Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Rencana Elma


Selamat tinggal Elma, semoga kau menemukan kebahagiaan mu. Maafkan aku yang telah merenggut kebahagiaan mu selama ini. Batin Edo sembari melangkah.


Nyatanya tak semudah yang dibayangkan melepaskan wanita yang dicintainya. Tanpa terasa air matanya menetes seiring dengan langkah kakinya yang terus menjauh.


Sedangkan Elma hanya bisa menatap nanar punggung Edo yang semakin menghilang dari pandangan nya. Ingin sekali rasanya dia memanggil nama Edo dan menghentikan nya tetapi suara nya tertahan di tenggorokan. Yang bisa dia lakukan hanya membiarkan nya pergi dengan air mata yang sudah mengalir dari pelupuk nya.


Bukankah ini kemauannya? Lalu kenapa seolah-olah dia yang tersakiti. Tak rela rasanya membiarkan Edo pergi.


Dalam sudut hatinya, Elma merasa kecewa karena dengan mudah nya Edo melepaskan begitu saja. Dia kesal karena Edo seakan-akan begitu muda mendapatkan dirinya lalu melepaskan seenak mau nya.


Elma seakan lupa bahwa diri nya lah yang meminta dilepaskan, bukan karena Edo yang sudah bosan lalu membuang nya dengan terlantar.


Entah lah, apa yang dimaui hati ini Elma pun tak mengerti.


"Kenapa seperti ada yang hilang? Kenapa kau merasa terluka, Elma? Bukankah ini yang kau mau?" Gumam Elma pada diri nya sendiri. Lalu tanpa terasa tangan kanannya menyentuh dada yang terasa nyeri dengan air mata yang masih mengalir tetapi bibir nya dipaksakan untuk tersenyum.


Sungguh, siapapun yang melihatnya akan iba melihat bagaimana pilunya Elma.


"Jangan sakit hati, Elma. Lupakan Edo, dia hanya seorang baik hati yang sudah menolong mu. Jangan tinggalkan hati pada laki-laki itu. Kumohon, Elma. Karena bila sampai itu terjadi, hati ku tak akan sanggup." Gumam nya lagi. Lalu tanpa terasa air matanya kembali mengalir setelah tadi sempat berhenti sejenak.


Tapi mengapa? Mengapa harus mencintai nya? Sedang laki-laki itu saja hanya menganggap Elma sebagai wanita pemuas.


Ini bukan salah Elma. Ya, sekali lagi ini bukan Elma. Apa yang terjadi pada mereka saat ini karena kesalahan Edo sendiri. Andai laki-laki itu lebih dulu menyatakan cinta, bukan justru menghina tentu Elma akan menerima dengan kedua tangan nya.


Tetapi lagu lagi itu hanya berandai-andai karena kenyataannya mereka sudah resmi berpisah dan memilih menyiksa diri mereka masing-masing.


Tersiksa karena kesalahpahaman akibat kurang nya ungkapan.


Sebuah ungkapan tentu sangat dibutuhkan dalam sebuah hubungan, bukan malah memilih diam memendam segala perasaan yang menyerang dalam sanubari.


"Sudahlah, Elma. Tak perlu ada yang kau sesali. Untuk saat ini kau harus fokus balas dendam pada John." Sekali lagi Elma hanya bisa bergumam setelah Akhirnya dia bisa mengendalikan perasaan akibat kegundahan yang menyerang."aku harus segera bisa masuk ke perusahaan John. Ya, aku akan bekerja di sana." Terlihat Elma menjentikkan jari tengah dan ibu jarinya lalu bangkit dari sana.


Untung saja semua prosesi wisuda telah selesai. Dan tadi saat Edo memeluknya karena proses wisuda sudah berakhir yang rencana nya akan mengajak ke suatu tempat yang sudah disiapkan.


Tapi apalah daya, mungkin takdir tuhan lebih menentukan garis nya sehingga manusia tak bisa berbuat apa-apa selain menerima kehendak yang kuasa.