
Setelah pertengkaran hebat tadi, akhirnya Arasya memilih untuk keluar dari rumah. Dia hanya ingin mendinginkan kepala untuk menenangkan diri. Pikiran nya begitu kalut memikirkan urusan nya dengan John yang tak selesai-selesai. Terlebih memikirkan harta gono-gini yang seharusnya hanya jatuh pada Arasya sesuai perjanjian pra nikah mereka berdua, tetapi karena John yang tak terima membuat nya susah mengalahkan ego dan pikiran Edo yang terlalu keras kepala.
"Hah," Arasya merebahkan kepala nya di atas ranjang seraya menghela nafas nya panjang. Kepala nya terasa berdenyut memikirkan semua permasalahan yang menimpa. Dirinya masih dibuat tak menyangka dengan kenyataan yang terjadi. Dia tak pernah membayangkan sebelum nya jika pernikahan yang dulu dia jalani dengan penuh pengorbanan akhirnya selesai dengan akhir yang buruk, dimana dia mendapati pengkhianatan dari John. Laki-laki yang begitu dia percayai hingga tak pernah terpikirkan sebelumnya kalau John sudah mengkhianati dirinya sejak awal pernikahan nya.
"Aku harus kuat, aku tidak pantas menyesali pernikahan ku dengan laki-laki brengsek seperti John. Saat ini aku harus menatap ke arah depan dan kembali menata hidup ku." Gumam Arasya yakin pada diri nya sendiri. Jika bukan dirinya yang menyemangati, maka tidak ada orang lain lagi yang bisa menjadi keluh kesah nya. Ayah serta ibu nya yang selalu dia jadikan sandaran telah tiada sebelum dia bisa mengabulkan keinginan terakhir nya untuk mendapatkan cucu. Arasya dan John memang sulit mendapatkan momongan, tetapi ternyata ada hikmah dibalik itu semua. Jika saja sekarang Arasya sudah memiliki anak, maka anak nya lah yang akan menjadi korban perpisahan kedua nya.
Mungkin belum saat nya dia mendapatkan keturunan, tetapi bukan berarti Arasya tidak akan mendapatkan anak. Semoga saja suatu saat akan ada laki-laki lain yang jauh lebih baik dari John untuk menjadi pendamping hidup nya dan memberikan keturunan untuk Arasya.
.
.
.
Tidak tahu mengapa Edo percaya diri sekali menyebut calon anak nya dengan sebutan boy, padahal belum tahu pasti jenis kelamin calon sang buah hati.
"S-sayang ... pelan pelan ..." Elma memperingati suami nya saat akan bergerak dari atas tubuh nya. Edo memang sering melakukan nya dengan agresif hingga tanpa sadar saat ini pun dia tetap melakukan dengan cepat meski sedang ada baby dalam kandungan Elma.
"Iya, sayang. Akan ku coba lakukan dengan hati-hati." Sahut nya sembari terus bergerak dengan ritme sedang di atas tubuh istri nya. Dia begitu menikmati penyatuan ini setelah tadi siang sempat membuat jadwal kunjungan untuk sang baby.
Dalam kurun waktu dua bulan ini memang Elma akan membatasi suami nya mengunjungi calon baby nya karena dikhawatirkan akan mengganggu pertumbuhan baby dikunjungi jika terlalu sering.
Dan untung saja Edo menerima permintaan sang istri Setelah diberi pilihan di jadwal arau tidak sama sekali. Akhirnya kunjungan Edo pada sang buah hati dibatasi dua hari sekali dengan tempo sedang, tidak boleh menggunakan banyak gaya dan tidak boleh terlalu lama.
Seperti saat ini, Edo dan Elma sedang menikmati percintaan yang dikomandoi oleh Edo dengan penuh kehati-hatian dan begitu menghayati permainan.