Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Panggilan Telepon


Elma membelalakkan matanya lebar-lebar saat merasakan tangan nya menyentuh benda yang belum pernah dia sentuh sebelum nya.


Jangankan menyentuh, melihat pun Elma tak pernah kecuali dulu diwaktu kecil saat mendiang kakak nya berhubungan badan dengan mantan kekasih pecundang nya. Di luar itu Elma tak pernah melihat nya lagi, bisa-bisa mata Elma bintitan bila melihatnya. Dan kali ini Edo benar-benar berhasil membuat jantung nya hampir saja terlepas dari tempat nya.


Saat Elma berusaha melepaskan tangan nya dari benda itu, Edo justru semakin menekan tangan Elma hingga genggaman tangan nya dari benda itu semakin menekan kuat.


Edo bahkan sudah memejamkan mata sembari menikmati pijatan Elma pada junior nya.


"Eummh ... Lebih ditekan lagi, sayang." Perintah Edo dengan mata terpejam. Suara Edo bahkan sudah berubah menjadi serak pertanda dia benar-benar sudah terpancing gairah.


Wajah Elma bahkan semakin memerah karena tangan nya semakin menekan kuat benda itu sebab bantuan tangan Edo yang juga menggenggam tangan nya.


Edo yang sudah tidak tahan dengan ha-srat nya yang semakin memuncak, seketika menarik tubuh Elma hingga ikut masuk ke dalam bathtub dan duduk di atas paha nya.


Elma dapat merasakan dengan jelas, benda yang tadi dipegang nya kini semakin mengeras dan terasa menusuk di bagian bawahnya membuat nya semakin tak nyaman.


"E-do, lepaskan. A-aku ingin memandikan mu." Dengan beralasan ingin memandikan Edo, dia berharap bisa terlepas dari terkaman Edo.


Faktanya tidak seperti itu, Edo justru semakin melancarkan aksinya. Tangan nya bergerak liar memegang bagian tubuh Elma sesuai keinginan nya.


Elma sudah tak bisa berkutit kali ini, dia benar-benar dibuat melayang dengan sentuhan-sentuhan yang di berikan Edo. Sentuhan Edo memang sangat lembut dan memabukkan, sampai-sampai Elma pun ikut terlena dalam permainan nya.


"Edo." Tanpa sadar Elma meracau memanggil nama Edo. Tubuh nya bergerak-gerak tak karuan menikmati sentuhan demi sentuhan yang Edo berikan.


Sepertinya ha-srat yang sedari tadi Edo bendung sudah tak bisa ditahan lagi karena benar-benar sudah berada di puncaknya.


"Edo," Lagi-lagi Elma hanya bisa melenguh sembari menikmati sentuhan Edo. Dan suara-suara se-ksi yang dikeluarkan Elma semakin membuat Edo berhasrat.


Dengan tak sabaran Edo menempelkan bibirnya pada bibir Elma, dia meraup bibir itu dengan rakus dan penuh naf-su yang membara. Elma tak bisa menolak ciuman memabukkan yang Edo berikan karena dia pun menginginkan hal yang sama.


Ya, dua-duanya benar-benar sudah terpancing gairah. Elma hanya bisa pasrah saat Edo semakin melancarkan aksinya. Baju yang dikenakan Elma sudah terbuang entah kemana.


Tangan Edo tak tinggal diam, dia meraup rakus dua benda kenyal yang terlihat sangat menantang dan masih terbungkus kain penyangga dengan penuh naf-su.


Sekali lagi, Elma hanya bisa memejamkan mata sembari menikmati sentuhan Edo. Dia tak bisa mendesaah atau meracau bebas karena sedari tadi Edo belum menghentikan ciuman nya.


Tangan Edo mulai menjalar ke bawah seiring dengan ciuman nya yang juga semakin turun menuju telinga lalu mengu-lum nya dengan penuh gairah.


Setelah puas bermain disana, Edo segera menye-sap leher jenjang Elma yang terlihat begitu menggoda. Bukan hanya menggoda, tetapi juga memancing gairah saat melihat leher jenjang itu dengan kulit nya yang putih bersinar.


Sedangkan tangan Edo sudah berada di tubuh Elma bagian bawah. Dia meraba kein berbentuk segitiga itu dengan jari-jari nya, dan di detik berikutnya jari-jari Edo masuk ke dalam kein segitiga itu dan mengobrak-abrik benda yang ada di dalam nya. Membuat Elma benar-benar merasa seperti tersengat listrik bertegangan ratusan volt.


Bibir Elma terus meracau tidak jelas dengan tubuhnya yang terus dia gerakkan seperti cacing yang terkena terik matahari.


