Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Pergi


"Berhenti di situ, atau aku akan membenci mu." Sahut nya lantang. Nafas Elma memburu, mata nya memerah menahan tangis, dada nya naik turun.


"Sweetheart, sebenarnya ada apa? Kenapa kau seperti ini? Bekas bibir apa maksud mu?" Edo yang masing tak mengerti dengan sikap istri nya dibuat kebingungan dan justru berbalik bertanya. Sungguh, dia tidak faham dengan maksud istri nya.


"Apa perkataan ku kurang jelas? Jelaskan kenapa ada bekas lipstik bibir di kemeja mu. Jika kau tidak bisa menjelaskan maka baiklah, kita akhiri saja pernikahan ini."


"Hei! Apa yang kau bicarakan! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengakhiri hubungan kita, kau milikku selamanya!!" Tanpa sadar Edo ikut membentak sang istri. Dia terlalu shock mendengar istri nya ingin mengakhiri pernikahan mereka yang baru berjalan beberapa bulan.


Tatapan mata nya terlihat marah, namun juga mengandung kecemasan. Dia takut jika ancaman istri nya tidak main-main.


Mendengar bentakan suaminya, semakin runtuh lah pertahanan Elma. Air mata nya mengalir begitu deras tanpa bisa dicegah.


Sudah jelas ada yang tidak beres dengan suaminya. Sebelumnya Edo tidak pernah berkata keras apalagi sampai membentak nya seperti sekarang. Hal ini benar-benar semakin memperkuat dugaan Elma jika memang Edo sedang berselingkuh dari nya.


"Hahaha...! Kau bahkan sampai membentak ku! Kira-kira siapa wanita idaman mu sampai membuat suami ku ini berubah?


Apa sebegitu spesial nya dia sampai kau membantuku?"


Seakan tersadar dari kesalahan nya, Edo nampak terkesiap karena baru menyadari telah membentak istri nya.


"Sayang, maafkan aku. Aku tadi kelepasan." Edo kembali mencoba mendekati istri nya namun segera dilarang oleh Elma.


"Stop disitu! Ku bilang jangan mendekat." Tangan Elma kembali diangkat memberi isyarat agar Edo tak melanjutkan langkah.


"Sayang, jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan baik-baik. Sebenarnya apa yang terjadi? Sungguh, aku tidak tahu apapun mengenai bekas bibir yang kau maksud." Edo mencoba tenang, membujuk istri nya dengan cara baik-baik.


Saat tak mendapati jawaban apapun dari istri nya karena masih sibuk menangis, Edo menatap ke sekeliling kamar. Saat melihat keranjang kotor yang berada di dekat pintu dengan posisi sedikit jauh darinya, Edo langsung mendekat.


Dia mengobrak-abrik isi keranjang yang berisi beberapa potong pakaian nya juga Elma, saat mendapati kemeja putih yang baru saja dia pakai saat di kantor, Edo langsung mengamati seluruh sisi bagian kain itu.


Deg.


Seketika tubuh Edo menegang di tempat nya, tenggorokan nya tercekat saat mendapati kemeja itu ternyata ada cap lipstik membentuk bibir yang begitu kentara. Pantas saja Elma menuduh nya selingkuh, ternyata ini lah yang dimaksud Istri nya.


"Sayang, inikah yang kamu maksud?"


Edo mendekati Elma dengan tenang, menatap wajah istri nya yang terlihat sembab.


Edo mendekati istri nya dan berhenti di depan nya hingga jarak mereka hanya beberapa centi.


"Akan ku jelaskan bekas ini, tapi sebelumnya tenangkan diri mu." Edo menangkap dua bahu istri nya dan menatap nya dalam.


Elma masih tampak enggan berbicara, jangan kan bicara. Menatap Edo pun tidak, dia terlalu kecewa pada Edo yang tak bisa menjaga diri, bahkan sampai ada bekas lipstik di kemeja. Yang menandakan sangat sangat dekat dengan perempuan itu.


"Sayang, tatap mata ku." Edo mengarahkan kepala Elma agar menatap diri nya hingga kini dua pasang mata itu saling bertatapan intens.


