
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai empat, terlihat Lea berjalan keluar dari sana dan juga beberapa orang yang ikut keluar. Otomatis Elma pun mengikuti kakak nya yang keluar dari lift.
Lea berjalan menuju ke salah satu unit di lantai itu. Terlihat dia sedang memencet kode password.
Elma menjadi bingung, ingin ikut masuk atau tidak. Ingin sekali dia ikut masuk ke dalam untuk mengetahui apa yang akan dilakukan kakak nya di sana.
Tapi disisi lain juga dia takut bila ikut masuk maka akan ketahuan kakak nya bahwa sejak tadi membuntutinya.
Elma melihat Lea membuka pintu apartemen lalu masuk ke dalam.
Sepertinya keberuntungan sedang memihak kepada nya. Kakak nya tak menutup kembali pintu apartemen hingga dia bisa dengan leluasa memasuki nya, meski dengan cara mengendap-endap karena tak ingin ada satu orang pun yang mengetahui nya.
Elma mengikuti langkah kakak nya yang terus berjalan menyusuri ruangan demi ruangan unit apartemen yang entah lah siapa pemilik nya.
Setelah berjalan lumayan jauh dari ruang depan, sayup-sayup Elma mendengar suara-suara seperti suara orang kesakitan.
Entah lah, Elma tak tahu apa yang sedang terjadi pada orang itu, dia hanya mendengar suara yang sebelumnya dia belum pernah mendengar nya. Dan tidak hanya satu pemilik suara yang terus meloloskan suara seperti menhan sakit, seperti ada suara laki-laki dan perempuan.
Semakin mendekati ke arah ruangan, semakin jelas pula suara orang bersahut-sahutan seperti berteriak kesakitan namun juga saling mengucapkan nama satu sama lain sembari saling memuji.
Elma dapat melihat kakak nya sedang mematung di tempat berdiri nya, setelah mendengar orang-orang yang berteriak di dalam sana.
Sangat terlihat dari arah belakang bila kakak nya saat ini sedang menangis, meski tak mengeluarkan suara tetapi Elma bisa mengetahui melalui bahu nya yang bergetar.
Gadis kecil itu semakin tak mengerti dengan apa yang akan di lakukan Kakak nya, mengapa dia datang ke apartemen orang lain bila ujung-ujungnya hanya menangis?
Gadis itu terlalu polos untuk mengetahui kegiatan orang dewasa, Elma memang seharusnya belum saat nya mendengarkan suara-suara aneh orang yang sedang melakukan proses percintaan.
Pandangan Elma kembali fokus pada kakak nya yang kembali melanjutkan langkah nya setelah terdiam cukup lama, mungkin dia tak ingin orang yang ada di dalam sana mengetahui kalau dia baru saja menangis. Karena Elma dapat melihat nya saat Lea menghapus kasar air matanya, dan setelah itu langsung melanjutkan langkah.
Lea sampai di depan pintu, tangan nya sudah memegang handle pintu. Namun dia belum juga membuka ruangan itu, dia terlihat memejamkan mata sejenak sembari mengatur nafas.
Setelah benar-benar tenang, dia mulai membuka pintu dengan pelan.
"John ...!" Panggil Lea setelah membuka lebar pintu kamar di sana. Otomatis Elma bersembunyi di balik guci yang letaknya tak jauh dari sana agar orang yang ada di dalam sana melihat nya.
"Shitt!" Laki-laki itu mengumpat keras saat menyadari ada yang membuka pintu kamar nya. Dia membalikkan badan dan menatap tajam Lea dengan tatapan membunuh.
Otomatis sesuatu yang seharusnya tersembunyi itu terpampang nyata, Elma langsung menutupi wajah nya karena tak ingin melihat benda menjijikkan itu.
Meski dia baru berumur delapan tahun, tapi dia cukup mengerti kegiatan yang sedang dilakukan dua orang dewasa berbeda jenis kelamin itu. Elma dapat menebak siapa orang yang ditemui kakak nya, serta apa yang akan di bicarakan oleh sang kakak.
