BINTANG Untuk ANGKASA

BINTANG Untuk ANGKASA
Mulut Angkasa


...~Happy Reading~...


“Aku kira, Papa juga datang,” gumam Bintang dengan pelan, setelah tahu bahwa ternyata orang tuanya tidak hadir. Sudah hampir satu minggu ini memang Bintang ada di rumah Gaharu, lantaran sedang menjalani Ujian, dan ia berharap saat datang ke rumah baru Raka, maka ia akan bertemu orang tuanya, namun ternyata tidak.


Memang acara ini di adakan hanya untuk kaum anak muda. Sedangkan para orang tua akan datang dan berkumpul beberapa hari lagi untuk memperingati acara tujuh bulanan kandungan Ryana.


“Malam ini nginep aja di rumah. Mama kangen banget loh sama kamu,” ucap Raka memberikan ide.


“Jam segini udah tidur belum ya?”


Raka melihat ke arah jam di tangan nya, sudah jam sebelas malam, “Kayaknya belum. Gak mungkin banget mereka tidur jam segini, kecuali Arga, pasti dia udah tidur,” jawab Raka.


“Aku takut kalau ternyata udah pada tidur, gak enak bangunin nya,” ujar Bintang sedih.


Inilah yang tidak di sukai oleh Angkasa dari Bintang. Orang nya munafik, tidak enakan dan mudah merasa bersalah. Dirinya anak nya, mau jam berapa pun dirinya pulang, pasti akan tetap di bukakan pintu kan? Tidak mungkin akan di usir, batin Angkasa yang sejak tadi memilih diam.


“Enggak Ra, Papa sama Mama gak mungkin tidur jam segini. Paling masih ngobrol di depan TV, nungguin aku pulang biasanya, dan kalau pun udah di kamar juga pasti gak tidur,” kata Raka menghela napas nya berat, “Mereka paling olah raga!” imbuh Raka terkekeh.


“Olah raga apaan malam begini?” celetuk Angkasa yang belum sadar, maklum otaknya sedang konslet karena masih terbayang rasa tendangan maut dari ketiga tuyul calon saudara ipar nya.


“Bocil gak usah kepo.” Jawab Raka langsung menatap tajam pada Angkasa.


“Iya deh yang udah tua. Ayo Bi ah, kita pulang aja. Tuan rumah nya di sini kurang ramah, panas lama lama!” ucap Angkasa merengek seperti anak kecil.


“Bukan kurang ramah, kamu nya yang rese jadi tamu!” saut Raka tak terima.


“Dih, tamu itu gak akan rese kalau yang punya rumah juga gak rese!” balas Angkasa.


“Udah cukuppp!” pekik Bintang menghentikan perdebatan kedua laki laki di sebelah nya, “Ya udah Ka, aku pulang dulu deh. Besok pagi aja aku ke rumah papa.”


Semua tamu undangan yang tak lain adalah teman teman Raka dan Ryana sudah pada pulang. Jadilah kini Ryana juga sudah istirahat di dalam kamar karena perut nya yang sudah besar membuat nya cepat lelah.


“Naik aja, aku mau ke dapur dulu!” ucap Raka lalu pergi meninggalkan kedua tamu nya menuju dapur.


“Bi, aku ikut!” kata Angkasa langsung mengekor di belakang Bintang yang sedang berjalan menuju kamar Raka dan Ryana yang berada di lantai dua.


Tok Tok Tok ...


“Ryana ... “ panggil Bintang mengetuk pintu kamar itu dengan pelan.


“Iya Ra, masuk aja, gak di kunci kok!” balas Ryana dari dalam kamar.


Angkasa dan Bintang pun segera masuk, keduanya melihat bagaimana Ryana yang sedang duduk bersandar di sisi tempat tidur dengan kaki yang di selonjorkan sambil memegang sebuah buku.


“Na, kami pulang dulu ya. Udah malem juga, kapan kapan kita kesini lagi,” ujar Bintang tersenyum dan langsung memeluk, cipika cipiki seperti biasa.


“Iya hati hati ya, maaf gak bisa nemenin di bawah tadi. Kaki ku sakit banget, tuh mulai bengkak lagi, karena tadi kelamaan berdiri,” ucap Ryana sambil menunjuk ke arah kaki nya yang memang terlihat sedikit bengkak.


“Woah kaya kaki gajah ya!” celetuk Angkasa yang tiba tiba langsung mendapatkan tatapan tajam dari dua wanita di depan nya.


“Soang, lo lihat ini buku yang gue pegang ada seribu lembar lebih lo. Mau cobain gak di cipokk sama ini buku?” tanya Ryana dengan mata yang menatap tajam ke arah Angkasa.


“Hehehe canda Ryana. Bercanda doang, iyakan Bi, Sayang?” kata Angkasa mencari pembelaan, “Sayang .. “


“Tau ah!” saut Bintang menggelengkan kepala nya tanda tak mau ikut campur.


...~To be continue .......