Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Penjelasan Edo


Baru saja membuka mata, Elma sudah dikagetkan oleh suara bariton laki-laki yang ada dihadapannya.


"Sudah bangun?" Tanya nya sembari mengamati wajah polos Elma khas bangun tidur.


"Emm ...," Elma hanya bergumam, dia masih berusaha mengumpulkan nyawa sembari mengingat-ingat kegiatan semalam yang membuat sekujur tubuh nya terasa begitu lelah.


"Biar ku bantu," Dengan sigap Edo membantu Elma yang berusaha bangkit dari pembaringan.


"Isshh ... aku tidak sakit, kenapa kau memperlakukan ku seperti orang sakit?" Sungut Elma tapi tak juga menolak bantuan Edo.


Edo hanya bersikap datar seperti biasa, namun matanya menatap Elma dengan tatapan sendu. Tatapan Elma pun berubah menjadi lembut setelah tadi sempat kesal padanya karena perbuatannya semalam yang menghajar Elma tanpa henti.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Elma yang ditatap intens membuat nya salah tingkah hingga dia sendiri yang memutuskan kontak mata karena merasa malu.


Edo yang ditanya hanya terkekeh sesaat lalu terdiam dan kembali menatap Elma lekat-lekat.


"Kau kenapa?" Tanya Elma sembari memalingkan wajah.


"Apa kau ingin menggoda ku, hm?" Tanya Edo dengan seringai tengil nya.


Elma yang baru menyadari ada yang tidak beres dengan tatapan Edo, matanya langsung menatap kearah tubuh nya.


"Aaaaaaa...!!" Elma memekik kaget saat menyadari tubuhnya tak memakai sehelai benang pun, dan saat ini tubuh bagian depan nya terpampang jelas dihadapan Edo.


Refleks Elma menarik selimut hingga sebatas da da untuk menutupi bagian sensitif nya.


Edo jelas tertawa terbahak-bahak melihat tingkah gadis yang dijuluki kucing kecil nya.


Padahal sejak tadi Edo tak benar-benar melihat area tubuh Elma karena ada hal yang lebih penting hingga membuat nya tak berselera meski melihat santapan lezat nya itu.


Sejak tadi Edo sedang memikirkan bagaimana bila Elma tak mau ikut kepindahan nya ke Las Vegas, tentu saja Edo akan sangat merindukan nya. Tubuh Elma bahkan sudah menjadi candu untuk nya, lalu bagaimana mungkin dia bisa tidak berpisah dari kucing kecil nya itu?


"Kenapa kau tertawa seperti itu?" Elma pura-pura bertanya sembari memasang wajah biasa saja untuk menutupi rasa malu nya.


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau masih saja malu? Bahkan aku sudah memegang seluruh inchi bagian tubuh mu. Aku bahkan mengingat tanda lahir mu yang berada di bagian bawah da da sebelah kiri." Tanya Edo dengan seringai licik di wajahnya.


Rasanya Elma ingin sekali bersembunyi di lubang semut saat ini juga, wajah nya bahkan memanas karena malu. Kali ini dia benar-benar tak berani menatap wajah tampan Edo yang juga sudah berpakaian sangat rapi.


Dia tak habis pikir dengan penglihatan Edo, bagaimana mungkin dia bisa sedetail itu?


Bahkan ukuran tahu lalat yang ada di bawah da da nya berukuran sangat kecil, tapi Edo bisa melihat nya.


"S-sudah lah, sebaiknya kau pergi. Aku akan segera mandi." Elma yang bersiap ingin bangkit dari tempat tidur langsung di cegah oleh Edo.


"Sebentar, ada yang ingin ku bicarakan pada mu." Wajah Edo berubah serius dengan tatapan sulit diartikan.


"Hari ini, kita akan pindah ke Las Vegas." Sahut nya dengan nada bicara lirih.


"What? Kenapa harus pindah? Kalau begitu kau saja yang ke sana. Aku disini saja menjaga mami."


