Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Tidak Bisa Melupakan Begitu Saja


Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan mami Aline, dokter Edo kembali ke ruangan. Dia sudah memberikan rekomendasi pada mami Aline agar berobat ke Singapura, bukan berarti di Indonesia tidak baik. Tetapi memang untuk operasi jantung sendiri dokter Edo lebih menyarankan agar di bawa ke Singapura dengan semua biaya ditanggung dokter Edo.


Tentu saja hal itu sangat membuat memi Aline terkejut, karena yang dia tahu operasi jantung tidak lah murah. Tetapi dokter Edo justru membiayainya secara cuma-cuma.


Dokter Edo bahkan hanya beralaskan bahwa dia menganggap mami Aline seperti kakaknya sendiri. Dulu memang dokter Edo memiliki kakak perempuan yang menderita penyakit jantung, saat dulu harta yang dimiliki orang tua Edo belum seberapa hingga mereka kesusahan untuk membiayai putri sulungnya. Juga tak memiliki kartu jaminan kesehatan dari pemerintah sehingga tak ada bantuan sedikitpun untuk berobat. Hingga akhirnya kakak Edo meninggal dunia sebelum mendapatkan pengobatan.


Dan setelah kejadian itu, saat orang tua Edo berhasil dan sukses dalam menjalankan bisnisnya, mereka juga membangun sebuah rumah sakit besar dengan biaya terjangkau untuk kalangan kelas menengah kebawah karena mereka masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya tak bisa membiayai keluarga nya yang sakit parah, hingga akhirnya memilih didiamkan di rumah karena tak memiliki uang.


Dokter Edo pun bahkan sampai meneteskan air mata saat menceritakan nya, dan saat itu lah Elma percaya bahwa apa yang dikatakan dokter Edo kenyataan. Karena dilihat dari sorot matanya tak menunjukkan kebohongan.


Mami Aline pun ga kuasa ikut meneteskan air mata, mereka sama-sama merasakan bagaimana sakit hatinya orang tua Edo saat kehilangan kakak nya akibat tak memiliki biaya untuk berobat.


Bahkan dokter Edo sampai memutuskan untuk menjadi seorang dokter spesialis jantung hanya karena terlalu menyayangi sosok kakaknya. Berharap tidak akan ada lagi korban-korban seperti kakaknya.


.


.


.


Di Apartemen.


Edo dan Elma sudah kembali ke apartemen setelah seharian penuh mereka menghabiskan waktunya dengan kesibukan masing-masing.


Eso sibuk dengan beberapa pasien nya, sedangkan Elma sibuk mengurusi sang Mami. Membuat mereka tak bisa bertemu meski di jam istirahat sekalipun.


Dan saat ini, kondisi Edo banar-benar sangat lelah, lebih lelah dari hari sebelumnya.


Pluk.


Edo melempar jas putihnya asal hingga tanpa sengaja tepat mengenai wajah Elma.


"Oh, ya ampun. Ku kira tak ada orang. Sorry, nggak sengaja." Edo segera meminta maaf sembari mendekati Elma setelah berbalik badan dan menyadari jas yang dilempar nya mengenai wajah Elma.


Sedangkan Elma hanya menatap Edo tanoa suara dengan tatapan kesal. Ingin rasanya dia mengumpat pada Edo, tetapi umpatan itu hanya sebatas niat mengingat Elma yang percaya bahwa Edo memiliki kemapuan telepati dan pastinya akan tahu jika dia mengumpat kembali.


Edo yang menyadari Elma kesal, hanya mampu terkekeh sembari mengambil kembali jas yang sedang di pegang Elma setelah menurunkan jas itu dari kepalanya.


"Sorry, aku benar-benar nggak sengaja." Tutur Edo sembari menatap lembut Elma.


Elma yang ditatap seperti itu tentu saja merasa salah tingkah. Dia berusaha memandang ke sembarang arah asal tidak memandang ke arah Edo.


"Sekarang lebih baik kau siapkan aku air hangat untuk mandi."


Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Elma menurut begitu saja setelah mendapatkan usapan tangan Edo di kepalanya.


