
...~Happy Reading~...
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, kini mobil ambulan yang membawa Bintang sudah tiba di rumah sakit keluarga. Ya, Bintang langsung di bawa ke Nolan Hospital, tempat dimana Kiano bekerja dan juga rumah sakit milik keluarga kandung Bintang.
Raka sejak tadi tak henti nya mondar mandir menunggu dokter keluar dari ruang penanganan sambil menunggu keluarga yang lain nya datang.
Sementara itu, di sudut ruangan. Bima atau Ryan, hanya bisa diam dengan sejuta rasa bersalah nya. Berulang kali ia menghapus air mata nya, menahan rasa sesak di dada nya dan mengepalkan tangan dengan erat.
Ia ingin menangis, berteriak juga marah pada dirinya sendiri. Andai saja tadi dirinya mengejar Bintang, andai dirinya berhasil membujuk kekasih nya itu, tentu semua tidak akan terjadi. Dan kini, rasa bersalah nya begitu menumpuk bak sebuah gunung yang begitu besar.
"Gue baru tahu kalau ternyata lo pacaran sama adek gue. Kenapa lo gak pernah bilang?" tanya Raka dengan raut wajah datar nya.
"Aku gak tau!" jawab Bima tak kalah datar.
"Bulsyiet lo gak tau! Wajah gue sama Kara hampir saja. Lo setiap hari sama dia, gak mungkin lo nggak tau!" saut Raka tidak percaya.
"Aku memang tidak tahu! Karena aku jarang bertemu atau menghabiskan waktu sama Bintang! Kami memang pacaran sejak lama, tapi... " Bima kembali terdiam, ia memejamkan mata nya, menyesali setiap waktu yang ia lewatkan dengan Bintang.
"Tapi apa?" tanya Raka mengerutkan dahi nya.
"Hubungan kami hambar! Kami jarang menghabiskan waktu berdua. Maka dari itu, saat dia meminta putus, aku menuruti nya," imbuh Bima menundukkan kepala.
"Jadi kalian udah selesai?" tanya Raka yang langsung di balas anggukan kepala oleh Bima, "Kenapa? Lo udah gak cinta sama Kara?"
"Aku sayang sama dia Ka, tapi aku tidak bisa mempertahankan nya. Aku tidak bisa melindunginya, dan aku tidak bisa selalu ada untuk nya. Aku tidak bisa membahagiakan nya," imbuh Bima kembali menundukkan kepala.
Raka terdiam. Ia menatap kakak ipar nya dengan begitu intens. Seolah mencari kejelasan tentang perasaan laki laki itu kepada Bintang atau Kara, adik nya. Namun, ia tidak menemukan jawaban apapun, karena memang dirinya bukan lah seorang cenayang.
"Raka, bagaimana Kara?" tanya seorang wanita yang baru saja datang dengan napas memburu hebat.
"Mama tenang dulu," ucap Raka langsung meninggalkan Bima dan menghampiri mama nya, "Kara sudah di tangani sama dokter dan juga om Kiano juga di dalam."
"Bagaimana Mama bisa tenang! Kenapa kamu biarin adik kamu kaya gini, kenapa kamu gak bisa jaga dia. Kenapa dia hiks hiks hiks." Tubuh mama Naura langsung luruh ke lantai, tangis nya pecah, dan dengan cepat papa Kenzo langsung memeluk istri nya berusaha untuk menenangkan.
"Kita baru bertemu sama dia Raka, Mama gak mau Kara kenapa kenapa! Hiks hiks hiks, kenapa kamu tidak bisa menjaga adik kamu hiks hiks." Mama Naura terus menyalahkan putra nya di sela isak tangis. Membuat laki laki itu hanya mampu terdiam dan berusaha menahan diri.
"Sayang, berhenti menyalahkan Raka." ucap papa Kenzo lalu mengajak istri nya untuk duduk, "Lagipula tadi kamu dengar bukan, Raka bilang sudah ada Kiano di sana. Plis, tenang, oke!"
"Bagaimana aku tenang Ken!" mama Naura tiba tiba langsung berdiri dan menatap suami nya, "Kita baru saja bertemu sama Kara. Kita baru sebentar merawat dia, dan sekarang dia kaya gini hiks hiks. Kamu gak tau bagaimana takut nya aku, a—aku hiks hiks hiks."
Kenzo maupun Raka juga Bima yang melihat dan mendengar suara mama Naura hanya bisa diam tanpa berani menjawab lagi. Kenzo cukup paham bagaimana trauma nya Naura akan kecelakaan. Karena dulu, ia juga kecelakaan saat kehilangan Kara, maka tak heran bila kini ia masih begitu takut jika putri nya terluka.
...~To be continue ... ...