
...~Happy Reading~...
"Asa mau menunda pernikahan!" ucap Angkasa dengan tiba tiba, seketika membuat semua orang yang ada di sana langsung terkejut dan menatap laki laki remaja itu dengan heran.
"Kenapa?" tanya bunda Jingga sedikit bingung.
"Asa mau kita kuliah dulu. Asa mau bekerja dulu, baru menikah. Asa tahu kalau kakak juga menginginkan hal itu. Jadi tolong Bunda, biarkan kami dewasa dulu." ujar Asa dengan raut wajah datar nya menatap sang bunda.
"Sa... " Bintang tidak menyangka, jika ternyata Angkasa bisa berbicara seperti itu.
Dulu, dirinya yang menolak agar pernikahan mereka di percepat. Sampai memberikan syarat yang kurang masuk akal kepada Angkasa. Akan tetapi, kini saat syarat itu sudah terpenuhi, justru Angkasa sendiri yang memilih menunda.
"Asa tidak mau melihat orang yang Asa cintai, menderita. Asa tidak mau memaksa siapapun, tapi Asa masih akan tetap memperjuangkan cinta Asa. jadi tolong, Ayah dan Bunda jangan lagi paksa kami untuk menikah. Asa tidak mau melihat kakak sedih," imbuh Angkasa dan kini ia memalingkan wajah nya ke samping.
"Dan satu lagi," Angkasa menarik napas nya dengan panjang, "Asa mau melanjutkan kuliah di luar negeri!"
Deg!
Seketika itu juga mata Bintang langsung membola dengan sempurna. Mengapa tiba tiba Angkasa berbicara seperti itu. Mengapa Angkasa tiba tiba menunda pernikahan dan pamit pergi sejauh itu. batin Ryana menggelengkan kepala nya dengan pelan.
"Asa, kamu kenapa Nak? Apakah—"
"Asa tidak apa Bunda. Asa cuma tidak mau memaksakan keadaan!" jawab Angkasa dengan cepat, "Asa ngantuk. Mau tidur dulu!"
Setelah mengatakan itu, Angkasa pergi ke kamar dan meninggalkan semua orang begitu saja. Membuat semua nata memandang laki laki remaja itu dengan tak percaya.
"Sayang, apakah kalian ada masalah?" tanya bunda Jingga begitu lembut menatap putri kesayangan nya.
"Tidak Bunda. Bintang tidak merasa ada masalah apa apa," jawab gadis itu langsung menggelengkan kepala nya dengan cepat.
Baru saja siang tadi mereka pulang dari puncak. Semua terlihat biasa saja, tidak ada masalah sedikit pun, namun entah mengapa saat malam, tiba tiba Angkasa memutuskan hal seperti itu tanpa mengajak dirinya berbicara terlebih dulu.
"Kamu yakin? Apakah saat di puncak, kamu tidak ada bicara sesuatu dengan anak itu?" tanya bunda Jingga yang merasa sedikit heran dengan tingkah anak sulung nya.
Bunda Jingga sangat hafal dengan sikap Angkasa. Dia memang tengil, rusuh dan bar bar. Namun, laki laki itu sangat peka dan mudah baper, jika ada satu hal yang menyinggung nya.
Baru dua hari yang lalu, Angkasa meminta agar pernikahan mereka semakin di percepat. Agar dia bisa tinggal satu rumah bersama Bintang, dan kuliah bersama sama.
Namun, kini kenapa tiba tiba malah justru ingin membatalkan.
Angkasa ingin menunda sampai lulus kuliah, bukankah itu sama saja dengan membatalkan? Karena kita tidak tahu bagaimana jalan kita ke depan nya nanti.
"Bunda, Bintang akan menyusul Asa," ucap Bintang pamit dan segera beranjak dari tempat duduk nya.
"Ya, kalian harus bicara baik baik. Pelan pelan, karena anak itu lagi dalam mode tidak baik." ujar bunda Jingga yang langsung di balas anggukan kepala oleh Bintang.
...~To be continue... ...
...Kayaknya di sini tidak akan banyak bab deh, tidak sampai ratusan kaya di kamar Raka. 🤭🙈...