Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Tempat Tinggal Baru


Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih sehari semalam, Edo dan Elma akhirnya tiba di kota Nevada.


Tujuan Edo kesini yaitu mengembangkan bisnis yang pernah ayahnya rintis dengan tangan nya sendiri setelah memiliki cukup modal. Bisnis yang dijalani ayahnya yaitu berupa bisnis kuliner dan beberapa properti yang tak kalah besarnya dengan bisnis di Indonesia.


Untung saja di masa-masa jaya nya ayah Edo sempat mendirikan bisnis nya secara personal, walau awalnya hanya kecil-kecilan tapi karena ramai nya kota ini semakin menunjang banyak nya pelanggan yang datang. Hingga saat ini bisnis kuliner yang dijalankan sudah memiliki banyak cabang di seluruh kota Nevada yang pusat nya ada di Las Vegas.


Dan saat ini bisnis yang dijalani nya tidak hanya kuliner, saat ini sudah mulai mendirikan market dan mall besar di beberapa titik kota.


Dan bulan depan rencananya Edo akan mendirikan mall besar di California yang saat ini sudah mulai masa pembangunan gedung.


Ayah Edo sengaja memerintahkan Edo yang menangani, mengingat sudah tak lagi memegang hak bisnis di Indonesia. Selama ini ayah Edo lah yang menjalani bisnis ini, sedang Edo bekerja di Indonesia.


Dan kini ayah Edo memutuskan untuk menghabiskan hari-hari tuanya bersama sang istri, dia berpikir sudah terlalu lelah jika terus-terusan bekerja. Sedang Edo pun sudah dewasa dan sudah waktunya dia bisa hidup mandiri tanpa campur tangan sang ayah.


Kecewa, tentu saja rasa itu ada di hati ayah Edo mengingat perjuangan nya selama ini. Namun balik lagi, apa yang dilakukan nya semata-mata hanya untuk membahagiakan Edo.


Untung saja orang tua Edo bukanlah orang yang suka memaksakan kehendak ataupun menumbalkan anak nya demi harta. Mereka akhirnya berlapang dada dengan apa yang menimpa mereka, meski awal-awal sempat terjadi perseteruan tetapi akhirnya bisa di kembali damai.


Dan salah satu penyebab orang tua Edo dan Edo berdebat juga karena Elma, mereka tidak setuju ada Elma di kehidupan nya karena wanita hanya akan membuat nya lemah. Namun setelah penjelasan panjang yang Edo paparkan, akhirnya mereka mengabaikan begitu saja apa yang disampaikan Edo.


Mereka tidak merestui ataupun melarang apa yang dilakukan Edo kali ini, bahkan terkesan acuh tak acuh. Sepertinya orang tua Edo benar-benar sudah tak ingin lagi mengurusi kehidupan putra semata wayangnya.


Dan disinilah mereka berada, Edo dan Elma sudah sampai di tempat hunian yang akan mereka tempati selama berada di kota ini.


"Apa kau lelah?" Edo menatap wajah Elma yang terlihat begitu lesu sembari berjalan gontai menuju sofa.


"Tentu saja aku sangat lelah. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan perjalanan selama ini setelah sekian lama." Keluhnya sembari menyeka pelipis nya sendiri yang tak ada keringat sama sekali.


"Memangnya kau tidak pernah pergi ke Amerika?" Tanya Edo yang sebenarnya hanya untuk basa-basi.


"Pertanyaan apa itu? Tentu saja aku tidak pernah pergi kesini. Kau pikir aku punya uang berapa sampai bisa pergi sejauh ini?" Sahut nya dengan bersungut-sungut.


Edo pun terkekeh melihat wajah Elma yang terlihat kesal, apalagi bibir nya yang dimajukan sampai beberapa centi membuatnya semakin terlihat lucu.


"Aku kan hanya bertanya, kenapa kau jadi sensi begitu?" Ujar Edo tanpa mengehentikan kekehan nya.


Elma menghela nafas nya dengan kasar sembari menyandarkan tubuh ke sofa.


"Sebenarnya aku pernah datang ke sini, tapi itu sudah lama sekali sebelum papi meninggal, sebelum kakak ku yang bodoh itu memilih mengakhiri hidupnya." Katanya dengan suara lirih. Arah matanya menerawang jauh dengan bola mata yang sudah berair.


