
Seminggu sudah berlalu sejak kejadian drama di kamar Farada yang cukup menyesakkan bagi seorang Molan. Bagaimana tidak, dirinya yang begitu sulit untuk jatuh cinta, terpaksa harus mundur ketika baru menemukan seseorang yang cocok untuk dijadikan pasangan hidupnya kelak.
Restu, dia pria dewasa dan wajahnya mencerminkan bahwa otaknya terlihat cerdas. Dia bukan lawan yang seimbang bagi Molan. Segala yang di sukai Farada, ada padanya. Sedangkan dirinya, adalah pria urakan, suka bertindak semaunya. Jadi, untuk apa Molan menghabiskan waktu berlama-lama larut dengan suasana hatinya tersebut.
Buktinya hampir sepekan ini Farada merasakan perubahan yang kentara dari sikap Molan terhadap dirinya. Molan terlihat lebih acuh jika berpapasan di kantor. Terlihat lebih dingin, terkesan otoriter dan bicara seperlunya ketika harus berinteraksi dalam masalah pekerjaan. Maklum mereka dalam tim marketing yang sama. Dan, yang pasti terlihat lebih tegas sebagai kepala marketing. Jiwa Tuan Mudanya sangat menonjol.
Molan lebih sering menghabiskan waktunya di ruangan Herwanto jika waktu kosong. Bukan sebuah kebetulan sebenarnya dia betah berlama-lama di ruangan pimpinan hotel itu, tapi memang sebuah perintah yang di terima Herwanto dari Tuan Besar Erick agar segera mendidik dan mengajari Molan ilmu seluk beluk pengelolaan perhotelan dan berbisnis secepatnya.
Tentu, Herwanto sangat senang dengan perubahan sikap tuan muda nya itu, walau timbul berbagai pertanyaan di benaknya. Tak seperti biasanya pria yang telah dianggap ponakannya sendiri tersebut tidak banyak bantahan dan malas-malasan ketika dirinya menerangkan seluk beluk kondisi hotel, seperti sebelumnya. Kali ini, Molan terlihat begitu serius mendengarkan, dan sesekali menulis note di kertas, jika itu menurutnya penting. Sebuah kemajuan pesat!
Walau, jiwa liarnya masih sering kambuh. Masih sesekali sloki dua sloki minuman alkohol yang selalu tersimpan di kamar Ia tenggak. Alasannya untuk sekedar menghilangkan suntuk katanya, Tak jadi soal bagi Herwanto, yang penting ponakannya ini sudah siap jika nanti tahta berganti.
***
"Tissa, nanti jam dua kumpulkan beberapa orang tim untuk berkumpul di ruang meeting, ada beberapa hal yang harus kita bahas." Ucapnya tegas ketika berpapasan dengan Tissa.
Tissa melirik jam tangannya sekilas, masih ada satu jam lagi waktu untuk berkumpul, "Baik Tuan Muda, semua tim atau beberapa orang aja?"
"Kan narasi saya, beberapa orang! Bukan semua..." Molan menatap tajam gadis itu, dan bersiap berlalu, "kamu pilih siapa aja yang kira-kira menurut kamu perlu untuk ikut, kamu kan senior." Lanjut Molan kemudian.
"Oh, baik!" sambut Tissa cepat, "ada lagi, Tuan Muda?"
Molan hanya menggeleng dan melangkah pergi meninggalkan Tissa yang menatap punggung dengan kening mengkerut.
Baru dua langkah Molan berjalan, dari arah berlawanan Farada muncul dengan beberapa bundelan map di tangan, dia sempat mendengar interaksi Tissa dan Molan, "Ada apa?" tanyanya agak ragu-ragu.
"Kamu tanya sama Tissa, saya tadi sudah beritahu dia," sahut Molan datar, lalu meninggalkan dua wanita yang menatapnya heran bercampur bingung.
"Ada apa sih?" Tanya Farada menggamit tangan Tissa ke pojok. Farada bukannya tak merasakan perubahan sikap Molan belakangan ini, terutama pada dirinya. Tak ada tingkah konyol atau hal-hal remeh yang selama ini sering dilakukannya. Farada bukannya tak tahu sebabnya, dia sengaja untuk mencari waktu untuk bertanya pada Molan, tapi pria itu selalu menghindarinya.
"Kata tuan muda, nanti jam dua, beberapa orang tim marketing berkumpul di ruang meeting, ada hal yang perlu di bahas,"
"Owh, mau bahas apa?"
Tissa mengangkat kedua bahunya, "Nggak tau! ngomongnya cuma disuruh kumpul aja," Tissa kemudian menurunkan intonasinya, "Eh...Fara, kamu berasa nggak sih, ada yang aneh dengan tuan muda belakangan ini? Sikap nya itu loh!"
Farada melihat ke arah perginya Molan sebentar sebelum mengangguk, "Iya, sama aku juga," jawabnya pendek, "Huft!..." lalu menghembuskan napas pendek.
"Kamu tahu sesuatu?" tanya Tissa pelankan suara.
