
...~Happy reading~...
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, kini mobil yang di tumpangi oleh Langit dan Kenzo sudah tiba di sebuah gedung kosong terbengkalai. Dan tanpa menunggu waktu lama, kedua laki laki dewasa berbeda usia itu langsung bergegas memasuki gedung tersebut.
“Ayah!” Panggil Angkasa yang ternyata sudah menunggu kedatangan orang tuanya, “Om,” sapa nya saat melihat ternyata ayah nya tidak sendiri.
“Dimana dia?” tanya Kenzo tanpa basa basi, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang yang sudah mencelakai putri nya. Putri yang sudah lama ia cari dan cintai sepenuh hatinya, namun kini harus terbaring tak berdaya di atas brankar rumah sakit.
Angkasa segera mengajak kedua ayah nya menuju sebuah ruangan yang dimana sudah ia jadikan tempat untuk menyekap Alice.
Angkasa sengaja mengikat kedua tangan dan kaki Alice dengan tali di kursi, tak lupa Angkasa juga menutup mata Alice agar wanita itu tidak bisa melihat nya. Jadilah, kini wanita itu hanya bisa berseru dan berteriak memanggil nama Angkasa saja, tanpa bisa melihat rupa nya.
“Kau mengikat nya, menutup mata nya tapi tidak dengan mulut nya?” tanya ayah Langit sedikit bingung dengan konsep putra nya.
“Lebih baik dia tidak melihat daripada tidak bersuara. Karena matanya hanya akan terus menatap Asa saja Ayah, dan Asa tidak mau!” jawab anak itu dengan memanyunkan bibir nya kesal.
“Asaaaa! Baby lepaskan tangan ku. Lepas!” teriak Alice berusaha melepaskan ikatan di tangan nya, namun semakin ia berusaha, semakin sulit juga untuk nya melepaskan ikatan itu, dan yang ada kini tangan nya sudah lecet dan berdarah akibat ulahnya sendiri.
“Kalian mau apakan dia?” tanya Kenzo dengan raut wajah datar nya menatap Alice.
“Ayah saja yang menangani dia. Asa sudah muak,” ucap Angkasa lalu berjalan menjauh, lebih tepat nya ia menghindar dan memilih untuk keluar kamar.
“Babyyy! Angkasa, help me! Baby, kau jangan pergi. Angkasa!” teriak Alice terus menerus memanggil nama Angkasa hingga membuat kedua laki laki dewasa berbeda usia itu langsung menghela napas nya kasar.
“Aku akan menghubungi polisi,” ujar ayah Langit mengambil ponsel nya.
“Apa kau yakin polisi bisa menangani nya? Aku penasaran dengan keluarga nya, bagaimana bisa membiarkan anak seperti dia untuk hidup dan mengganggu orang! Bukan hanya mengganggu, tapi juga mencelakai!” saut Kenzo kembali mengepalkan kedua tangan nya.
“Keluarga nya sudah angkat tangan! Ibu nya meninggal sejak lama, dan ayah nya sudah menikah lagi.” Balas Langit yang memang sudah mencari tahu tentang asal usul Alice sebelumnya.
“Hah, apakah itu bisa dia jadikan alasan untuk bisa mencelakai orang lain?” kata Kenzo berdecak tak suka.
“Entahlah, yang jelas, aku juga bingung harus bagaimana lagi menyikapi dia. Karena bila kita masukkan dia ke polisi, itu akan terasa percuma,” ucap Langit.
“Aku akan membawa nya.” Langit langsung menatap ke arah Kenzo dengan mengerutkan dahi nya, “Kemana?” tanya Langit.
“Yang jelas, dia tidak akan lagi mengganggu kita semua, termasuk Kara!” ucap Kenzo tegas dengan penuh penekanan, matanya menatap tajam pada gadis yang masih berteriak memanggil nama Angkasa untuk meminta bantuan. Namun sayang nya, orang yang ia panggil kini sudah pergi jauh meninggalkan gedung itu.