
"Elma .... Ayo, sayang ...!" Teriak mami Aline dari luar. Dia merasa tak enak karena calon besannya sudah menunggu putri nya sejak tadi, tapi anak itu belum juga memunculkan batang hidungnya.
"I-iya mi, sebenar...!" Sahut nya teriak juga. Tapi seperti ada yang aneh, teriakan Elma terdengar seperti sedang menahan sesuatu.
Di Kamar Elma.
"S-sudah ...," Elma mencoba melepaskan bibir Edo yang masih terus melancarkan aksinya di bagian depan tubuh Elma yang sudah terbuka. Menghasilkan sensasi yang membuat Elma sedikit kehilangan akal sehat nya.
"Sebentar, sayang. Hukuman mu masih kurang." Edo berkata setelah melepas bibir nya dari benda kenyal yang sejak tadi dia nikmati. Lalu setelah nya, dia kembali melancarkan aksinya. Membuat Elma semakin tak bisa berkata-kata saat Edo semakin memperdalam ku lu man nya di da da nya.
"Edo ...," Elma benar-benar tak tahan untuk tidak men de sah. Dan itu semakin membuat Edo tersenyum kepuasan.
"Kau sudah basah, sayang ..." Eldo tersenyum penuh arti setelah tangan nya menyusup ke dalam gaun yang dipakai Elma dah menyentuh bagian sensitif wanita itu.
Sedangkan Elma membelalakkan mata nya, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja Edo lakukan pada nya.
"Edo, Lepaskan!" Elma mencoba menghindar. Tapi tak semudah itu Edo melepaskan.
"Eits ... Kau tidak boleh pergi sebelum kita menyelesaikan kegiatan ini." Edo langsung mendorong Elma menuju tempat tidur hingga tubuh nya terjerambat di sana, lalu dengan cepat Edo mengungkung nya hingga Elma tak bisa kabur dari sana.
Tanpa kata-kata Edo langsung menyerang bibir Elma dengan penuh gai rah. Tangan nya sudah menjalar ke mana mana hingga menimbulkan sensasi yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
Semakin turun ciuman Edo, semakin kuat pula desa Han Elma.
Tok ... tok ... tok ...,
"Elma, kau sedang apa?!" Mami Aline benar-benar sudah kehilangan kesabaran menunggu putri nya bersiap yang katanya hanya menunggu 5 menit tapi ini sudah hampir 20 menit belum juga ada tanda-tanda keluar.
"Elma ..!"
Tok ... tok .. tok ...,
Mami Aline sudah tak mendengarkan nasehat dari mam Edo, dia terlanjur geram pada putrinya yang menurut nya sangat tidak sopan membuat dua orang tua itu menunggu sangat lama.
"Se-sebentar ahh ..!"
"Elma, kau kenapa?" Kini mami Aline menjadi panik mendengar suara putri nya seperti merintih kesakitan.
Sedangkan di dalam kamar, Elma sedang merutuki kebodohan nya karena bisa-bisa nya diri nya men de sah saat menjawab perkataan mami nya.
"Edo, s-sudah ... hen tikan. Mami sudah menunggu.." Meski Elma mencoba melepaskan rapi tetap tidak bisa. Justru Edo semakin melancarkan aksinya. Bahkan saat satu tangan nya sudah berhasil menurunkan cela na da lam milik nya dan sudah bisa di pastikan kegiatan apa yang selanjutnya akan terjadi.
Srek
Terdengar suara saat Edo menurunkan resleting celana nya. Dan tanpa aba-aba Edo mulai memposisikan milik nya menuju inti Elma lalu dengan sekali hentakan dua benda itu menyatu.
"Aaahhh ..!"
Elma yang tidak siap dengan serangan itu langsung memekik keras hingga orang di luar mendengar jeritan nya.
"Elma, kau kenapa?!" Mami Aline panik bukan main mendengar putri nya kembali menjerit.