Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Meminta Izin


Elma benar-benar kehabisan kata-kata kali ini, dia tak tahu harus menyangkal atau mengiyakan saja perkataan Edo. Yang jelas, dia sangat malu dan takut saat bertatapan dengan Edo karena telah mengumpatnya dalam hati.


"Apa kau mengerti?" Edo menarik pinggang Elma hingga tubuh nya terhuyung dan menabrak dada bidang laki-laki itu.


Sementara Elma semakin dibuat ketakutan, dia mengiyakan perkataan Edo dan mengangguk begitu saja mungkin itu lebih baik pikirnya.


"Good, girl." Edo mengusap kepala Elma dengan senyum kemenangan.


Dasar gadis bodoh! Dia mempercayai begitu saja perkataan ku, dasar gadis polos. Batin Edo.


Tentu saja Edo tidak benar-benar memiliki ilmu telepati, dia bahkan tak terlalu mempercayai hal seperti itu. Tapi gadis bodoh itu mempercayai begitu saja, padahal Edo hanya sedang menebak pikiran Elma. Tentu saja Edo tahu kalau saat ini Elma sedang mengumpat karena terlihat dari sorot matanya yang menatap dirinya, juga mulut nyabyan terus komat kamit seperti Mbah dukun.


Dan bodoh nya lagi, Elma mengatakan semua yang dia ucapkan dalam hati, dan Edo mengiyakan begitu saja. Jika saja gadis itu tidak mengatakan umpatan nya, tentu Edo tidak akan tahu kalau Elma mengatainya dokter cabul, gigolo, badak bercula satu, dan umpatan lainnya.


"Bagus, kalau sudah mengerti maka jangan pernah mengumpat karena aku pasti tahu."


Lagi-lagi Elma hanya mengangguk, tak mungkin dia akan melawan perintah nya karena itu hanya akan percuma.


"Oke, sekarang kita berangkat." Edo menarik pinggang Elma posesif dan berjalan bersama keluar apartemen ke rumah sakit.


.


.


.


Di rumah sakit.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat mami Elma dirawat sekaligus tempat Edo bekerja.


Tanpa membuang waktu, Elma langsung menuju ruangan maminya dirawat. Sedangkan Edo menuju ke ruangannya.


Cklek


"Mami," Elma menatap maminya yang masih terkulai lemah di atas brangkar.


"Sayang, kamu darimana saja? Kenapa semalam tidak kesini? Dan benarkah kamu menyewa dua perawat ini untuk menjaga mami? Memang nya kamu dapat uang dari mana?" Mami Elma terlihat begitu khawatir saat melihat putrinya muncul dibalik pintu. Dia bahkan memberondong dengan banyak pertanyaan.


"Mami, satu-satu tanya nya. Elma bingung mau jawab mana duluan." Elma mengerucutkan bibirnya. Sebenarnya bukan nya dia bingung, tetapi sengaja mengalihkan perkataan mami nya agar dia bisa berpikir lebih dulu untuk mencari alasan.


"Iya, sayang. Maafkan mami, habisnya mami takut kamu kenapa-kenapa sejak tadi malam tidak kesini." Mami Elma terkekeh melihat anaknya berbicara sembari mengerucutkan bibir.


"Jadi, tadi malam kamu kemana?"


Gluk.


Elma menelan ludah nya kasar, padahal dia sudah berusaha untuk mengubah topik pembicaraan, tetapi sang mami ternyata masih saja bertanya.


Elma yang sedari dulu tak pernah berbicara bohong pada mami nya tentu saja sangat takut, dia tak tahu harus menjawab apa. Otak nya terus berpikir keras untuk mencari alasan-alasan masuk akal dan juga tak membuat mami nya khawatir.


"I-itu mami, Sebenarnya tadi malam Elma -"


Klek.


"Selamat siang, Bagaimana keadaan ibu saat ini?"


Elma menghembuskan nafas lega karena ada dokter Edo dan dua perawat datang.


"Selamat siang, dokter. Puji Tuhan, keadaan saya mulai membaik." Mami Elma menimpali.