Edo semakin terbakar gairah saat Elma memintanya melakukan lebih, dan kali ini Edo benar-benar sudah tak kuat lagi. Di bukannya kain berbentuk segitiga itu dengan satu tarikan kuat hingga memperlihatkan benda yang begitu dia idam-idamkan dari wanita nya tanpa membuka bawahan yang dikenakan Elma.


Edo kembali memposisikan Elma dengan nyaman lalu segera mengarahkan belut listrik nya menuju benda itu.


Tetapi baru saja dua benda itu saling menempel dan belum sempat menyatu, gerakan tangan Elma mengehentikan kegiatan Edo.


Seketika Edo menatap kearah Elma yang saat ini berada dibawah nya dengan tatapan penuh kecewa karena menduga Elma belum siap memberikan tubuhnya.


"J-jangan lakukan disini. Kita pindah ke kamar." Cicit nya dengan wajah memerah karena juga terbakar gairah. Bahkan Elma sudah tak memperdulikan rasa malunya karena diapun ingin segera menuntaskan sesuatu yang sangat mendesak ini.


"Apa boleh?" Dia ingin memastikan sekali lagi, menatap wajah cantik Elma yang terlihat begitu sek-si. Apalagi melihat bibir wanita nya yang sudah membengkak akibat kebrutalan nya dalam menikmati bibir Elma.


Elma tak bersuara, dia hanya menjawab dengan sebuah anggukan.


Setelah memastikan Elma benar-benar mengizinkan, Edo langsung mengangkat tubuh Elma dengan tas sabaran. Namun sebelum sampai ke dalam kamar, Edo membuka seluruh kain yang melekat ditubuh Elma karena saat ini sudah basah.


Dan dia manusia itu akhirnya sama-sama polos dengan tubuh keduanya saling menempel karena posisi Elma berada dalam gendongan Edo ala-ala bridal.


Dengan tak sabaran Edo membaringkan tubuh Elma ke atas ranjang, namun tetap berhati-hati karena tak ingin menyakiti wanita nya.


Setelah dirasa posisi Elma nyaman, Edo kembali melancarkan aksinya. Dia kembali memancing gairah Elma mulai dari tubuh bagian atas hingga perlahan turun ke bawah dan berhenti pada bagian intinya.


Edo tampak mendekatkan wajahnya di depan inti Elma dan menatap intens yang menurutnya seperti bunga mawar merekah dan terlihat sangat indah. Belut listrik nya semakin berkedut hebat saat memandang benda itu, dan ingin segera memasuki nya.


Edo tampak mengarahkan belut listrik nya ke dalam inti Elma. Sekali lagi, saat belut listrik nya baru saja menyentuh benda itu, lagi-lagi konsentrasi nya digagalkan oleh suara dering ponsel miliknya.


Saat deringan pertama, baik Edo maupun Elma tak memperdulikannya karena saat ini pikiran mereka hanya tertuju pada kepuasan itu.


Tetapi saat ponsel itu kembali berdering untuk yang kedua kali, Elma tampak mengentikan kegiatan Edo yang baru saja ingin menekan belut listrik nya hingga memasuki miliknya.


"Angkat dulu, siapa tahu penting." Elma mengingatkan di sela-sela kegiatan krusialnya.


Satu kali mendapat peringatan, tak membuat Edo goyah. Dia kembali melanjutkan untuk mengarahkan belut listrik nya setelah tadi sempat dia hentikan saat Elma memperingati.


Namun saat deringan ponsel itu lagi-lagi mengganggu konsentrasinya, akhirnya dengan sangat terpaksa Edo mengambil ponsel itu.


"Shitt!!" Edo mengumpat kesal sembari mengambil ponsel di dekat nya. Dalam hati, dia merutuki orang yang menelponnya saat ini karena telah berani mengganggu kenikmatannya.


Namun saat melihat kontak si penelpon, Edo langsung bergegas mengangkat telepon itu.


"Halo,"


" ... "


"Ya, aku ke sana sekarang," Edo tampak menutup telepon secara sepihak setelah mendengarkan semua ynag dikatakan orang diseberang sana.


Dia segera turun dari ranjang lalu menuju walk in closet untuk mengambil baju setelah memberi perintah Elma agar tidur lebih dulu dan mengecup keningnya.


Elma tampak kecewa karena Edo meninggalkan begitu saja, dia hanya bisa menghela nafas sembari mengamati punggung kokoh itu yang menghilang dibalik pintu.


...πŸ’™πŸ’™πŸ’™...


Gagal deh!πŸ™ˆ


Kira-kira siapa yang menelpon Edo?πŸ€”


Jangan lupa, mampir ke cs temenku yang satu ini. Dijamin seru & hot. Dijamin bikin gerah, kesukaan emak-emak bangetπŸ”₯😍