Sepertinya pembicaraan ini tak baik lagi untuk diteruskan, Edo jadi merutuki diri sendiri karena membahas sesuatu yang semakin membuat Elma sedih. Padahal niat awalnya dia hanya ingin membuka obrolan ringan dan di selingi dengan kejahilan nya, tapi justru keadaan berbalik menjadi melow.


"Oh iya, mulai besok kau sudah bisa meneruskan sekolah mu. Aku sudah mendaftarkan mu ke mengikuti pendidikan tahap menengah." Edo sengaja mengalihkan pembicaraan yang memang juga tak kalah penting.


Sebelum datang kesini Edo memang sudah menyiapkan segala nya, mulai dari tempat tinggal mereka yang letaknya strategis juga pendidikan Elma yang sempat tertunda.


Selama ini Edo begitu memikirkan pendidikan Elma dan sebelumnya juga pernah mendaftarkan di Indonesia tetapi belum sempat dia masuk sekolah sudah lebih dulu mereka pindah kesini.


"Jadi, aku benar-benar akan meneruskan sekolah ku?" Elma menatap tak percaya Edo dengan wajah riang nya.


Mendengar pertanyaan Edo membuat Elma mencebikkan bibir, lebih tepatnya mencibir nya karena sudah terlalu banyak kebohongan yang dikatakan pada mami nya beberapa hari lalu, dan kali ini dia mengatakan sejak kapan dia berbohong?


Tentu saja sudah sering kali Edo berbohong, tetapi Elma memilih untuk mengumpat saja karena tak ingin memperpanjang perdebatan.


"Dan satu lagi, kau harus sungguh-sungguh fokus pada sekolah mu. Karena kau akan langsung sekolah di kelas akhir dan mengikuti ujian tahun ini." Jelas Edo.


"What? Kenapa bisa begitu?" Elma seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan Edo kali ini. Bagaimana mungkin dia mengikuti sekolah hanya satu tahun dan langsung mengikuti ujian? Sedangkan orang-orang normal pada umumnya akan bersekolah selama 3 tahun lamanya.


"Tidak usah banyak protes, bukankah umurmu memang sudah seharusnya berada di tingkat perguruan tinggi? Jadi lebih baik kau turuti saja perkataan ku."


"Iya juga sih." Elma bergumam sendiri, memang seharusnya dia sudah lulus sekolah menengah tetapi karena keterbatasan ekonomi Elma memutuskan untuk tak melanjutkan sekolah nya.


Edo memang mendaftarkan ke sekolah menengah, tetapi mungkin hanya akan berjalan selama 1 tahun mengingat Elma yang sudah berusia 18 tahun dan sudah seharusnya memasuki pendidikan tinggi.


Dengan sedikit kekuasaan yang dia punya, Elma bisa lulus hanya dalam jangka waktu 1 tahun bila memang nilai akademik nya mencukupi.


"Baguslah kalau begitu, sekarang bersihkan diri mu dan tidur. Karena besok kau sudah harus masuk sekolah." Perintah Edo yang langsung dituruti Elma.


Untung saja tadi mereka sudah makan di tempat makan dekat bandara, jika tidak sudah dipastikan Elma akan kelaparan sepanjang malam karena tak ada makanan di apartemen.


Elma lebih dulu masuk ke kamar yang letaknya tak jauh dari sana sesuai petunjuk Edo. Sedangkan Edo masih duduk di sofa sembari menyesap rokok.


Sebenarnya Edo bukan pria yang penikmat rokok, tetapi di saat-saat permasalahan nya sedang banyak maka dia melarikan diri dengan menyesap nikotin.


Edo merogoh ponsel yang baru saja berdering dari saku celananya dan mengangkat telepon.


"Bagaimana?"


"..."


"Baguslah! Kau awasi terus dia, dan laporkan semuanya padaku. Cari titik celah untuk menjatuhkan nya."


Tut.


Sudah menjadi kebiasaan Edo, tanpa menunggu jawaban dari lawan bicara tetapi sudah lebih dulu menutup telepon.


MAMPIR JUGA KE KARYA TEMANKU


AUTHOR: CovieVy


JUDUL: Ternyata Suamiku Gigolo.


Dijamin seru.🤗