
Dering ponsel salah satu anak buah Edo berhasil mengalihkan perhatian mereka.
"Halo,"
"..."
Pengawal yang sedang menerima panggilan itu tiba-tiba membeku, ekspresi nya menjadi tegang. Orang-orang disekitarnya pun ikut tegang. Entah apa yang menyebabkan dia menjadi seperti itu, apakah dia menerima berita buruk atau sebaliknya sehingga ekspresi nya menggambarkan sesuatu yang tak bisa terbaca.
"T-tuan," Panggil nya pada Edo dengan suara gemetar.
"Ada apa?" Edo menatap datar salah satu anak buahnya. Jika tidak dalam situasi seperti ini, mana mungkin Edo membalas perkataan anak buahnya itu. Karena biasanya Edo hanya menaikkan dagu sebagai isyarat bertanya.
"Ada seseorang menelpon, ini tentang penculikan nona Elma." Jelasnya gugup. Dia takut akan mendapatkan sesuatu dari bos nya karena bekum bisa menemukan istri majikan nya ini.
"Berikan pada ku sekarang." Tegasnya cepat. Mendengar kata penculikan Elma membuatnya merasa sekujur tubuh nya lemah tak bisa bergerak. Dia membawa dua nyawa, bagaimana mungkin Edo membiarkan begitu saja seseorang menyakiti sang istri. Itu tidak akan pernah terjadi, Edo tidak membiarkan orang-orang menyakiti istri dan calon anaknya.
"Halo, Tuan Edo Lincoln. Akhirnya saya bisa berbicara dengan Anda." Terdengar suara kekehan di seberang sana. Kekehan yang terdengar begitu mengejek.
Edo mengepalkan tangannya kuat mendengar suara itu. Dia tahu siapa dibalik penelpon itu meski orang nya belum memperkenalkan diri.
"Dimana istri ku?!" Tanpa menunggu kata-kata selanjutnya dari si penelpon, Edo lebih dulu bertanya dengan nada membentak.
"Hahaha ... ternyata Tuan Lincoln tidak sabaran sekali. Bahkan saya belum memperkenalkan diri dan belum mengetakan maksud ku menghubungi mu, tapi ternyata kau lebih dulu bisa menebaknya." John benar-benar tertawa mengejek Edo. "Kau memang hebat Tuan Lincoln." Katanya penuh penekanan. Namun dibalik kata-kata itu, terdapat ejekan dari nada suaranya.
"Kau sangat hebat dalam menyusun rencana untuk menghancurkan ku, tapi kau sungguh melupakan satu hal, Tuan." Katanya penuh penekanan. "Saya tidak akan semudah itu di tumbangkan hahaha ... Dan kali ini, kau sendiri yang menanggung akibatnya!"
"Jangan banyak bicara, cepat! Katakan dimana istri ku berada!" Edo mulai terpancing emosi, dadanya naik turun tak beraturan. Apa yang dikatakan John memang benar, dia terlalu menganggap remeh John hingga pada akhirnya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Sebagai pebisnis yang hebat, tentu saja Anda tahu ada harga yang harus dibayar untuk itu, Tuan." Kata-kata John yang terdengar santai itu semakin membuat Edo merasa muak.
"Apa yang harus ku lakukan?!" Tanya Edo tak sabaran.
"Hahaha ... saya tidak yakin Anda bisa melakukan nya, tuan."
Cih, muak sekali rasanya Edo berbicara dengan laki-laki itu. Andai saat ini istri nya tidak sedang menjadi tawanan nya, maka lebih baik memilih memusnahkan makhluk bernama John saha dari muka bumi ini, daripada mengotori bumi kan?
"Tidak usah berbelit-belit, katakan saja apa yang harus kulakukan?!" Tanya Edo lagi dengan nada membentak.
"Ck, kau benar-benar tak sabaran, Tuan. Dan itu tidaklah baik untuk semua rencana Anda. Karena rencana yang tidak matang justru akan membuat Anda dalam kesulitan." Katanya benar-benar mengejek Edo.
"Sudah ku katakan, Apa yang harus ku lakukan!"
"Hm, baiklah. Karena Anda sudah begitu tak sabaran, maka saya akan mengatakan nya saat ini juga."
Sepertinya John masih ingin menguji kesabaran Edo. Dia bahkan mengehentikan ucapan nya saat Edo sedang serius-serius mendengarkan.
