
...~Happy Reading~...
"Loh, kamu kenapa Sayang?" tanya bunda Jingga saat melihat Bintang tengah menuruni tangga dengan wajah yang di tekuk dan mulut menggerutu.
"Gapapa Bun," jawab Bintang sedikit memaksakan senyuman nya, "Bintang mau pulang ke rumah Mama dulu. Dan mungkin, untuk sementara waktu Bintang gak bisa kesini. Maafin Bintang ya Bun," ucap nya seraya mencium punggung tangan wanita yang sudah merawat nya sejak kecil itu.
"Angkasa bilang apa sama kamu?" tanya bunda Jingga yang langsung bisa menebak bahwa ada pertengkaran antara kedua anak nya.
"Gak ada Bun, makanya Bintang mau pulang dulu. Dan kalau emang Asa mau batalin pernikahan, gapapa kok. Bintang nanti akan bilang ke Papa dan Mama." jawab Bintang berusaha setenang mungkin, "Mungkin emang benar kata Asa, kita masih terlalu muda. Jadi, Bintang sangat setuju dengan pembatalan ini."
"Sayang! Tapi—"
"Bun, meskipun Bintang dan Asa gagal menikah. Bintang akan tetap menjadi anak Bunda, dan saat nanti Asa benar pergi ke luar negeri, maka Bintang yang akan sering datang kemari atau bahkan menginap saat dia gak ada," imbuh Bintang panjang lebar seraya menghela napas nya berat.
Bunda Jingga tidak bisa berkata kata lagi. Ia pasrah, jika dulu Bintang yang menolak pernikahan itu. Dirinya masih bisa memaksa nya, karena Bintang adalah typekal anak yang penurut dan mudah luluh dengan nya.
Sedangkan kini, yang menolak adalah anak nya sendiri, Angkasa. Padahal dulu, anak nya itu yang paling kekeuh mendukung keputusan nya saat sang suami menolak keras. Namun kenapa kini justru Angkasa malah menunda nya sendiri. batin bunda Jingga.
"Sayang, boleh bunda bertanya?" tanya bunda Jingga dengan lembut dan sangat hati-hati.
"Bunda mau menanyakan soal apa? Jika soal perasaan, Plis tolong jangan tanyakan itu Bun, Bintang capek!" keluh Bintang langsung menolak pertanyaan dari bunda nya.
Bunda Jingga langsung menghela napas nya dengan berat, "Maafkan Bunda."
"Bunda, Bintang harus segera pulang. Sudah tiga hari Bintang pergi, jadi—"
"Iya, Bunda mengerti. Pulang lah, biar di antar sama mang Ujang ya? Bunda gak mau kamu naik taksi," ucap bunda Jingga yang langsung memotong ucapan Bintang, membuat gadis itu hanya bisa mengangguk pasrah.
"Asa, buka pintu nya!" bunda Jingga langsung mengetuk pintu tanpa berbasa basi.
Cklek!
"Ada apa lagi sih Bunda?" tanya Angkasa dengan sedikit malas saat membukakan pintu untuk bunda nya.
"Apa maksud kamu? Kenapa kamu batalin pernikahan kalian? Apa kamu sudah tidak mencintai Bintang? Apakah kamu sudah tidak ingin bersama Bintang? Apakah—"
"Bun!" Dengan cepat, Angkasa menghentikan pertanyaan bunda Jingga yang beruntun bak kereta malam.
Angkasa menghela napas nya dengan berat, "Asa masih mencintai Bintang. Bahkan sangat mencintai nya,"
"Kalau kamu mencintai dia, kenapa kamu—"
"Bunda, biarkan Asa jelaskan ke Bunda. Plis, tolong jangan potong kata kata Asa!" ucap Angkasa dengan tegas dan penuh penekanan menatap bunda Jingga.
Wanita dari Langit Gaharu itu langsung menganggukkan kepala nya dengan cepat, membuat Angkasa lagi lagi menghela napas nya berat.
"Asa hanya ingin memberi ruang untuk Bintang. Seperti yang Asa katakan tadi, Asa tidak mau memaksa, karena ini adalah pernikahan sekali seumur hidup, jadi Asa tidak mau membuat Bintang menyesal nanti nya. Ya, walaupun Asa sendiri sangat yakin bahwa Bintang tidak akan pernah menyesal memiliki suami seperti Asa, tapi tidak ada salah nya bukan jika Asa memberikan waktu untuk Bintang memikirkan semuanya." jelas Angkasa panjang lebar.
"Yakin hanya itu?" tanya bunda Jingga mengerutkan dahi nya seolah tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Angkasa.
Meskipun apa yang di katakan oleh Angkasa ada benarnya, namun entah mengapa bunda Jingga merasa bahwa ada hal lain lagi yang di sembunyikan oleh Angkasa dari nya.
...~To be continue... ...