Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Bab. 63 Ajuan Gugatan Cerai


MENGANDUNG UNSUR DEWASA. SIAPAPUN YANG TIDAK MENGINGINKAN BACAAN DEWASA HARAP SKIP.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Edo menggiring istri nya menuju kamar tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Tangan Edo bahkan tak bisa dikondisikan lagi, dia meraih dua benda favorit nya itu lalu tak henti-hentinya memainkan sesuka nya. Hal itu berhasil membuat Elma terus-terusan mendes ah tertahan karena ciuman mereka.


Brakk.


Edo membuka pintu kamar lalu menutup nya dengan kaki kanan. Dia sudah tidak tahan lagi dan ingin segera mengeksekusi istri nya. Dengan cepat Edo menggiring istri nya mendekati ranjang lalu menggulingkan tubuh wanita nya ke sana.


"Edo ... " Nafas Elma tersengal-sengal diiringi desaahan saat Edo menurunkan ciuman nya ke leher jenjang istri nya. Seakan-akan tuli dengan panggilan istri nya, Edo kembali melancarkan aksinya dengan terus menelusuri leher jenjang itu hingga lama-lama turun ke tulang selangka lalu berakhir di dua bulatan kenyal yang tampak tegak dan terdapat bulatan kecil di puncak nya setelah dia berhasil merobek kain tipis yang membalut tubuh istri nya.


Edo tampak memandangi benda itu dengan tatapan mendamba, walau tubuh wanita nya sudah sering dia nikmati tapi dia tetap tidak bosan melihat setiap lekuk tubuh istri nya.


"Sshh ... Edo ..." Tubuh Elma menggeliat tak karuan saat Edo menggigit kecil salah satu bulatan warna merah muda da da nya, bahkan dia mendesis nikmat kala satu da da nya lagi di mainkan Edo menggunakan tangan.


Tak kuasa mendengar suara merdu istri nya, Edo melahap habis benda kenyal itu dengan rakus, satu benda lagi dia mainkan dengan tangan nya kuat-kuat hingga menimbulkan sensasi yang sangat luar biasa. Elma tak berhenti mendesis serta mendesaah dan menyebut nama suaminya. Dia menyukai sensasi ini, dia sangat menyukai sensasi yang dibuat suami nya dan ingin terus-terusan melakukan nya. Entah kenapa selama beberapa hari ini dai memang selalu ingin bercinta. Seperti nya hormon estrogen Elma meningkat berkali-kali lipat. Padahal biasanya Edo lah yang selalu bergair ah, tapi sekarang Elma pun selalu bergai rah dan begitu mendambakan sentuhan suami nya.


"Aku mulai, sayang." Edo berbisik tepat di atas telinga istri nya dengan nafas memburu. Sepertinya dua manusia itu sudah sama-sama tidak sabar ingin segera meraih kenikmatan yang tiada tara.


Dengan cekatan Edo menanggalkan kain demi kain yang melekat di tubuh nya, Elma yang tak ingin tinggal diam ikut membantu melepaskan ikat pinggang lalu membuka resleting celana bahan warna senada dengan jas suami nya.


Saat semua kain sudah terlepas, Elma memandangi senjata suami nya yang sudah tegak berdiri dan sangat besar. Tak puas hanya dengan memandang, tangan nya terulur menyentuh benda besar itu. Tangan Elma yang terasa dingin saat menyentuh benda itu membuat Edo mendesis nikmat terlebih saat Elma sedikit memberi re masan pada benda itu.


Mata Edo terpejam mendongak ke atas dengan wajah sudah memerah, bibir nya tak berhenti mendesis dan menyuruh Elma semakin cepat memijat benda itu.


"Sayang, aku sudah tidak kuat." Edo berkata dengan suara serak nya, lalu tangan nya beralih merobek kain yang melekat ditubuh istri nya. Hingga terpampang lah kain segitiga yang menutupi area inti nya dengan tali kecil yang menyangga kain itu. Edo yang memang sudah di sangat tidak tahan langsung merobek paksa kain kecil itu, dia menatap lapar inti istri nya saat kedua tangan nya melebarkan kaki sang istri.


