Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Kemarahan Mama Edo 1


"Plak!"


"Dasar anak kurang ajar!"


Plak


Plak


Plak


Mama Edo terus memukul-mukul kepala putra nya menggunakan tas kulit buaya nya yang berharga fantastis tanpa takut tas nya akan rusak akibat benturan keras kepala putra nya. (eh, kebalik)


 "Au au au au..! Sakit, mam!" Edo hanya bisa pasrah sembari menengadah kesakitan. Dia berusaha menghindar dari serangan mama nya dengan bersembunyi di balik tubuh mungil Elma yang terlihat sedang menahan malu tapi hasil nya tetap saja sia-sia karena mama nya terus saja mengejar sang putra meski dia bersembunyi di lubang semut sekalipun.


"Dasar anak kurang ajar! Apa yang kau lakukan pada menantu mama, ha?!" Mama Edo memang sudah mengetahui apa yang  baru saja dilakukan putra semata wayang nya pada sang calon menantu. Itu pula sebab nya saat mami Elma merasa sangat panik saat mendapati putri nya berteriak, dia sudah faham betul arti suara itu.


Untung saja mama Edo langsung mendapatkan akal agar bisa mengusir mami Elma berlalu dari sana secara halus.


Ya, tadi saat mami Elma berusaha membuka pintu, seketika membuat mama Edo sangat panik. Walau bagaimana pun dia tak akan membiarkan kelakuan buruk putra nya diketahui sang calon besan.


Itu lah sebab nya, mama Edo sengaja menyuruh mami Elma memanggil security di depan untuk membobol pintu. Se-cerdas apapun otak yang sedang panik mendengar suasana kesakitan putri nya, tentu tak akan bisa berpikir jernih. Itu pula yang dilakukan mami Elma, dirinya tak tahu bahwa saat ini sedang dikibuli mami Edo. Padahal jika di pikir jernih, untuk apa memanggil security di depan, sedangkan kunci cadangan tersedia. Dan untuk apa bersusah payah berjalan kaki ke bawah sedangkan telepon tersambung di seluruh ruangan. Tapi ya mau bagaimana lagi, nama nya juga panik. Manusia tak bisa menyalahkan orang panik karena semua tindakan  nya memang sering dilakukan tanpa di pikir, mereka akan cenderung melakukan segala sesuatu nya menggunakan gerakan refleks.


Plak


Plak


Plak


"Akh! Mama, sudah cukup!" Lagi lagi Edo menengadah kesakitan saat kepala nya kembali menjadi korban kekejaman ibu kandung nya.


Sedangkan Elma yang sejak tadi hanya diam, dia semakin menundukkan kepala nya. Sungguh, demi apapun dia sangat malu. Sampai-sampai mata nya berkaca-kaca. Sungguh, diri nya merasa menjadi wanita yang sangat hina. Tetapi untung saja, Mami nya tak mengetahui semua ini. Andai mami Aline sampai mengetahui nya maka diri nya sudah tak bisa lagi memunculkan batang hidung nya dihadapan sang mami.


"Sudah cukup kau bilang, hah?!"


"Sudah cukup kau bilang?!" Mama Edo mengulangi pertanyaan nya dengan nada membentak.


Lalu tatapan nya beralih pada Elma yang saat ini sedang menunduk sendu dengan mata nya yang sudah berair. Mama Edo sangat tahu bagaimana perasaan Elma saat ini.


"Kenapa kau selalu bertindak Egois?! Lihat lah calon istri mu." Mama Edo mengarahkan dagu nya ke arah Elma yang langsung diikuti Edo. Dalam waktu tak lebih dari satu detik, tatapan Edo langsung berubah sendu. Awal nya dia tekesiap melihat bagaimana wajah sedih calon suami nya. Lalu dia merutuki kebodohan nya sendiri yang hanya memikirkan kepuasan naf su tanpa memikirkan bagaimana perasaan Elma saat ini. "s-sayang ... maafkan aku," Suara Edo terdengar bergetar, suara nya seakan tercekat di tenggorokan.