"Bunuh Arasya atau nyawa istri Anda yang akan terbunuh!"
Deg.
Seketika Edo membeku. ini adalah pilihan yang sangat sulit baginya.
Membunuh Arasya? Wanita yang tak memiliki kesalahan apapun, tapi dengan tega Edo membunuh nya?
Memikirkan hal itu, rasanya tidak mungkin jika Edo membunuh wanita itu. Walau bagaimanapun dia juga manusia yang memikat hati, tidak seperti John yang mungkin sudah tak memiliki hati di dalam kerongkongan nya.
"A-aku tidak bisa." Katanya dengan suara tercekat.
"Baiklah, jika seperti itu maka Anda lebih memilih nyawa istri Anda yang hilang."
Tutt.
John mematikan panggilan itu sepihak tanpa menunggu persetujuan dari Edo. Setelah berhasil mengakhiri panggilan, dia berjalan menuju wanita yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan via telepon itu dengan tubuh masih terikat sempurna juga dengan mulut yang masih tertutup lakban.
"Kau dengar kan?" Tanya nya dengan wajah menyeringai. Dia begitu puas melihat raut wajah Elma yang tampak kecewa pada suami nya.
"Suami mu tidak akan menyelamatkan mu. Dia lebih memilih kau tiada dibanding kehilangan nyawa Arasya." Jelasnya seraya menelusuri wajah Elma.
"Kau tahu?" Tanya John seraya berjongkok menyesuaikan wajahnya dihadapan Elma. "Wanita yang selama ini bersama suami mu adalah ARASYA!" Kata John penuh penekanan.
"Mereka sudah melakukan sesuatu yang melebihi batas. Itu sebabnya Edo sangat mendukung Arasya bercerai dariku." Jelas John mencoba menghasut Elma. Dan agaknya, Elma sedikit percaya dengan kata-kata John.
Edo memang telah berubah, jika dulu dia akan melakukan apapun untuk nya. Tapi sekarang? Dia bahkan lebih tidak tega pada wanita lain dan memilih Elma yang meregang nyawa. Mengingat itu semua, hati Elma berdenyut nyeri. Sakit sekali rasanya. Sebelumnya dia sudah sangat percaya jika Edo akan melakukan apapun untuk nya, meksi nyawa orang lain taruhan nya. Tapi faktanya? kali ini berbeda, dan Elma tak sanggup lagi mengingat-ingat itu semua.
Tadi, sebelum John menelpon suaminya, dia lebih dulu mengatakan tujuan nya menelpon Edo. Laki-laki itu hanya ingin membuktikan sejauh mana cinta Edo pada Elma sampai-sampai wanita itu begitu setia terhadap suaminya.
John sengaja menghasut Elma agar dia jatuh ke dalam pelukan nya. Tapi percayalah, meski Elma tak lagi mempercayai Edo, bukan berarti dia mau begitu saja dengan John. Hanya orang bodoh yang mau dengan laki-laki bejad seperti John.
Sayang nya John tak kekurangan akal untuk menghancurkan istana kecil mereka. John berusaha meracuni otak Elma dengan membawakan beberapa bukti palsu perselingkuhan Edo dengan Arasya, dan yang terakhir dia membuktikan sendiri dengan mengancam untuk memilih nyawa diantara Elma dan Edo. Dan terbukti, Edo tak bisa melakukan dan lebih memilih Elma yang meregang nyawa.
John benar-benar bahagia, karena setidaknya meski dia tak dapat memiliki Elma, tetapi hubungan rumah tangga mereka hancur. Dan itu cukup menghibur dirinya sebagai seorang yang jahat sejak dalam kandungan. Hahaha ... puas sekali rasanya John melihat bagaimana reaksi Elma saat ini.
Dia jadi tak sabar ingin melihat kehancuran Edo saat ditinggal Elma yang bahkan sedang mengandung anaknya. Sepertinya itu sudah cukup untuk menghukum orang yang sudah membuat nya dalam masalah. Tapi jika John tidak puas, tentu saja dia akan melakukan hal yang lebih dari ini. Menghabisi nyawa nya misalnya.
...🔮🔮🔮...
NOVEL Mr. Dave, I Love You!2 AKU PINDAH DISINI YA GENGS👇 BURUAN KEPOIN!