"Oh iya, sebelumnya saya ingin minta maaf. Semalam saya mengajak putri Anda ke apartemen saya untuk membantu membersihkan aparateman, dan kebetulan putri Anda yang cantik dan baik ini mau. Jadi, saya minta tolong beberapa suster untuk menggantikan Elma menemani Anda." Jelas Edo dengan ekspresi dibuat seakan merasa bersalah. "sebenarnya saya ingin meminta izin pada Anda langsung, tapi saya tidak tega mengganggu istirahat Anda." imbuhnya lagi.


Elma jelas melebarkan matanya karena terkejut, bisa-bisa nya Edo mengatakan hal itu pada maminya. Bagaimana kalau maminya tahu dia dijadikan wanita pemuas nya?


Dasar, badak bercula satu! Elma mencaci dalam hati. Tapi sedetik kemudian dia mengehentikan cacian nya Kate takut Edo akan mengetahui.


"Oh, jadi Elma ikut dokter Edo? Saya kira Elma kemana. Iya, tidak apa dokter, saya senang kalau anak saya bisa membantu orang lain." Katanya tulus.


"Terimakasih, Bu Aline." Edo tersenyum menatap wajah mami Elma. "sebenarnya saya sedang mencari asisten rumah tangga. Tapi sejak kemarin belum mendapatkan nya, maka dari itu saya minta tolong anak ibu untuk membantu membereskan nya."


"Jika Bu Aline mengizinkan, saya ingin sekali anak ibu menjadi asisten di rumah saya. Dan saya berjanji akan menanggung semua biaya pengobatan ibu, juga menjamin pendidikan anak ibu. Apakah ibu setuju?"


Mami Elma tampak terkejut dengan penawaran dokter Edo, dia bahkan menatap Elma penuh tanda tanya. Sedang Elma yang ditatap hanya bisa menundukkan kepala.


"Apa benar yang dokter Edo katakan?" Mami Elma mengamati baik-baik ekspresi wajah Edo.


"Tentu saja benar Bu Aline." Sahut Edo mantap.


"Kalau begitu, saya menyerahkan semua pada putri saya. Jika memang putri saya tidak keberatan, tentu saya mengizinkan nya."


Senyum Edo mengembang mendengar jawaban mami Aline.


"Bagaimana Elma? Apa kau setuju menjadi asisten di apartemen saya? Saya berjanji tidak akan memberikan mu pekerjaan berat, hanya membersihkan perabotan serta membuatkan sarapan untuk saya. Setelah nya kamu bisa menggunakan waktu mu untuk belajar, karena saya juga akan mendaftarkan mu sekolah tinggi."


"Tapi, putri saya hanya lulusan SMP dokter." Sahut mami Elma sendu. Sebagai orang tua, hatinya merasa teriris mengingat anak nya tak bisa melanjutkan sekolah menengah. Padahal dulu diapun lulusan sarjana, tetapi karena kehidupan nya yang begitu malang membuat putri nya harus memilih bekerja di saat semua anak menghabiskan waktu nya untuk belajar.


"Tidak masalah, saya akan mendaftarkan nya kejar paket. Dan setelah selesai, kamu bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi."


"Bagaimana Elma? Apa kamu setuju?" Edo bertanya sekali lagi.


"Ini kesempatan mu untuk bisa sekolah, sayang. Terima saja tawaran dokter Edo." Mami Elma ikut membujuk. Bahkan dia sangat terharu mendengar kesungguhan dokter Edo.


Elma mau tak mau mengangguk karena melihat mami nya begitu bahagia mendengar nya.


"Saya mau, dokter." Elma berkata dengan suara lirih.


Dalam hati, dia kembali mengumpati dokter Edo yang mengatakan dengan sangat manis, sampai-sampai maminya begitu terharu mendengar nya.


Padahal aslinya tidak seperti itu, dia bahkan harus merelakan kehormatan nya untuk si dokter cabul itu. Tapi tak apa lah, Elma tak akan menyesali nya karena ini adalah pilihan nya.


...💙💙💙...


...TBC...


Mohon dukungan like, komentar, gift dan votenya teman-teman.


Terimakasih 🙏