Farada kembali diam, menimbang-nimbang, apa sebaiknya dia cerita pada sahabatnya ini?
"Hhh...sepertinya ada hubungannya dengan aku, kejadian seminggu yang lalu." Farada menebak, apa mungkin waktu itu, Molan melihat Restu datang?, karena sejak pria itu pergi, yang awalnya merencanakan sesuatu, tetapi tak pernah kembali malam itu.
"Maksudnya?"
"Nanti deh aku ceritain...ya sudah, yuk kan sebentar lagi mau meeting," Farada kemudian berjalan lebih dahulu meninggalkan Tissa yang masih kebingungan.
Malam hari...
Farada baru keluar dari kamar mandi setelah hampir tiga puluh menit lamanya berendam di bathtub dengan air hangat. Hari ini cukup melelahkan baginya setelah seharian ini bekerja dengan pikiran yang penuh tanda tanya.
Di ruang meeting, jam dua siang tadi, Molan benar-benar membuatnya pusing. Bukan dengan tingkah konyol mengganggunya, bukan!...tapi justru bersikap sok keren menurut Farada yang dia perlihatkan kali ini. Sok cool!
Timbul rasa penasaran ingin menanyakan, mengapa sekarang pria itu seperti menjaga jarak dengan dirinya. Karena terakhir bertemu, pria tersebut masih baik-baik saja.
"Coba cari data instansi apa saja yang bisa kita lobi, cari organizer yang biasa bekerjasama dengan instansi-instansi tersebut."
"Tapi pada event tertentu, instansi jarang memakai jasa EO, biasanya mereka punya tim sendiri untuk mengurusnya, jadi apa sebaiknya langsung ke orang instansinya saja?" Usul Farada memperkuat ide Tissa tadi.
"Itu belum perlu dilakukan, sekarang ini lebih baik tingkatkan kerja sama dengan para EO nya saja, karena instansi itu pasti menggunakan jasa EO," bantah Molan tidak sependapat, baginya berurusan dengan bagian instansi agak sedikit sulit, dan pasti mereka meminta biaya yang rendah. Jika melalui EO, pihak hotel lebih mudah ber-negosiasi.
"Bukankah dengan langsung ke bagian instansi tersebut akan membuat harga kita sedikit diatas? Karena biaya dari instansi akan langsung ke kita, tanpa melalui EO, yang oto..." keterangan Farada langsung terhenti,
"Kita lakukan dulu opsi yang pertama, melalui EO!" Sanggah Molan memotong kalimat Farada.
Beh!
"Oh, baiklah" Farada tak membantah lagi.
Menyebalkan bukan?
Dering ponsel membuyarkan lamunan Farada tentang kejadian hari ini. Dan baru menyadari bahwa sejak keluar dari kamar mandi, dia belum melakukan aktivitas apapun. Astaga! pikiran ini...
Dering ponsel susulan kembali berbunyi, Farada buru-buru mengangkatnya, di layar ponsel tertampang sebuah nama...Pangeran.
Farada mengatur napasnya agar terdengar natural. Ngobrol sama pria yang disukainya ini selalu bikin deg-degan, "Halo...ya mas?"
"Kamu lagi sibuk? Kok lama jawabnya?" suara tegas pria di seberang sana terdengar begitu kentara.
"Oh, aku tadi di kamar mandi, baru aja selesai. Ada apa mas?"
"Memangnya kalau nelpon kamu, harus ada apa gitu? saya cuma mau tahu kabar kamu aja, udah berapa hari ini nggak ada kabarkan?"
Pufft...Farada menghela napasnya. Entah kenapa, bicara dengan pria ini selalu membuatnya kehilangan kosa kata. "Kabarku baik, mas...beberapa hari ini aku lagi banyak kerjaan, jadi nggak sempat pegang-pegang handphone. Kayak seka..."
"...Seperti yang saya sering bilang, kamu kerja di Jakarta aja, saya bisa carikan kamu kerja disini. Kalau perlu kerja di kantor saya. Kamu nggak terlalu capek, dekat pula dengan orang tua!"
Farada menggeleng, ini keinginan Restu yang kesekian kalinya dia dengar, "Aku nggak enak harus resign sekarang mas, secara...aku kan karyawan baru disini."
"Ya, terserah kamu lah!"
Farada mendengar dengusan hembusan napas kasar di seberang sana. Keduanya kemudian sama-sama diam setelahnya.
"Ya sudah kalau gitu, kamu istirahat sekarang ya, jaga kondisi kamu untuk esok hari."
"Iya mas..." lirih Farada pelan, dia yakin omongannya nggak terdengar oleh pria tersebut, karena sudah terputus.
Farada kemudian merenung sambil tangannya meremas selembar tissu...Apa memang berhenti kerja aja ya? Kembali ke Jakarta? ujarnya dalam hati.
Arrgh! ...Farada merundukkan kepala menatap lantai sambil meremas rambutnya yang masih belum dia dikeringkan setelah mandi.
Tidur! itu cara terbaik untuk menenangkan pikirannya bukan?
-
-