Jika Edo menatap nya teduh dan penuh permohonan, berbeda dengan Elma yang menatap Edo penuh luka.


"Sayang, in semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak pernah dekat dengan wanita mana pun apalagi berselingkuh." Jelasnya. Dia tampak menghela nafas dalam sembari menghirup oksigen agar dapat menjernihkan pikiran.


"Tidak dekat kami bilang?" Elma tampak menatap sinis suami nya. Dia benar-benar tak mempercayai suaminya begitu saja." "Tidak dekat? Bahkan bekas lipstik itu membuktikan sedekat apa interaksi mu dengan seorang wanita. Lalu kamu masih mengatakan tidak pernah dekat dengan wanita lain?" Tatapan Elma benar-benar begitu mendominasi, membuat Edo kehilangan kata-kata. "Membual!"


"Aku tidak bohong, ini hanya bekas seseorang yang kebetulan tidak sengaja bertabrakan saat berjalan. Makanya melekat di baju ku." Jawab Edo jujur. Memang benar, tadi dia tidak sengaja bertabrakan dengan Arasya saat mereka akan pergi setelah berbincang untuk menghancurkan John.


Tapi tiba-tiba saja ada seseorang di belakang Arasya yang mendorong nya hingga tubuh Arasya hampir terjatuh, untung saja Edo menangkap nya tepat waktu hingga wanita itu tak sampai terjatuh.


"Kau pikir aku bodoh yang percaya begitu saja dengan penjelasan konyol mu?" Elma tampak menggeram, menandakan dia semakin marah pada suami nya. Jelas saja dia tak percaya begitu saja karena kemeja itu tidak hanya ada bekas lipstik, tetapi juga ada aroma parfum yang sama seperti kemarin-kemarin. Hal itu tentu menumbuhkan kecurigaan besar bagi Elma.


Mungkin jika sebelumnya Elma tak pernah mencium bau parfum itu, Elma akan percaya dengan penjelasan Edo. Tapi setelah beberapa kali dia mencium aroma parfum yang sama, Elma tak akan lagi percaya. Dia bukan wanita bodoh yang mau dibohongi begitu saja dengan sang suami meski dia begitu mencintai suaminya.


"Apa maksud mu? Aku tidak bohong, aku mengatakan yang sebenarnya." Edo tampak mulai terpancing emosi karena ternyata Elma tak mempercayai begitu saja.


"Sudah ku bilang aku bukan wanita bodoh. Tidak perlu kau berbohong pada ku atau aku akan semakin membenci mu." Cara bicara Elma yang tidak bisa melembutkan intonasi suara nya semakin membuat Edo tersulut emosi.


"Aku tidak bohong! Terserah kau mau percaya atau tidak yang jelas aku tidak bohong!!" Nafas Edo terlihat memburu dengan dada nya yang bergerak naik-turun.


Mendengar bentakan Edo untuk yang kedua kali, tangisan Elma semakin pecah. Dia benci saat Edo membentaknya. Dia benci Edo berkata keras padanya.


Memang seperti itu lah wanita, hatinya lembut dan mudah tersentuh. Dia rapuh meski selalu pura-pura kuat. Wanita itu tulang rusuknya pria. Jika seorang pria ingin meluruskan tulang rusuk nya, tidak seharusnya dengan cara keras atau kasar. Karena itu justru akan mematahkan tulang nya, bukan meluruskan. Maka bersikap lembut lah wanita, jika memang wanita nya yang keras maka tidak seharusnya melawan dengan kekerasan pula. Karena terkadang, wanita berkata keras atau bahkan mungkin sifatnya keras kepala, itu hanya ingin menunjukkan sikap nya agar tidak terlihat rapuh walau kenyataan nya wanita memang lah rapuh.


"Akkhh..! Sudahlah! Aku tidak ingin berdebat lagi. Aku lelah, aku mau tidur!"


Dan di detik itu pula, Edo berjalan ke tempat tidur dan benar-benar memposisikan diri untuk tidur.


