
...~Happy Reading~...
“I—ini benar kamu Sayang?” Mama Naura langsung menangkup kedua pipi Bintang, air mata harus sudah membasahi kedua wajah mereka sejak tadi.
Meskipun belum ada bukti apapun tentang siapa Bintang sebenarnya, namun firasat mama Naura sama seperti Raka. Ia bisa merasakan getaran itu hanya dengan melihat wajah Bintang.
“N—nama saya Bintang, Tante. Saya Bintang, bukan Kara,” jawab gadis itu berderai air mata seraya menggelengkan kepala nya.
“Kamu Kara sayang. Anak Mama, kamu Kara hiks hiks,” Mama Naura langsung memeluk Bintang dengan begitu erat, menumpahkan segala rindu yang selama ini ia tahan dan pendam.
Naura tidak perduli dengan penolakan Bintang untuk mengakui bahwa dirinya memang Kara. Naura hanya percaya dan yakin bahwa gadis di depan nya ini adalah putri nya yang sudah lama hilang.
“Tante, jangan seperti ini,” ujar Bintang tak enak saat wanita di depan nya itu berlutut di depan nya begitu saja, seraya menggenggam tangan nya.
“Kamu Kara, putri kecil ku. Kamu putri ku, hiks hiks. Mama sangat senang karena pada akhirnya kamu kembali, kamu pulang. Mama bahagia, mama hiks hiks hiks.”
“Raka ... “ Bintang mendongakkan kepala nya ke atas untuk menatap laki laki yang sudah mengajak nya ke rumah itu. Dan hal yang tidak ia duga, bahwa ternyata Raka juga tengah menangis seperti ibu nya dan dirinya.
“Bi, lo mungkin malu bila harus membuka baju di depan gue. Meskipun sembilan puluh sembilan persen gue adalah kakak lo, tapi tetep aja gue cowok dan normal, mungkin lo takut. Tapi, setidaknya lo bisa buktiin itu ke kita dengan cara lo buka baju di depan nyokap gue. Mama kita, kalian sama sama perempuan, dan gue—“
“Raka plis, jangan paksa gue,” ucap Bintang lirih, memotong pembicaraan Raka seraya menundukkan kepala nya.
“Tidak perlu melihat tanda itu, Mama sudah yakin bahwa kamu memang anak Mama. Kamu putri Mama hiks hiks hiks.” ujar Naura begitu yakin.
“Tapi kamu juga anak Mama. Mama yakin, bahwa kamu Putri mama, kamu Kara. Kamu—“
“Enggak! Bintang anak Bunda hiks hiks Bintang anak Bunda hiks hiks hiks,” ucap Bintang semakin terisak sambil menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
“Mereka menyayangi mu?” tanya Naura sedikit lirih, dan Bintang langsung mengangguk dengan begitu cepat.
Naura menganggukkan kepala lalu menatap putri nya dengan begitu intens, “Kamu di temukan oleh orang yang tepat, Sayang?” tanya nya dengan penuh luka.
Mendengar putri nya menyebut bahwa dia adalah anak Bunda. Membuat hati Naura merasa sedikit lega. Setidaknya, selama ini Kara hidup dengan sangat layak dan di penuhi kasih sayang dari orang tua angkat nya. Mengapa Naura bisa berfikir begitu? Karena bila kara tidak hidup bahagia, tentu gadis itu tidak akan lebih menyayangi bunda nya.
“Mama bahagia karena pada akhirnya Tuhan mempertemukan kita lagi. Mama akui, bahwa mama yang salah atas hilang nya kamu dulu. Namun, satu hal yang harus kamu tau Sayang. Mama sangat menyayangi kamu, kami semua selalu mencari keberadaan kamu dan berharap kamu akan kembali pulang. Tidak apa bila kamu belum siap menerima kami, tidak apa.” Naura menggelengkan kepala nya masih dengan tersenyum haru, “Yang penting, Mama sudah bertemu kamu. Melihat kamu tumbuh menjadi gadis yang sangat baik dan cantik juga bahagia dengan keluarga baru mu, Mama sudah lega.” Gumam Naura panjang lebar di sela isak tangis nya.
Ia mengulurkan tangan nya untuk mengusap lembut wajah Bintang. Ia tersenyum dan menatap putri nya dengan tatapan yang sulit untuk di mengerti, hingga tiba tiba,...
Brukk!
“Mama!” seru keduanya spontan dan bersamaan saat melihat tubuh Naura tergeletak lemas di lantai.
...~To be continue .......