
...~Happy Reading~...
"Sebenernya ada apa sih? Kenapa kamu mengumpulkan semua orang Bi?" tanya bunda Jingga penasaran.
"Asa mau bicara sesuatu Bun," jawab Bintang dengan cepat tanpa menoleh ke arah sang bunda.
"Astaga, gini amat sih ya." gumam Angkasa begitu pelan nyaris tidak terdengar.
"Begini, Ayah, Bunda dan semuanya." Angkasa menarik napas nya dengan cukup panjang sebelum memulai pembicaraan.
"Bi, di depan semua orang, terutama Ayah dan Bunda. Aku, Angkasa Gaharu ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintai kamu. Aku ingin memiliki kamu, selalu bersama kamu dan bisa menjaga kamu sepanjang waktu. Askara Nolan, Will you marry me?" ucap Angkasa menatap lekat pada manik wajah seorang gadis yang sudah ia anggap kakak selama belasan tahun itu sambil menggenggam tangannya.
Mendengar perkataan dan ungkapan rasa untuk ke sekian kalinya dari Angkasa, seketika membuat gadis itu tersenyum.
Memang ini bukanlah kali pertama, namun entah mengapa kini rasanya sangat berbeda. Membuat hatinya merasa begitu bahagia saat ini.
"Buruan jawab Bi, jangan bikin anak orang nunggu kelamaan!" bisik Raihan di belakang Bintang.
"Kak Rai diem dulu bisa gak? Jangan ganggu!" cetus Bintang langsung menyikut orang di belakangnya.
Bintang menarik napas nya cukup panjang, lalu menatap ke arah Angkasa, "Of course, i would!" jawab Bintang tersenyum hingga membuat wajah Angkasa ikut tersenyum semakin lebar.
Ini adalah kali pertama ia mendapatkan respon seperti itu dari Bintang. Biasanya, saat dirinya selesai menyatakan perasaan, maka Bintang akan mendengus, cuek atau bahkan mengalihkan pembicaraan ngalor ngidul tidak tentu arah.
Berbeda dengan kini, gadis itu benar benar menepati janji nya. Ia tersenyum begitu manis, tanpa beban. Bahkan, Bintang juga langsung menjawab cepat dengan sangat gamblang dan nyata.
"Jahat banget sih Bi," Angkasa memejamkan mata nya, membuat senyuman Bintang seketika luntur tergantikan raut wajah bingung nya.
"Jahat kenapa? Emang salah ya jawaban aku?" tanya Bintang mengerutkan dahi nya.
"Bukan jawaban kamu yang salah. Tapi kamu jahat, kenapa senyum kamu, begitu manis. Aku kan jadi pengen peluk kamu, tapi gak bisa. Tangan sama kaki ku masih sakit, terus aku bisa apa?" rengek Angkasa hendak menangis, persis seperti anak kecil.
"Pa, Ma! Sepertinya kita harus keluar! Disini gerah!" celetuk Raihan kepada orang tua nya
"Seharusnya kalau sadar diri, keluar nya dari tadi!" balas Asa cemberut kesal melirik orang tersebut.
"Kak Raihan!" seru Angkasa lalu sedetik kemudian ia meringis karena masih sakit.
"Rai, mending kita keluar. Bener kata kamu, selain untuk kasih mereka waktu, tapi kedatangan kamu disini buat suasana makin ambyar!" celetuk bunda Jingga yang langsung merangkul keponakan nya dan segera mengajak nya keluar.
"Sayang! Suami kamu disini!" seru Ayah Langit protes dan segera menyusul istri nya.
"Posesif mode on!" cibir Raihan tersenyum smirk saat melirik ke arah suami dari tante nya yang sejak dulu hingga sekarang selalu sensitif padanya.
"Sayang, Mama dan Papa keluar dulu," ujar mama Naura mengusap kepala putri nya, lalu ikut pergi keluar karena tidak mau mengganggu.
"Terimakasih Ma," jawab Bintang menganggukkan kepala nya.
"Angkasa cepat sembuh, agar pernikahan kalian gak jadi batal beneran!" kata mama Naura seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Angkasa.
Setelah beberapa saat, kini ruangan itu sudah kembali sepi. Hanya tinggal Bintang dan Angkasa, membuat laki laki itu kembali tersenyum dan melupakan kekesalan nya kepada sang kakak sepupu.
"Jadi kamu beneran mau batalin kuliah kamu?" tanya Bintang kembali membuka suara untuk memastikan.
"Enggak!" Angkasa menggelengkan kepala nya, "Aku tetap akan kuliah, sama kamu!"
"Aku gak mau ke luar negeri Sa. Aku mau disini, aku masih mau deket sama orang tua kandung ku!" kata Bintang pelan dengan kepala sedikit tertunduk.
"Siapa yang bilang mau keluar negeri?" tanya Angkasa mengerutkan dahi nya, "Sebenarnya aku juga gak mau keluar negeri. Aku hanya ingin liburan saja kok," imbuh Angkasa begitu santai tanpa dosa, hingga membuat Bintang langsung mendongak dan menatap tajam pada Angkasa.
"Jadi... Kamu—" gumam Bintang pelan.
"Hehehe," Angkasa hanya menyengir seraya mengacungkan dia jari nya untuk membentuk huruf V.
"Angkasa gaharuuuuu!" pekik Bintang begitu kesal dan langsung memukul laki laki itu dengan bantal tanpa perduli bagaimana laki laki remaja itu mengaduh kesakitan.
...~To be continue......