Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas

Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
Rencana John & Siasat Edo


"Aku tidak akan membiarkan harta ku dibawa wanita sialan itu!"


"Tidak, itu tidak akan pernah terjadi!" John mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tak akan menyerah begitu saja, dia tak akan rela membiarkan hartanya di bawa Arasya. Meski tahu perjanjian itu, tapi John akan berusaha melenyapkan nya. Enak saja! dia bahkan setiap hari pergi ke kantor, walau pada akhirnya dia hanya akan bercinta di kantor tapi tetap saja, niat awalnya adalah bekerja. Lalu bagaimana mungkin dia membiarkan jerih payahnya selama ini tidak membuahkan hasil. Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi.


Ikhlas ikhlas saja jika dia harus bercerai dengan Arasya. Lagian dia sudah cukup bosan dengan wanita itu, lalu apa yang harus dia pertahankan?


Masih banyak wanita di dunia ini yang menginginkan nya, bahkan jika setiap harinya harus bergonta-ganti wanita hingga sepuluh kali pun John masih mampu mencari asalkan ada cuan.


Benda paling berharga di dunia ini hanyalah uang, dengan uang dia akan mendapatkan segala nya. Lalu mana mungkin dia menyesal hanya bercerai dengan Arasya?


John sedikit mengatur nafasnya lalu memikirkan cara agar bisa melenyapkan bukti kesepakatan itu.


Seketika ide brilian muncul, tangan nya segera mengambil ponsel yang berada di meja kebesaran lalu mengotak-atik mencari nomor seseorang yang sudah dia simpan.


Do detik berikutnya panggilan itu tersambung.


"Segera lenyap kan bukti perjanjian nikah sialan itu!"


"..."


"Aku tidak mau tahu! Bagaimana pun caranya kau harus bisa melenyapkan nya! Kalau kau tak bisa, maka bunuh saja Arasya!"


Tutt..


Dengan nafas memburu John mematikan ponselnya sepihak. Wajahnya memerah, tatapan matanya menerawang jauh namun penuh amarah.


"Apapun akan ku lakukan demi harta ku. Siall! baru ku sadari ternyata wanita itu sangat licik."


.


.


.


Di tempat lain, Edo baru saja mendapatkan kabar dari mata-matanya yang mengatakan John akan melenyapkan Arasya segera mencari beberapa bodyguard agar bisa melindungi Arasya dari jarak jauh.


Bukan karena Edo peduli, tetapi bila Edo membiarkan begitu saja John yang akan melenyapkan Arasya, maka itu artinya dia akan mengalami kekalahan dan harus turun tangan untuk menghancurkan John.


John meraih ponsel nya yang berada di saku celana. Saat ini dia sedang berada di balkon kamar, menikmati pemandangan jalanan sore hari. Seharian ini dia tak pergi kemana pun setelah perdebatan kecil tadi pagi saat dia membuatkan sarapan untuk sang istri yang ternyata hasil jerih payahnya tak di hargai sedikit pun oleh sang istri.


Bukan kemauan Elma tak mau memakan masakan perdana sang suami. Tetapi baby nya benar-benar tak ingin memakan nya. Bahkan dia sudah mencoba tiga kali tapi tetap saja dia tak bisa.


Hingga akhirnya Edo ngambek besar karena sikap sang istri. Sampai sore ini Edo masih dalam keadaan merajuk. Dia lebih memilih menghabiskan waktu nya di balkon kamar dibanding menikmati masakan istri nya yang sangat enak. Padahal, sebenarnya dia sudah merasa kelaparan dan sangat tergiur mencium bau masakan istri nya yang tak pernah gagal di lidah nya.


Ponsel Edo lebih dulu berbunyi, padahal tadi niatnya mengambil ponsel ingin menghubungi seseorang.


"Halo."


"Aku sudah mendapatkan beberapa bodyguard yang akan mengawasi Arasya."


"Ya, kau harus gerak cepat! Jangan pernah membiarkan Arasya pergi tanpa diawasi kalian."


"Apa tak sebaiknya kita bicara pada Arasya saja? Takutnya, jika kau melakukan hal ini sendirian justru akan menjadi masalah untuk mu. Walau bagaimanapun, kau tak memiliki hak apapun atas nya. Dan lagi..."


