
...~Happy Reading~...
"K—Kara... " Gumam seorang laki laki yang di tabrak oleh Bintang. Membuat gadis itu seketika langsung berdiri tegak dan berbalik.
"Papa!" panggil Raka yang baru sadar bila ternyata Bintang hendak pergi. Ia segera bangkit dari tempat duduk nya dan menghampiri papa nya juga Bintang.
Untuk sesaat, laki laki yang di panggil Papa oleh Raka itu terdiam. Mengamati kedua remaja di depannya dengan silih berganti. Dan tanpa aba aba, ia langsung meraih tubuh Bintang ke dalam pelukan nya.
Tak berbeda jauh dari Naura, Kenzo pun ikut meneteskan air mata nya. Ia memeluk Bintang dengan begitu erat, hingga membuat gadis itu sedikit kesulitan untuk bernafas.
"Kamu Kara! Kamu Kara, anak ku. Kamu pulang, kamu kembali Sayang!" racau Kenzo menangkup kedua pipi Bintang dan kembali memeluk nya.
Sejujurnya, Bintang masih merasa bingung. Mengapa semua orang langsung memanggil namanya dengan sebutan Kara. Padahal, menurut informasi yang ia dapatkan dari bunda Jingga, ia di temukan saat masih bayi. Namun mengapa semuanya bisa langsung mengenali nya setelah belasan tahun lama nya tidak bertemu.
"Maaf Om, tapi saya Bintang. Nama saya Bintang, bukan Kara!" ucap Bintang berusaha melepaskan pelukan dari Kenzo.
"Enggak Sayang! Kamu Kara, kamu putri ku!" balas Kenzo dengan begitu yakin.
"Tapi—"
"Kak, apakah mau melakukan tes DNA?" tawar Kiano yang sejak tadi diam setelah memeriksa Naura, kini ikut menghampiri kakak dan keponakan nya.
"Bin, apa lo gak ngerasain sesuatu saat bersama kami? Apakah hanya kami yang merasakan ikatan itu?" tanya Raka menatap Bintang.
Bohong bila Bintang tidak merasakan ikatan itu. Ia merasakan nya, namun ia masih belum begitu yakin.
"Raka, plis jangan paksa gue!" gumam Bintang menundukkan kepala nya lirih.
"Gue gak ada maksa elo Bin. Tapi—"
"Maafkan Papa." Kenzo memegang jemari tangan Bintang, "Tidak apa bila kamu masih terkejut dan belum siap bertemu dengan kami. Maafkan juga Raka yang terus mendesak mu."
Kenzo menarik napas nya cukup berat, "Tidak apa bila kamu belum mau menerima kami. Yang penting, kami sudah melihat kamu tumbuh sehat, itu sudah cukup buat kami. Kapan pun kamu siap, kamu bisa datang kemari dan temui kami," imbuh Kenzo mengusap air mata di wajah Bintang.
Apa yang di katakan oleh Kenzo, sama dengan yang di katakan oleh Naura. Membuat hati Bintang semakin terasa sesak hingga membuat air mata nya terus mengalir membasahi wajah nya.
"Hiks hiks hiks," tiba tiba ia berjongkok dan menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya. Ia bingung, dan ia begitu dilema dengan apa yang baru saja ia alami.
Ia tidak menyangka bila ternyata dirinya di pertemukan dengan keluarga kandung nya secepat ini. Dan pertemuan itu di saat keluarga angkat nya sedang tidak ada di rumah.
Apa yang harus ia lakukan, Bintang sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Jangan menangis," Kenzo ikut duduk di depan Bintang, ia membuka wajah Bintang lalu mengusap air mata nya, dan mengecup kening itu dengan penuh keharuan.
"Papa tidak akan memaksa kamu."
"Bin, cobalah untuk tinggal disini untuk sementara. Dua tiga hari atau satu minggu. Setelah itu lo bisa tentuin bagaimana perasaan lo, apakah mau mengakui kami atau menolak kami!" ucap Raka tiba tiba membuat Bintang langsung menatap nya.
Haruskah ia mendengarkan permintaan Raka? Tinggal di rumah itu untuk sementara waktu. Mungkin tidak akan ada salah nya, selagi Angkasa juga masih di Jepang satu minggu ke depan. Tapi— apakah Bintang sanggup, dan bisa? batin gadis itu dalam hati lalu kembali menatap ke sekeliling.