Tentu saja Elma tak setuju dengan keputusan Edo, karena memang fokus nya saat hanya lah menjaga sang mami.


"Dengarkan penjelasan ku dulu." Cegah Edo lagi, dia memegang pergelangan tangan Elma yang hendak bangkit dari duduknya. "kau tidak perlu mengkhawatirkan Tante Aline karena aku sudah mengatur nya agar dirawat di Singapura dengan di temani beberapa perawat serta dijaga beberapa orang kepercayaan ku." Jelasnya dengan tatapan sendu.


Sungguh, Edo sangat berharap Elma akan menyetujui hal itu setelah mendengar penjelasan nya.


"Memang nya kenapa kita harus pindah ke sana?" Elma begitu penasaran dengan masalah yang dihadapi Edo saat ini yang sepertinya memang sedang ada masalah besar.


Edo menghela nafasnya panjang sebelum memberikan penjelasan.


"Kau tau rumah sakit tempat kerjaku?" Tanya Edo menatap lamat-lamat wajah Elma sembari memegang kedua bahu nya.


"Ya, bukannya rumah sakit itu milik keluarga mu? Memangnya ada apa dengan rumah sakit itu?" Elma semakin penasaran akan masalah yang Edo hadapi saat ini.


"Ya, kau benar. Sebelumnya ayah memang memiliki saham 30% di perusahaan KMS (Keluarga Mitra Sejahtera) yang bekerja di bidang rumah sakit. Bukan hanya rumah sakit disini, tapi di seluruh kota di negara ini di bawah perusahaan KMS. Tapi sekarang sudah tidak lagi." Tatapan Edo menerawang jauh. Elma bisa melihat ada guratan kesedihan di wajah Edo saat ini. "dan itu karena disebabkan oleh ku." Lanjutnya dengan suara lirih.


"Memangnya kenapa?" Elma jelas kaget mendengar penjelasan itu. Karena dia semakin tak tahu apa penyebabnya hingga rumah sakit itu dalam sekejap sudah berpindah tangan.


"Aku menolak dijodohkan dari putri teman ayah. Bukan hanya teman, beliau juga orang yang menyokong kehidupan kami sejak awal. Hingga kami memiliki saham rumah sakit sebesar itu pun tak luput dari campur tangan Pak Raharja." Jelas dari perkataan nya, Edo begitu menyalahkan diri sendiri. Dia bahkan sangat tidak percaya diri saat mengatakan nya.


"Memangnya apa hubungannya dengan hal itu?" Elma semakin tak mengerti dengan penjelasan Edo karena menurut nya tak ada sangkut pautnya.


"Saham ayah di perusahaan KMS dicabut karena memang sebelumnya pak Raharja lah yang menanamkan saham atas nama ayah. Jadi, jika ayah tak bisa mengembalikan uang yang sudah Tuan Raharja berikan, maka otomatis hak kepemilikan ayah dicabut dan digantikan oleh putrinya bernama Friska."


"Kenapa bisa begitu? Bukankah kepemilikan saham tak bisa diambil alih kecuali atas dasar kesepakatan kedua belah pihak?" Jiwa kepo Elma semakin meronta mendengar penjelasan Edo yang hanya setengah-setengah.


"Ah, sudah lah. Pusing bicara dengan mu. Lebih baik sekarang kau mandi lalu segera bersiap."


"Tunggu dulu, aku kan belum menyetujui ikut pindah dengan mu?" Protes nya.


"Aku tidak membutuhkan jawaban mu, karena mau tidak mau kau harus tetap bersama ku." Tegasnya dengan suara berat.


"Issh ... dasar pemaksa!" Ketusnya. Elma langsung bangkit dari duduk untuk bersiap ke kamar mandi.


Baru saja kaki nya ingin menyentuh lantai, bagian bawah sana terasa nyeri hingga membuat nya meringis.


Edo yang menyadari wanita nya menahan sakit dengan sigap langsung menggendong nya ala bridal style hingga ke kamar mandi dan mendudukkan nya di bathub.