Melihat kelakuan suaminya, Elma semakin menangis. Hatinya tak sekuat itu, dia memutuskan berjalan keluar kamar menuju kamar tamu. Dia sedang tak ingin berada se ruangan dengan suaminya.


Setelah sampai di kamar tamu yang berada di dekat ruang keluarga, Elma segera mengunci pintu rapat-rapat. Dia menangis histeris sembari memukul-mukul dadanya untuk menghilangkan rasa sesak yang menggerogoti rongga dada nya.


Dia benar-benar tak menyangka Edo akan bersikap seperti ini. Rasa sakit itu semakin bertambah ketika melihat bagaimana sikap Edo terhadap nya, bukan nya menjelaskan kesalahpahaman ini, atau membujuk nya, tetapi Edo seakan bersikap bodo amat dan lebih memilih tidur.


Terlalu lama menangis membuat Elma merasa pusing yang hebat, dia memijat kepala nya yang tak memberikan efek apapun.


Lalu dia berjalan ke dapur untuk mencari obat pereda pusing kepala, saat dirinya sudah berada di dapur dan akan meminum, dia terinspirasi satu hal. Dia sedang hamil! Elma tampak mengusap perut nya dengan air mata yang kembali turun. Dia membaca dengan saksama tulisan di bungkus obat itu yang ternyata tidak baik untuk ibu hamil. Setelah memastikan hal itu, Elma memilih membuang nya. Dia lebih memilih pusing yang teramat itu dia nikmati daripada membahayakan anak nya.


Saat akan kembali ke kamar, bel pintu berbunyi. Elma bertanya-tanya, kira-kira siapa yang datang ke apartemen nya. Sebenernya Elma enggan sekali membuka pintu, terlebih dua baru saja menangis hebat yang dapat dia yakini saat ini wajah nya sudah seperti monster. Tetapi demi menghilangkan rasa penasaran, Elma memutuskan membuka pintu karena tak mungkin Edo mau membuka nya.


Saat pintu itu terbuka, Elma tak mendapati siapa pun di sana. Hanya ada satu kotak kecil di depan pintu. Elma tampak menatap ke arah kanan kiri, tetapi tak ada siapapun di sana. Lalu dia memutuskan menggambil kotak itu meski penuh keraguan karena sebelumnya dia tak pernah memesan paket apapun. Mungkin ini paket yang yang dipesan Edo. Batinnya.


Setelah menutup pintu dan tak lupa mengunci, Elma memutuskan membuka kotak itu. Dia begitu penasaran dengan kotak yang dibungkus indah dengan beberapa pita menghias wadah nya yang terlihat semakin menarik.


Elma tampak menegang, seluruh tubuh nya seakan kaku tak bisa digerakkan. Dadanya bergemuruh hebat. Ternyata apa yang ditakutkan diri nya benar adanya! air mata yang baru berhenti beberapa menit kembali luruh begitu deras.


"Penghianat. Kau sangat tega pada ku Edo." Gumam nya lirih. Dia menggeleng-gelengkan kepala nya beberapa kali seakan-akan tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


Namun disaat itu pula dia sadar bahwa semua ini nyata. Kejadian buruk ini benar adanya, dia sedang tidak bermimpi!


Elma sudah tidak kuat lagi, dia tidak kuat hidup bersama dengan seorang pengkhianat. Dia tak sudi tinggal bersama seorang yang telah menyakiti nya sedalam ini..


Elma memutuskan untuk pergi. Ya, di detik ini juga dia akan melangkahkan kaki untuk keluar dari apartemen ini. Bukan hanya dari apartemen, tapi dia tidak akan lagi hidup dengan suaminya. Dia akan mencari kehidupan baru tanpa suaminya.


"Selamat tinggal, Edo. Terimakasih untuk semua kenangan manis yang kau berikan. Dan terima kasih juga untuk semua luka yang kau torehkan." Dan di detik itu pula, Elma benar-benar melangkahkan kaki dari istana nya tanpa membawa sehelai kain pun kecuali yang melekat di badan.