BINTANG Untuk ANGKASA

BINTANG Untuk ANGKASA
Rumah sakit


...~Happy Reading~...


Turun dari mobil, Bintang segera berlari menuju ruangan yang sudah di infokan oleh mama Naura sebelumnya. Dan saat dirinya sudah tiba di depan sebuah pintu ruangan, dimana di pastikan bahwa Angkasa ada di dalam nya, langkah kaki Bintang langsung terhenti.


Antara ragu dan takut untuk masuk. Air matanya sudah berkucuran sejak tadi berlomba dengan keringat yang juga tak kalah deras nya mengaliri pelipis nya, karena ia berlari.


Cklek!


“Bunda ... hiks hiks hiks.” Bintang langsung menghambur memeluk bunda nya yang sedang berdiri di samping brankar laki laki remaja itu.


“Sayang,” bunda Jingga langsung membalas pelukan putri nya dengan tak kalah erat.


Setelah beberapa saat, Bintang melepaskan pelukan nya dari sang bunda, lalu ia mengalihkan pandangan nya, menatap pada seorang laki laki remaja yang kini tengah terbaring di tempat tidur dengan kondisi yang cukup memperihatinkan.


“Udah gue bilang, lo itu harusnya disini. Ngapain sok sok an mau pergi jauh sih, untung aja jauh nya Cuma ke rumah sakit, gimana kalau sampai lo nya pergi ke neraka hah. Dosa lo masih banyak Sa hiks hiks huks.” Ucap Bintang yang langsung mengomeli Angkasa namun dengan di sertai air mata yang sulit untuk di hentikan.


Melihat Bintang seperti itu, akhirnya bunda Jingga mengisyaratkan agar semua orang keluar dan memberikan ruang untuk keduanya. Walaupun kini Angkasa sendiri masih belum sadar.


“Mana janji lo, katanya mau jagain gue, mau lindungin gue. Ini apaan, baru juga ketabrak mobil udah kaya gini gimana ceritanya mau jadi pelindung hiks hiks. Lo mau ninggalin gue gitu? Makanya lo batalin pernikahan kita, karena lo gak mau gue jadi janda, begitu? Biar lo nya juga bisa mati dengan tenang tanpa harus mikirin istri yang di tinggal. Begitu kan Sa? Hiks hiks hiks, lo mau cari cewek di akherat sana, iya kan? Jawab Sa, jawab hiks hiks, jahat banget sumpah. Gue makin benci sama lo Sa, gue makin benci huaaa!” Tangis bintang semakin pecah saat memeluk Angkasa dan terus memberikan umpatan tidak jelas bin ngawur ala Bintang.


“Gue gak tahu pasti kenapa lo mau batalin pernikahan kita dan nekat mau ke luar negeri, bahkan tanpa pamit sama gue. Tapi yang jelas, gue gak mau jauh dari elo, Sa. Lo yang udah janji sama gue, lo udah rebut gue dari Bima. Kenapa lo juga yang mau ninggalin gue, lo pikir gue sampah hiks hiks. Gue gak mau balikan sama Bima, gue Cuma mau sama elo, adek gue yang paling tengil dan rese. Hiks hiks hiks.”


“Bangun Sa, jangan tinggalin gue. Gue janji gak akan jutek jutek lagi sama lo, gue gak akan omelin lo lagi dan gue gak akan ngelarang lo main ML lagi, bangun Sa hiks hiks.”


Dengan perlahan, ia melepaskan pelukan nya, mengangkat tubuh nya dan menatap heran pada laki laki remaja yang tadinya memejamkan mata namun kini sudah membuka mata dan membalas tatapan matanya.


“Kok udah sadar?” tanya Bintang spontan, “Kata Willy, kamu sekarat, koma dan kritis.” Imbuh nya dengan bingung.


“Kayaknya gak seneng banget kalau aku udah sadar,” gumam Angkasa langsung memalingkan wajah ke samping, seolah sedang merajuk.


“Eh, bukan gitu. Tapi kata Willy—“ Bintang terdiam, saat menyadari sesuatu.


Ia kembali mengamati keadaan Angkasa, yang memang tubuh laki laki itu hampir di penuhi perban. Terutama di bagian lengan, dan kaki juga sedikit di kepala.


“Willy bohong?” tanya Bintang pelan dengan wajah datar nya.


“Emang apa yang di bilang sama dia?” tanya Angkasa penasaran dan akhirnya Bintang menjelaskan semuanya kepada Angkasa. Dimana Willy mengatakan keadaan Angkasa yang sangat parah.


Ada pendarahan di otak nya yang membuat nya harus segera di operasi. Akan tetapi operasi juga tidak bisa menjamin kesembuhan nya, maka dari itu Bintang marah dan kesal menyalahkan Angkasa yang sok akan meninggalkan nya untuk selama lamanya. Akan tetapi, kenyataan nya tidak sesuai dengan apa yang di katakan oleh Willy.


Entahlah, apakah Bintang harus marah kepada Willy atau berterimakasih kepada Tuhan karena akhirnya Angkasa baik baik saja dan hanya mengalami cidera ringan akibat kaki nya yang terhimpit badan mobil.


...~To be continue ......