"Sudahlah! Aku tak butuh ceramah mu. Lakukan saja apa yang ku perintah kan dan jangan sampai lengah."


Laki-laki yang berada di seberang telepon hanya bisa menghela nafas pasrah. Padahal ketakutan nya begitu besar. Dia benar-benar mengkhawatirkan Edo. Bukan karena takut Edo akan mendapatkan musuh. Dia justru lebih takut terjadi kesalahpahaman dengan rumah tangga nya.


Bahkan di keras kepala itu benar-benar sudah tak bisa di lunakan sedikit pun. Asisten pribadi Edo ini sudah mengingatkan agar sebaiknya dia ceritakan semuanya pada Elma, tetapi dengan keras Edo mengatakan tak ingin menceritakan masalah apapun pada sang istri agar tak mengganggu kehamilan nya.


Padahal, jika Edo tak mau terbuka dan berbagi masalah justru akan membuat mereka dalam masalah. Tetapi ya sudahlah! Yang penting Si Leo asisten pribadi Edo itu sudah berbaik hati memberikan saran agung untuk bos nya.


Tidak masalah jika tak di dengarkan, jika terjadi sesuatu antara Elma dan Edo maka dia hanya perlu menertawakan hal itu.


"Sayang, makan dulu..."


Seketika Edo membalikkan badan menatap sang istri yang berada di pintu balkon.


"Ya, sudah kita bicarakan nanti lagi."


Tutt.


Edo mematikan ponsel itu secara sepihak. Memang sudah kebiasaan nya bertingkah semaunya pada bawahan. Cih! benar-benar tak patut di contoh! Semoga saja sifat anaknya itu tak mirip dengan Edo.


"Panggilan dari siapa, sayang?" Elma menatap penasaran dengan gelagat suaminya. Tak biasanya Edo bersikap seperti ini sebelumnya. Benar-benar aneh! Kenapa tiba-tiba dia mematikan sambungan telepon setelah dia masuk?


Apakah se rahasia itu sampai-sampai Elma dibiarkan mendengar pembicaraan suaminya?


"Bukan siapa-siapa, sayang. Hanya Leo memberitahu sebuah pekerjaan."


Kecurigaan Elma semakin bertambah saat edo menjawab nya, padahal jelas-jelas sejak tadi Edo sedang mode ngambek dengan nya. Tapi ini? Tiba-tiba dia bersuara? Wah wah wah... patut dicurigai.


Nah kan ... belum apa-apa saja Elma sudah curiga, bagaimana jika seterusnya?


Padahal tadi memang Edo sudah berniat ingin memutus panggilan, lalu terhenti saat Elma memanggil nya. Astaga, apakah karena ini faktor ibu hamil yang bertambah posesif? Atau memang gelagat Edo yang harus dicurigai?


Entahlah, biarkan masalah ini bertambah besar seiring berjalannya waktu.


"Sayang, lihatlah ini. Aku membuat masakan kesukaan mu." Elma mengesampingkan kecurigaan nya dan lebih memilih mempercayai sang suami. Oleh karena itu, dia tetap berusaha menyenangkan sang suami dengan menunjukkan senyum merekah nya. Elma benar-benar tak sabar ingin segera melihat Edo mencicipi hasil masakan nya. Eh tidak-tidak! Bukan mencicipi tetapi memakan habis. Jika tidak mau, maka Elma akan menggunakan senjata pamungkas nya dengan menangis histeris hingga berguling-guling sampai Edo mau makan.


"Aku tidak lapar." Edo berucap dengan nada datar. Dia kembali ingat jika saat ini masih dalam mode ngambek. Bisa-bisa nya dia tadi kelupaan dan menjawab panggilan istri nya. Untung saja dia kembali mengingat nya.


"Sayang, tapi ini makanan kesukaan mu.." Suara Elma bahkan sudah terdengar bergetar, matanya berkaca-kaca. Jika satu kali lagi dia menyuruh makan dan Edo masih menolak, maka Elma benar-benar akan menangis kencang dengan mengguling-gulingkan badan.