
Pagi kembali menyapa, sang mentari sudah mulai naik ke peraduan nya. Sejak pagi tadi keadaan Mansion kediaman orang tua Edo sudah riuh karena kedatangan calon menantu serta para pekerja lain yang sedang melakukan segala persiapan untuk acara pernikahan.
Sejak kejadian kemarin pagi, Elma sama sekali belum bertemu dengan Edo karena dirinya langsung di bawa calon mertua nya pulang ke Mansion. Dan betapa terkejut nya Elma, saat baru saja menginjakkan kaki pertama kali di ruangan itu, dirinya sudah di perlihatkan dengan keadaan satu ruangan yang penh dengan gaun pernikahan. Ya, mama Elma sengaja membawa seluruh gaun dari butik yang telah di pesan nya di bawa ke Mansion agar menantu nya bisa memilih tanpa pergi ke butik. Semua itu mama Edo lakukan untuk menebus rasa bersalah nya atas perbuatan sang putra. Bahkan berkali-kali Elma meminta maaf pada Elma dan mau menerima putra nya dengan se-tulus hati meski perlakuan nya sering di luar batas.
Mendapat perlakuan seperti itu, membuat Elma semakin tak enak hati. Dia bahkan merasa terharu karena kebaikan wanita itu. Awalnya ada segelintir rasa kecewa pada Edo, tapi setelah mendapati mama Edo terus-terusan mengucapkan kata maaf membuat rasa kecewa itu meguar begitu saja. Toh juga dia sudah mengetahui sifat asli Edo yang memang sering tak kuat menahan gai rah nya. Justru yang ditakutkan nya kali ini adalah, takut jika Edo sedang tak bersama nya lalu tiba-tiba memiliki keinginan untuk menyalurkan has rat, Elma takut Edo akan melakukan nya dengan wanita sembarangan. Tapi percayalah Elma, sejatinya Edo hanya tak bisa mengontrol naf su saat bersama mu. Dia bahkan sudah kehilangan gai rah pada wanita lain karena tubuh mu yang begitu membuat nya candu.
"Kau cantik sekali, sayang ..., Mama bangga memiliki calon menantu se-cantik diri mu. Kau terlihat seperti princess di film kartun." Seloroh mama Edo yang baru saja datang ke kamar itu langsung menghebohkan seisi ruangan. Para MUA yang mendandani Elma tersenyum mendengar pujian itu yang terkesan absurb tetapi dalam hati membenarkan karena memang fakta nya Elma sangat lah cantik. Sedang wanita yang di puji hanya menunduk malu. Dalam hati dia membantah perkataan calon mertuanya, meski dia percaya dirinya cantik, tapi tak secantik seperti yang mama Edo katakan.
"Kau tahu, sayang? Semalam anak nakal itu berusaha menaiki gerbang untuk bertemu dengan mu, umtung saja penjagaan di luar katat. Sehingga anak itu tetap tak bisa masuk meski sudah mengerahkan seluruh kekuatan nya." Kata mama Edo yang terkesan mendramatisir. Nada suara nya terdengar bersungut-sungut saat mengucapkan hal itu. Sepertinya mama Edo sangat puas telah membuat putra nya itu sengsara.
"Aahh ... mama jadi menyesal tidak mengerjai anak nakal itu sejak kemarin-kemarin." Ekspresi wajah nya benar-benar sedang membayangkan bagaimana rasanya mengerjai putra satu-satu nya itu yang tak mungkin bisa jauh dari Elma. Andai tahu rasanya mengerjai anak anak nya akan se-bahagia ini, tentu nya mama Edo sudah melakukan itu sejak kemarin-kemarin dengan menculik Elma dan membawa nya ke Mansion sampai putra nya itu tak bisa bertemu dengan calon istri nya.
Sedangkan Elma diam-diam tersenyum samar mendengar celotehan wanita paruh baya di depan nya. Mama Edo terlihat sangat lucu dengan ekspresi wajah nya yang sedang membayangkan bagaimana jika diri nya bisa mengerjai putra nya sejak kemarin.
"Sayang, sudah waktu nya ke bawah." Mami Elma baru saja datang, tak mengetahui kalau di ruangan nya itu ada sang calon besan.
"Oh, astaga! tadinya aku kesini untuk menjemput calon menantu mama ke bawah, tapi karena melihat wajah cantik mu, mama jadi lupa." Mama Edo menepuk dahi nya keras karena baru ingat tujuan nya ke ruangan Elma.
Semua orang terkekeh melihat tingkah konyol mama Edo, sedangkan papa Edo yang berada di belakang mami Elma hanya menggelengkan kepala karena sejak tadi semua orang sudah menunggu di ruangan, tetapi bisa-bisa nya istri nya itu lupa dengan tujuan nya.
Tak ingin membuang-buang waktu, ke tiga wanita dan satu pria itu berjalan menyusuri ruangan demi ruangan untuk menuju ke tempat yang sudah di siapkan.
Deg.
Jantung Edo berdetak dengan hebat saat melihat wanita nya sudah berada di dekat nya, tubuh nya di balut dengan gaun pengantin berwarna putih yang menjuntai panjang dengan bagian dada nya yang terbuka, menampilkan bahu putih yang terlihat bersinar, membuat siapapun tak bisa mengalihkan pandangan nya. Terlebih wajah Elma yang begitu cantik dengan wajah yang sudah di rias sedemikian rupa membuat orang betah meksi berlama-lama menatap nya yang seolah memliki magnet tersendiri.
Meski awalnya Edo juga sempat berdecak kagum menatap wajah ayu wanita nya, tapi saat mendapapati semua pasang mata menatap Elma dengan kekaguman membuat nya merasa panas. Dia geram pada orang-orang yang dengan lancang nya menatap wanita nya berlama-lama.
Seolah kehilangan akal sehat, tiba-tiba saja Edo mendekat ke arah Elma dengan langkah lebar dan terkesan memburu. Saat di depan wanita nya, tanpa aba-aba dia menggendong Elma seperti sekarung beras.
Dan sontak, bukan hanya Elma yang menjerit melainkan semua tamu undangan pun ikut heboh bersorak sorai melihat Edo membawa Elma menuju pendeta.
Andai bisa, Elma lebih memilih pingsan saat ini juga dibanding menjadi bahan kehebohan semua manusia di sini.
Saat di depan pendeta, tan[pa kata dan tanpa suara, Edo memerintahkan pendeta itu dengan gerakan tubuh nya. Sang pendeta pun hanya menanggapi dengan datar dan memulai janji suci.
Setelah kedua nya menyatakan janji suci dihadapan pendeta, dan resmi menjadi sepasang suami istri. Edo langsung mendaratkan bibir nya pada bibir Elma bahkan sebelum mendapat interuksi dari pendeta. Dan hal itu sukses semakin membuat heboh manusia seisi ruangan.
"Akhirnya kita memiliki status baru, sayang. Kau sudah resmi menjadi milikku dan aku berhak melakukan apapun pada mu, sayang." Gumam Edo dalam hati di sela-sela ciu man nya diiringi dengan seringai tipis di wajah nya.