
...~Happy Reading~...
"Jangan sedih terus dong."
Bintang langsung mendongakkan kepala nya saat menyadari kedatangan seseorang.
"B—Bima.. " gumam nya lirih, membuat laki laki itu langsung tersenyum dan mengambil kursi di sebelah Bintang.
"Apa kabar?" tanya nya pelan, "Kenapa nangis?"
Bima langsung menyeka air mata yang menetes membasahi pipi Bintang, dengan penuh kelembutan membuat hati Bintang semakin terasa perih.
"Maafin aku ya Bi," ucap Bima pelan sambil menggenggam tangan Bintang yang tidak di infus.
"Aku banyak salah sama kamu. Maaf, jika selama ini aku belum bisa menjadi seperti yang kamu inginkan. Dan maaf, jika aku sudah membuat hati kamu sakit."
"Meskipun takdir tidak bisa mempersatukan kita dalam ikatan cinta. Tapi setidaknya, Takdir masih berbaik hati mempersatukan kita dalam ikatan keluarga. Berat buat aku menerima semua ini Bi, tapi aku juga tidak mau membuat kamu semakin larut akan kesendirian dan rasa sakit akibat ulah ku. Maafin aku," imbuh Bima panjang lebar.
"A—aku yang harusnya minta maaf sama kamu Bi, hiks hiks hiks. Aku minta maaf," tangis Bintang seketika langsung pecah saat dirinya semakin merasa bersalah kepada Bima.
"Sssstt... Jangan nangis lagi dong. Cepat lah sembuh, agar kita bisa jalan jalan lagi." ucap Bima berusaha menghibur mantan kekasih nya, walau sebenarnya hatinya sendiri masih terasa begitu sesak.
"Aku sayang sama kamu Bi, tapi aku juga sadar bahwa kami bukan untuk ku!" imbuh Bima pelan.
Cklek!
Suara pintu yang baru saja di buka dari luar, seketika merusak moment haru antara Bima dan Bintang. Kedua nya kompak menatap laki laki yang juga tengah menatap mereka tajam.
"Tadi lo bilang lima menit! Ini udah hampir setengah jam lo gak keluar, dan ternyata malah mesra mesraan begini! Sadar diri gak sih, kalian udah putus dan jadi mantan! Kenapa harus kaya gini?" omel seorang laki laki remaja yang tak lain dan tak bukan adalah Angkasa.
"Aku cemburu loh, kenapa kamu gak peka peka sih!" cetus Angkasa langsung menghampiri brankar Bintang dan memisahkan kedua mantan sejoli tersebut, "Jaga jarak!"
"Kamu milik aku Bi, bahkan orang tua kita sudah merestui itu. Jadi, tolong hargai perasaan aku dan orang tua kita. Jangan dekat dekat lagi sama Kuku Bima, oke!"
"Baiklah Bi, sepertinya aku harus pulang. Cepatlah sembuh dan masuk sekolah lagi," ucap Bima mengusap kepala Bintang sekilas, namun hanya beberapa detik karena tangan nya langsung di tepis oleh Angkasa.
Bima dan Angkasa terdiam, saling menatap begitu dalam dan tajam Membuat Bintang yang berada di samping nya merasa semakin kesal.
"Angkasa lo juga keluar! Bima pergi, lo juga pergi. Gue mau sendiri!" usir Bintang dengan adil.
Ya, adil bukan. Bima di usir oleh Angkasa, dan Angkasa di usir oleh Bintang.
"Sayang!" rengek Angkasa mulai mode manja.
"Gue mau istirahat. Pintu keluar ada di sana, Bika tolong sekalian di bawa adik kelas nya. Terimakasih!" ucap Bintang, lalu ia kembali merebahkan badan nya dan membelakangi kedua laki laki tersebut.
"Jangan merasa paling istimewa!" bisik Bima tersenyum miring, lalu ia memasukkan kedua tangan nya pada saku celana dan berjalan santai keluar dari ruangan Bintang.
Rasanya sangat puas sekali melihat Bintang mengusir langsung Angkasa. Setelah beberapa lama, kini akhirnya ia sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri, dengan perasaannya kepada Bintang.
Cinta memang tidak harus memiliki, dan Bima juga sadar, bila hubungannya dengan Bintang memang lah tidak seharusnya lebih dari sekedar sahabat.
Ya, bersahabat mungkin akan jauh lebih indah. Dirinya, Ryana, Raka, Bintang kecuali angkasa tentu nya.
...~To be continue... ...