Saat wajah nya hampir dia benamkan di sana, tiba-tiba ponsel nya yang berada di saku jas yang sudah tercecer di lantai itu berbunyi.


Dalam hati dia mengumpat kesal karena mengganggu konsentrasi nya. Tetapi dia berusaha untuk tidak terganggu dan melanjutkan aksi nya. Saat dia ingin kembali fokus, ponsel itu kembali berbunyi. Membuat Elma diam-diam terkekeh dalam hati, ya, hanya dalam hati. Karena dia tak mungkin berani menertawakan suami nya jika tak ingin mood nya hilang melakukan sesi yang sudah dia tunggu-tunggu.


Dan untuk ketiga kalinya, ponsel itu kembali berbunyi.


"Damn!" Walau Edo mengumpat, tetapi dia tetap mengambil ponsel itu dengan hati dongkol.


"..."


"Hanya karena itu kau menelepon ku dan mengganggu acara ku?" Edo tampak menggeram kesal karena ternyata Leo hanya memberikan informasi tentang John yang katanya istrinya sudah mengajukan gugatan di pengadilan. "ck! mengganggu waktu ku saja! Bulan ini gaji mu ku potong 50%!"


Tutt.


Edo menutup panggilan itu sepihak lalu melempar ponsel itu ke samping ranjang.


Saat menatap istri nya yang sedang tersenyum berhasil membuat mood nya kembali baik. Lalu dia kembali mencium bibir istri nya penuh gai rah. Tak sampai disitu saja, tangan nya sudah meraih benda favorit nya lalu tanpa sepengetahuan Elma, Edo sudah mengarah kan milik nya pada inti nya.


Jlepp.


Satu kali hentakan Edo lakukan namun tak berhasil membenamkan seluruh senjata nya pada inti sang istri. Lalu dia kembali menghentakkan satu kali lagi hingga senjata nya terbenam sempurna. Dan kegiatan itu berhasil membuat wanita nya tersentak namun terasa begitu nikmat.


Edo mulai menggerakkan tubuh nya dengan tempo sedang, namun lama kelamaan gerakan nya semakin liar. Elma tak henti hentinya menyebut nama istri nya dengan suara desaahan indah mengisi ruangan.


Bukan hanya Elma, Edo pun ikut menyebut nama istri nya. Dia terlalu menikmati rasa ini dan begitu memuja istri nya karena rasanya masih sama seperti saat pertama kali dia melakukan nya.


Dua insan itu seakan lupa waktu, lupa tempat dan lupa segalanya karena yang mereka ingat hanya lah sesi percintaan indah yang mereka rasakan.


Setelah hampir dua puluh menit akhirnya mereka mencapai kepuasan yang pertama, namun itu tidak bisa disebut kepuasan. Karena buktinya dua-duanya belum ada yang merasa puas. Kini gantian Elma yang meminta di posisi atas. Mereka kembali melakukan nya dengan posisi ini, nun saat akan kembali meraih puncak Edo langsung menggulingkan istri nya dengan posisi tengkurap dan memasuki nya dari belakang.


Gerakan Edo dibuat menggila, hingga membuat suara Elma semakin nyaring. Dia sangat memuja suami nya yang sangat memuaskan dirinya.


Tangan Edo tak dia biarkan menganggur begitu saja, dia meraih dua benda favorit nya yang menggelantung bebas dan bergerak ke sana kemari sesuai irama yang buat.


Siksaan Elma semakin bertambah kala Edo memainkan benda itu. Hal itu semakin membuat Elma senang karena merasakan sensasi yang begitu luar biasa dan begitu puas dengan permainan suami nya.


...👑👑👑...


Sengaja antara judul dan bacaan tidak sesuai agar lolos review.🙈