"Lancang sekali kau masuk ke kamar tanpa meminta izin?! Ganggu banget!!" Bentak laki-laki pada kakak nya.
Sepertinya laki-laki itu sudah kehilangan rasa malu nya, dia bahkan tak berinisiatif menutupi tubuh polos nya itu. Sedangkan perempuan yang berada di bawah laki-laki itu langsung menutupi bagian tubuh nya menggunakan selimut yang tadi tergeletak di lantai. Arah mata nya tertuju pada Lea dengan tatapan sinis dan mencemooh. Sepertinya perempuan utu merasa sangat terganggu dengan kedatangan Lea karena membuat kegiatan nya terhenti di tengah jalan.
"John, Apa-apaan kamu?! Kenapa kau berselingkuh?!" Pekik Lea keras tak memperdulikan perkataan John tadi, pipinya sudah berderai air mata.
"What?! Selingkuh?! Are you kidding me?!" Tanya John menatap sinis Lea.
"Why?! mengapa kau bertanya seperti itu?!! Bukan kah sudah jelas-jelas kau berselingkuh?! Kau berhubungan se-ks dengan wanita lain, sedangkan aku kekasih mu!! Apa itu bukan selingkuh?!!" Pekik Lea menggebu-gebu. Air mata nya sedikit pun tak memiliki keinginan untuk berhenti keluar. Dan itu semakin membuat Lea terlihat semakin lemah.
"Hahahaha...!" Tiba-tiba tawa menggema di ruangan itu. "what?! Kekasih?! Hahaha..! Ternyata kau mudah sekali ditipu." Sahut John dengan nada keras.
"Aku sama sekali tak pernah menganggap mu sebagai kekasih! Aku hanya penasaran dengan tubuh indah mu! Dan aku hanya ingin bermain-main dengan mu. Dan ternyata memang tubuh indah mu itu sangat nikmat ku setu-buhi. Ah, rasanya aku ingin memakai mu lagi dan lagi." Jelas John.
Lea jelas tak bisa berkata-kata dengan penjelasan John, laki-laki yang dianggap kekasih nya ternyata hanya memanfaatkan tubuh nya untuk sekedar pelampiasan se-ks. Dia tak benar-benar mencintai nya.
Oh Tuhan! Betapa bodoh nya Lea yang sudah termakan bujuk rayu oleh kata-kata manis dari mulut bangkai John.
"Katakan bahwa itu tidak benar, John! Cepat, tarik kata-kata mu!!" Pekik Lea semakin histeris.
Elma yang sejak tadi berada di belakang kakak nya benar-benar ikut menangis dengan apa yang menimpa kakak nya. Anda sana dia tidak ingat sedang bersembunyi, sudah pasti dia akan memeluk kakak nya untuk memberi kekuatan.
"Hahaha..! Kau masih belum percaya? Apa kau ingin aku membuktikan?" Tanya John sembari mendekat ke arah Lea tanpa rasa malu, padahal tubuh nya belum menggunakan apapun.
"Aku memang awalnya sangat tertarik dengan tubuh indah mu, juga wajah cantik mu ini." Tangan John menyusuri lekuk wajah Lea yang basah karena air mata. "apalagi saat aku menggenggam da-da mu yang ukurannya lebih besar dan sintal dari wanita yang pernah ku mainkan." Tangan John sudah berada di da-da Lea yang terbungkus oleh pakaian tertutup, namun langsung di tepis oleh Lea.
"Sayang nya tubuh menarik mu ini tak membuat ku menghentikan kebiasaan buruk ku untuk menjelajahi setiap wanita, karena apa?" John mendekatkan wajah nya tepat di depan telinga Lea.
"karena kau kau sangat membosankan! Aku suka wanita yang agresif, tetapi kau hanya menerima sentuhan ku tanpa berinisiatif untuk menyerang ku lebih dulu." Kata John dengan nada tinggi setelah menjauh kan kepala nya dari telinga Lea.