Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Kebahagiaan


"Akhirnya kita memiliki status baru, sayang. Kau sudah resmi menjadi milikku dan aku berhak melakukan apapun pada mu, sayang." Gumam Edo dalam hati di sela-sela ciu man nya diiringi dengan seringai tipis di wajah nya.


Dan tanpa komando tanpa aba-aba, aksi Edo kembali menghebohkan seluruh tamu undangan saat dirinya mengangkat Elma ala bridal style. Kali ini Elma sudah tak lagi bisa menunjukan wajah nya dihadapan orang-orang. Terlalu malu rasanya hingga yang bisa dia lakukan adalah bersembunyi di balik dada bidang Edo.


"Woah...! Tuan muda Lincoln ternyata sudah tidak sabar menunggu sampai nanti malam." Seloroh salah salah satu tamu yang diyakini rekan kerja Tuan Lincoln.


Semua orang tertawa mendengar nya, tak terkecuali kedua orang tua Edo yang merasa de ja vu akan tingkah putra nya. Dulu, saat pernikahan mereka pun Tuan Lincoln melakukan hal yang sama. Baru saja selesai melakukan janji suci, Tuan Lincoln langsung membawa istri nya menuju kamar. Mengingat kenangan  itu, seketika pipi mama Edo memerah seperti kepiting rebus.


Semua orang pun merasakan bahagia setelah menyaksikan bersatu nya dua manusia itu. Bahkan mami Elma sejak tadi terus meneteskan air mata, merasa bahagia sekaligus sedih. Dia bahagia karena pada akhirnya putri nya menemukan cinta sejati, menemukan sandaran untuk hidup nya yang sulit. Tetapi tak dapat dipungkiri bahwa dia juga merasa sangat sedih, karena di hari bahagia putri nya tak ada orang yang menemani kecuali diri nya. Dia teringat mendiang suami dan kakak Elma. Andai keluarga nya masih utuh, andai saja tuhan tak memberikan umur se-pendek itu untuk dua suami dan putri sulung nya mungkin kebahagiaan nya sangat sempurna.


Tapi apa mau di kata, segala yang ada di dunia ini hanya lah titipan, dan kapan pun sang maha pemilik mengambil nya kita harus ikhlas karena sejatinya kita tak memiliki hak apapun atas nya kecuali menjaga apa yang di titipkan tuhan untuk kita.


So, sebenarnya prinsip hidup yang paling simpel adalah jangan pernah merasa memiliki jika tak ingin kehilangan, karena jika kita merasa memiliki maka sudah pasti akan merasa untuk kehilangan jika sudah waktu nya. Seperti layak nya tukang parkir yang tak pernah merasa memiliki walau banyak orang menitipkan mobil se mewah apapu n. Dan saat pemilik itu mengambil nya, dengan ikhlas hati tukang parkir itu membiarkan begitu saja tanpa linangan aira mata atau bahkan menahan nya. Eh!


"Semoga kau selalu bahagia, sayang. Putri kecil ku sudah tumbuh dewasa. Semoga tuhan selalu memberkati mu. Maafkan mami yang tak bisa mewujudkan segala keinginan mu hingga kau bekerja keras sendiri untuk mewujudkan nya. Sudah waktu nya kau bahagia, semoga tak ada lagi air mata yang mengalir saat menjelang tidur mu. Meski bukan mami yang menjadi sebab kau bahagia, tapi mami ikut bahagia jika kau bahagia, putri kecil ku." Lagi-lagi mami  Aline tak kuasa menahan air mata yang langsung di hapus kasar agar tak di lihat orang-orang.


Ada secuil rasa tak rela melepaskan putri nya, tapi percayalah rasa ini adalah bukti betapa cinta sang mami pada putri nya.


Tanpa sadar Friska meremas kuat gelas yang sedang di pegang hingga buku-buka jari nya memutih. "Baby, are you okey?" Glenn yang sejak tadi berada di samping kekasih nya merasa aneh melihat tingkah sang kekasih yang menatap pergerakan Edo meninggalkan ruangan itu seraya  menahan amarah.


"Hm, Im okay." Sahut nya tersenyum manis, bertolak belakang dengan hati nya yang sedang berkobar-kobar karena amarah.


"Kenapa kau terlihat gelisah?" Glenn masih tak percaya  begitu saja dengan jawaban kekasih nya.


"A-aku ingin kamu." Seketika Glenn mengembangkan senyum nya mendengar pernyataan Friska, karena hampir dua minggu mereka tak melakukn hubungan sebab kedua nya sama-sama sibuk dan jarang bertemu.


"Are you serious?" Mata nya berbinar-binar cerah. Seakan mendapatkan berlian berharga.


"Of course..!" Sahut nya yakin. Ya, memang Friska menginginkan saat ini berhubungan dengan laki-laki lalu saat melakukan nya dia akan membayangkan laki-laki itu adalah sosok Edo seperti biasa.


Dan tanpa menunggu waktu lagi mereka bergegas meninggalkan tempat itu dan mencari hotel terdekat.