Setelah selesai menyiapkan air, Elma kembali masuk ke kamar untuk memanggil Edo. Perhatian Elma tak dapat dialihkan saat melihat pemandangan di depannya. Baru saja membuka pintu kamar, tiba-tiba dia mendapat suguhan perut sixpack dengan otot-otot tangan yang menonjol membuat Elma benar-benar khilaf dan ingin sekali merabanya.


"Terpesona, hm?"


Elma kembali ke alam sadar setelah mendengar suara berat Edo yang terkesan begitu congkak dan membanggakan diri.


"Ti-tidak." Tentu saja Elma menampiknya karena memang dia tidak terpesona, itu lah kata hatinya yang berusaha mengelak.


"Air nya sudah siap, segera lah mandi atau nanti airnya akan semakin dingin."


"Mandikan." Perintah Edo tanpa mengalihkan tatapannya sejak tadi.Doa sangat menikmati wajah Elma yang terlihat malu sedang gerakan-gerakan salah tingkah nya. Benar-benar membuat Edo merasa terhibur, bahkan ingin sekali tertawa.


"Kau bukan bayi yang harus ku mandikan." Sahut Elma masih setia menatap ke arah lain.


"Apa jika aku bayi kau mau memandikan ku?"


"Tentu saja, sayangnya kau bukan bayi." Sahut Elma dengan nada ketus.


"Kalau begitu anggaplah aku bayi besar mu." Putus Edo dengan senyum kemenangan.


"What?! Mana bisa begitu?!" Tanya nya bersungut-sungut.


"Bisa, dan ini perintah. Jika kau menolaknya maka-"


"Tanda tangan kontrak kita batal." Elma lebih dulu menyahuti karena dia hafal betul dengan kalimat ancaman itu.


"Bagus, itu kau tahu." Edo terkekeh geli mendengar Elma memotong perkataan nya.


"Kalau begitu, cepat lakukan tugas mu." Edo memerintah seraya melangkahkan kaki ke kamar mandi dengan Elma yang membuntuti di belakang nya.


Elma tersentak dan menjerit begitu keras saat tiba-tiba Edo melorotkan handuk yang berada di pinggangnya hingga tubuh eso saat ini benar-benar polos seperti bayi.


"Berisik! Tidak perlu berpura-pura kaget, karena aku tahu kau pasti senang bisa melihat semua tubuh ku. Dan cepat lakukan saja tugas mu."


Edo berjalan santai menuju bathub tanpa mempedulikan Elma yang masih begitu shock seperti terkena serangan jantung.


Setelah bisa menenangkan diri, Elma mengikuti langkah Edo. Dia mulai melakukan tugas nya, mulai dari membasahi seluruh tubuh, memberi shampoo lalu sedikit memberi pijatan di kepalanya. Setelah itu dia membersihkan seluruh tubuh dengan sabun.


Saat semua tubuh bagian atas selesai, Elma kembali dibuat ragu saat melihat ke bawah. Dia benar-benar tak berani menyentuh nya.


"Kenapa diam? Cepat lanjutkan!" Tekan Edo tak sabaran dengan nada memerintah.


"A-apa aku harus membersihkan bagian itu?" Tanya Elma hati-hati dengan wajah memerah karena malu.


Sungguh demi ayam jantan yang tak akan pernah bertelur, Elma benar-benar ingin sekali menenggelamkan dirinya di lubang semut karena malu.


"Itu apa, hm?" Tanya Edo dengan seringai licik di wajahnya.


Edo semakin gencar menggodanya saat melihat wajah Elma. Dia bahkan semakin senang ingin menggodanya lagi dan lagi.


"Sudahlah, lupakan saja." Elma kembali memalingkan wajahnya, dia tak mau menatap wajah Edo yang menurutnya begitu menyebalkan.


"Tapi aku tidak bisa melupakan begitu saja. Katakan itu apa, hm?"


Tangan Edo meraih satu tangan Elma lalu menuntun nya ke tubuh bagian bawah.


"Apa yang kau maksud itu, adalah benda ini?" Bisik Edo sembari menghembuskan nafasnya tepat di leher jenjang Elma.