasa hampir semua gadis sepakat untuk itu.
"Saya belum tau selera Tuan Muda, jadi tadi hanya baru pesan minuman buat saya sendiri." ujar sambil memegang gelas berisi lemon tea.
"Nggak masalah." Molan mengibaskan tangan lalu memesan makanan dan minuman ketika pelayan menghampiri mereka.
Setelah pelayan tersebut pergi, Molan bertanya, "Oh ya, kamu ... alasan mengambil keputusan resign, karena Restu?"
Sylvia tak langsung menjawab, dia pikir pria ini tidak suka berbasa basi. Setelah beberapa kali menarik napas untuk mengatur intonasi suara agar terlihat normal, Ia pun bersuara, "Sejujurnya ... Iya. Karena saya tak ingin bertemu dengan dia lagi!"
"Sebabnya?"
"Saya sakit hati!"
Sylvia mengangguk.
"Bagaimana ... Kalau tuduhan kamu itu salah? Kalau saya lihat, Restu bukan tipe laki-laki yang plin-plan dalam sebuah hubungan."
"Saya memastikannya sendiri dengan mata kepala saya, Tuan Muda. Beberapa kali dia terlihat pergi dengan Samantha. Juga, tante saya ... Mamanya Samantha meminta saya untuk meninggalkan Restu, karena dia ingin jadikan mantu!" terang Sylvia dengan nada geram.
Molan manggut-manggut, "Kamu sudah pernah klarifikasi ke Restu?"
"Saya rasa tak perlu lagi yang namanya klarifikasi, dia pasti menyangkalnya. Sampai tempo hari pun, dia masih membantah!"
"Oh ya?" Molan terkejut, dahinya mengernyit. "Terus?"
"Ya, itu tadi, dia tetap membantah kalau dia selingkuh dengan siapapun, termasuk dengan Sitta. Lagi pula ..." Sylvia menjeda sejenak, "sepertinya dia pun marah sama saya. Dia juga mengatakan akan menikahi Farada!" sambungnya dengan raut muka kecewa.
Molan tertawa sumbang. Ternyata, mereka pun sudah pernah bicarakan kembali masalah mereka ini. Dan Restu? tetap keukeuh menikahi Farada.
Obrolan mereka pun terhenti sejenak ketika pelayan telah datang membawakan makanan. Setelahnya, mereka pun terlibat pembicaraan ringan sambil menikmati hidangan tanpa membahas Restu lagi.
***
Pagi sudah menyapa. Farada sedikit kaget karena sinar mentari sudah terang menyinari menyeruak di sela horden. Dia takut kesiangan. Dia tak biasanya seperti ini. Dua hari matanya sulit dipejamkannya, mungkin sudah pukul dua dini hari baru tertidur.
Pikirannya sedang kalut, melayang memikirkan ketetapan hati yang sempat meragu belakangan ini. Menikah bukan sebuah perkara main-main, itu sakral. Menikah itu adalah ibadah terpanjang bagi insan manusia. Banyak hal yang harus disiapkan, terutama mental dan hati. Mentalnya sudah siap, tetapi hatinya?
Farada miringkan tubuhnya ke kiri, masih malas untuk bangun sebenarnya. Rasa kantuk masih menyerang, tapi suara dering ponsel memaksanya untuk bangun, dia meraih benda pipih itu di nakas.
"Halo, Sa?"
"Fara, jangan lupa hari ini kita lapor diri ke kantor loh! Kamu udah siap-siap belom?"
Suara lembut Tissa menyadarkan Farada bahwa hari ini dia harus segera bersiap. "Ya ampun, aku lupa!" ujar Farada sambil menepuk jidatnya.
"Ini udah pukul 8.30 loh. Jam 10.00 batas waktu masukin data, Farada!"
"Iya ... iya, aku segera bersiap. Bye!" Farada langsung menutup percakapan dan buru-buru lari ke kamar mandi.
The Royal Imperium, Tbk.
Setelah melakukan rapat rutin pagi dengan para direksi dan manager divisi, Molan didampingi Herwanto meninggalkan ruang rapat terlebih dahulu.
"Tuan Muda, Tuan Restu nanti mau bicara hal penting dengan kita menyangkut pernikahannya. Kita langsung aja ya."
Molan menoleh dan anggukan kepalanya, "Iya, malam kemarin dia menemuiku, dia ingin mempercepatnya," ujarnya dengan intonasi datar.
"Oh ya? Ke rumah?"
Pria itu kembali mengangguk.
Setelah sampai di ruangan Molan, yang tak berapa lama kemudian Restu pun segera bergabung.
Tak ada prolog basa basi, mereka langsung terlibat pembicaraan ke inti. Membicarakan rencana dan persiapan serta menentukan tempat resepsi nantinya.
Tak ada debat, tak ada konflik antara Restu dengan Molan yang terjadi. Molan berusaha lapang dada serta merelakan semuanya. Malah ...
"Gue yang akan memimpin persiapan tempat dan dekorasinya langsung!" ujarnya tenang.
"Ada WO yang mengurusnya, kamu nggak usah terlalu repot." jawab Restu menyilangkan tangan di dada.
Molan mengibaskan tangannya, "Gue akan pimpin koordinasi dengan WO itu. Nanti konsepnya gue atur, dua tiga hari ini layout nya sudah ada di meja lo. Ada beberapa konsep nanti gue buat, tinggal lo setujui atau nggak nantinya."
Herwanto yang hanya mengikuti kemauan kedua penerus tuan besar tersebut mengamati wajah Molan dengan intens. Walau wajah tuan muda tersebut tak terlihat sesuatu yang aneh. Tetapi? Apa yang sedang kau rencanakan tuan muda? Batinnya bermonolog.
"Dua hari lagi, gue terbang ke Bali mengurusnya, sekalian bertemu WO disana."
Restu dan Herwanto tertegun, ternyata Molan serius dengan ucapannya.