
...~Happy Reading~...
Saat ketiga nya sedang berdebat, kini tiba tiba pintu kembali terbuka menampilkan sosok laki laki paruh baya yang tengah berjalan dengan begitu cepat dan terkesan terburu buru.
“Lang!” panggil seorang laki laki yang di belakang Langit seketika membuat laki laki itu langsung menghentikan langkah nya dan kembali menoleh ke belakang, “Dia,” imbuh nya melirik ke arah Raka, membuat laki laki itu langsung menghela napas nya panjang.
“Kau urus dulu, aku akan melihat Jingga!” balas Langit lalu ia kembali meneruskan langkah menuju kamar, tanpa menegur atau menyapa anak anak nya terlebih dulu.
“Bintang dia siapa?” tanya om Maxim menatap putri sahabat nya.
“Dia Raka Om, saudara kembar Bintang,” jawab gadis itu pelan, sesekali ia masih melirik ke arah kamar orang tuanya.
“Bisa kalian ceritakan, kenapa Bunda bisa seperti itu?” Kini Maxim mengajak ketiga anak remaja itu untuk duduk di sofa, agar bisa berbicara dengan rileks.
“Gara gara dia tuh!” cetus Angkasa langsung menunjuk ke arah Raka, “Tamu gak di undang!”
“Asa!” seru Bintang langsung memukul paha adik nya dan memberikan nya tatapan tajam.
“Maaf Om, kalau memang kedatangan Raka sudah mengganggu. Tapi Raka tidak ada maksud apa apa, Rak mewakili orang tua Raka, ingin bertemu dengan orang tua angkat Kara. Nanti, setelah kesehatan Mama Raka membaik, mereka juga pasti akan datang kesini. Hanya saja, keadaan Mama saat ini masih kurang sehat, jadilah Raka yang mengantarkan Kara pulang kemari,” jelas Raka panjang lebar.
“Udah di bilang, namanya Bintang bukan Kara, di kata nama santen kelapa apa!” saut Angkasa yang benar benar tidak menyukai nama asli dari kakak nya.
Sementara itu, om Maxim yang melihat perdebatan antara kedua remaja yang berstatus kakak adik itu hanya bisa menarik napas nya panjang. Ia menatap sosok raka dengan begitu intens, dari ujung kepala hingga kaki. Dan memang benar, bahwa wajah keduanya sangat mirip bila di lihat dengan seksama.
“Ayah, bagaimana keadaan Bunda,” tanya Angkasa saat melihat ayah nya datang dan duduk di sofa single yang berada di sebelah om Maxim.
“Bunda gapapa, hanya sedikit syok saja,” jawab ayah Langit lalu ia menghela napas berat, “Bintang ... “ panggil nya.
“Maafin Bintang Ayah. Bintang mengabaikan permintaan Bunda, tapi sungguh Bintang tidak sengaja bertemu Raka. Dia adalah teman Bintang yang baru saja pindah sekolah, dan—“
“Ssstt tidak perlu menjelaskan. Ayah sudah tahu,” ucap ayah Langit dengan cepat menghentikan penjelasan bintang, “Putri ayah sudah besar, sudah bisa menentukan mana yang baik dan tidak. Mungkin memang sudah waktunya, kamu bertemu dengan orang tua kandung mu. Tapi kamu tahu kan Sayang, Ayah dan Bunda sangat menyayangi kamu. Bunda seperti itu, hanya karena takut kehilangan kamu.”
“Sebenarnya, ayah sudah menyiapkan diri, bahwa hal ini akan terjadi entah cepat atau lambat.” Lagi lagi ayah Langit menarik napas nya panjang, “Ayah tidak melarang kamu untuk kembali kepada orang tua kandung mu. Mereka pasti juga sangat merindukan kamu,” imbuh ayah Langit dengan mata berkaca-kaca, membuat Bintang semakin tak kuasa menahan tangis nya. “Rumah ini akan selalu terbuka untuk kamu Sayang, kapanpun dan kemana pun kamu akan pergi, ini akan tetap menjadi rumah kamu.”
Dengan cepat, gadis itu beranjak dari tempat duduk nya dan memeluk sang ayah dengan begitu erat. Suasana menjadi begitu haru, tak hanya Bintang dan Langit yang menangis, namun juga semua yang berada di dalam ruangan itu ikut menitikkan air mata. Terlebih Raka yang tidak menyangka bahwa ternyata adik nya memang memiliki posisi se spesial itu di dalam keluarga angkat nya.
Bruushhhh!
“Bocaah sialannn!” pekik Raka dengan tiba tiba dan spontan langsung berdiri dari tempat duduk nya. Tentu saja hal itu langsung mengundang pandangan semua orang, terlebih Bintang dan ayah Langit yang seketika langsung menatap ke arah Raka yang terlihat begitu marah.
...~To be continue ......